Selasa, 10 April 2012

Yadnya

Yadnya


Yadnya bukan hanya Upacara Agama

Sreyaan dravyamayaad yadnyaaj.
Jnyanayadnyaah paramtapa.
Sarvam karmaakhilam paartha.
Jnyaane parsamaapyate
(Bhagavad Gita IV.33)

Maksudnya:
Lebih utama persembahan dengan Jnyana Yadnya daripada persembahan materi dalam wujud apa pun. Sebab, segala pekerjaan apa pun seharusnya berdasarkan ilmu pengetahuan suci (Jnyana)
.
ISTILAH Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya sangat luas. Umumnya yadnya diartikan sebagai sikap hidup yang ikhlas berkorban untuk kebenaran dan kesucian atau Satyam dan Siwam. Kebenaran dan kesucian itulah yang mewujudkan keharmonisan atau Sundharam. Dengan yadnya manusia meningkatkan kehidupannya yang semakin suci berdasarkan kebenaran
Salah satu wujud dari yadnya itu adalah melakukan upacara dan upakara. Kata upacara dalam bahasa Sansekerta artinya mendekat. Kata upakara artinya melayani dengan ramah tamah. Melakukan pendekatan dan pelayanan pada alam, masyarakat dan Tuhan tujuan dari upacara yadnya. Permasalahan masyarakat agraris tidak sekompleks masyarakat modern.
Veda disabdakan oleh Tuhan ke dunia ini untuk menuntun umat manusia mengatasi permasalahan hidupnya. Karena itu, melakukan yadnya dalam wujud upacara dan upakara dalam masyarakat modern semestinya sudah berbeda wujudnya. Namun, esensi tattwa atau kebenarannya yang diekspresikan tetap sama yaitu Satya dan Dharma inti sari Veda. Untuk memecahkan berbagai persoalan rumit yang dihadapi oleh umat manusia modern sangat dibutuhkan yadnya para Jnyanin atau ilmuwan yang berhati suci. Karena itu, wujud Jnyana Yadnya lebih dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kehidupan yang semakin rumit ini. Wujud yadnya dalam wujud fisik material dalam bentuk banten seharusnya dapat kita ambil dalam wujud yang kecil.
Hal itu sangat dibenarkan oleh sastra agama. Karena dalam setiap upacara agama menurut petunjuk sastranya selalu diberikan alternatif untuk memilih dalam wujud Nista, Madya dan Utama. Nista berasal dari kata sta artinya inti sari. Marilah kita buat banten dari bahan flora dan fauna yang inti-intinya saja.
Selebihnya kita lanjutkan dengan tindakan nyata untuk melestarikan flora dan fauna tersebut. Sebab, Manawa Dhamarsastra V.40 menyatakan bahwa penggunakan flora dan fauna dalam upacara agama adalah untuk melestarikan flora dan fauna tersebut. Karena dalam wujud yang benar dan serba kolosal akan banyak menyita sumber daya alam seperti flora dan fauna yang keberadaannya sudah semakin merana
Berdasarkan hiruk-pikuk kehidupan di bumi, termasuk juga di Bali ini sudah makin mendesak kita lebih mengutamakan Jnyana Yadnya daripada yadnya dalam wujud upacara yang serba kolosal. Jnyana sesungguhnya berarti kesadaran rohani yang timbul setelah mendalami ilmu pengetahuan suci. Yadnya dewasa ini seyogianya dalam wujudkan meningkatkan kesadaran rohani
Dari kesadaran rohani itu kita berbuat nyata untuk mengatasi kesenjangan sumber daya alam. Kurangi mengumbar asap yang mengandung CO2 ke udara. Hal itu akan dapat memperkecil efek rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global agar iklim kembali teratur.
Kembalikan luas dan fungsi hutan dari perusakan oleh manusia dan pengusaha yang rakus. Jangan merusak sungai dengan tidak membuang sampai sembarangan. Tegakan hak-hak rakyat dari manipulasi birokrasi dan politisi yang menyimpang. Kembangkan pendidikan dan latihan untuk membangun SDM yang bermoral, profesional dan sehat agar dapat berdedikasi secara optimal
Memegang jabatan di berbagai bidang juga suatu Jnyana Yadnya pada masyarakat. Hal-hal yang semacam inilah yang seharusnya kita lakukan sebagai wujud yadnya pada zaman Kali ini. Kegiatan beragama janganlah menjadi beban alam dan sosial. Kegiatan beragama yang banyak menyita waktu, tenaga dan dhana masyarakat di Bali justru tidak akan menjadikan Bali itu ajeg
Alam Bali menjadi merana. Apalagi di Bali lahan tidur masih luas karena tidak mendapat perhatian pemiliknya. SDM Bali kurang memiliki kesempatan merebut lapangan kerja yang ada. Mereka semakin terdesak oleh pendatang baru. Beragama hendaknya dapat diarahkan membina SDM yang memiliki militansi yang tinggi dalam artian fisik, moral dan kreativitas mengembangkan profesi.
Hidup di zaman Kali ini penuh persaingan. Kegiatan beragama hendaknya untuk membina SDM Bali siap bersaing secara sehat. Siap hidup dalam masyarakat yang fluraris dengan mengembangkan paradigma manajemen konflik yang benar. Artinya, setiap perbedaan yang berpotensi untuk menimbulkan konflik harus dikelola secara bijak
Manajemen konflik yang bijak adalah tidak mematikan perbedaan yang merupakan kenyataan sosial. Tetapi, tidak membiarkan perbedaan itu sampai menimbulkan konflik sosial. Inilah wujud Jnyana Yadnya yang seharusnya kita lakukan demi ajegnya Bali.
Upacara Panca Yadnya Dalam Kehidupan Beragama
Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.
Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.
Kerajaan ini bertempat di Jawa Timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan Patihnya bernama Gajah Mada


Pada jaman itu perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di Daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para Arya dari Kerajaan Majapahit sebagian besar hijrah ke Bali dan di Daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih memantapkan ajaran-ajaran Agama Hindu sampai sekarang.
Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam Falsafah Tri Hita Karana.

Arti kata Tri Hita Karana :

Tri artinya tiga
Hita artinya kehidupan
Karana artinya penyebab
Tri Hita Karana artinya : Tiga keharmonisan yang menyebabkan adanya kehidupan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.

Dalam pelaksanaannya tetap berlandaskan ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam kegiatan Upacara Keagamaan berpatokan pada Panca Yadnya.
Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa.
Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :
1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa.
2. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam.
3. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
4. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal.
5. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.

Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan Panca Yadnya secara simpel dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Upacara Dewa Yadnya
Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari Tuhan yang oleh umat Hindu di Bali menyebutnya Ida Sanghyang Widhi Wasa.


Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas.


Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan dan sinar-sinar suciNYA yang disebut dewa-dewi.

Adanya pemujaan kehadapan dewa-dewi atau para dewa karena beliau yang dianggap mempengaruhi dan mengatur gerak kehidupan di dunia ini.
Salah satu dari Upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Hari Raya Saraswati yaitu upacara suci yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan yang dilaksanakan setiap 210 hari yaitu pada hari Sabtu, yang dalam kalender Bali disebut Saniscara Umanis uku Watugunung, pemujaan ditujukan kehadapan Tuhan sebagai sumber Ilmu Pengetahuan dan dipersonifikasikan sebagai Wanita Cantik bertangan empat memegang wina (sejenis alat musik), genitri (semacam tasbih), pustaka lontar bertuliskan sastra ilmu pengetahuan di dalam kotak kecil, serta bunga teratai yang melambangkan kesucian.
2. Upacara Bhuta Yadnya
Bhuta artinya unsur-unsur alam, sedangkan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas.
Kata “Bhuta” sering dirangkaikan dengan kata “Kala” yang artinya “waktu” atau “energi” Bhuta Kala artinya unsur alam semesta dan kekuatannya.

Bhuta Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kehadapan Bhuta Kala yang tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Bhuta Kala dan memanfaatkan daya gunanya. Salah satu dari upacara Bhuta Yadnya adalah Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) menjelang Hari Raya Nyepi (Tahun Baru / Çaka / Kalender Bali).
Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) adalah upacara suci yang merupakan persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Bhuta-Kala agar terjalin hubungan yang harmonis dan bisa memberikan kekuatan kepada manusia dalam kehidupan.

3. Upacara Manusa Yadnya
Manusa artinya manusia

Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas.


Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan, pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Adapun beberapa upacara Manusa Yadnya adalah :

a. Upacara Bayi Lahir
Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya.
Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain :
• Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
• Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.

b. Upacara Tutug Kambuhan, Tutug Sambutan dan Upacara Mepetik.
Upacara Tutug Kambuhan (Upacara setelah bayi berumur 42 hari), merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dan kedua orang tuanya.
Penyucian kepada si Bayi dimohonkan di dapur, di sumur/tempat mengambil air dan di Merajan/Sanggah Kemulan (Tempat Suci Keluarga).
Upacara Tutug Sambutan (Upacara setelah bayi berumur 105 hari), adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan.


Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung/badong dan giwang/subeng, melobangi telinga.
Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya.
Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan.

Upacara Mepetik ini adalah merupakan rangkaian dari upacara Tutug Sambutan yang pelaksanaannya berupa 1 (satu) paket upacara dengan upacara Tutug Sambutan.


c. Upacara Perkawinan
Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :
- Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
- Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
- Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.

Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan(barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.
Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati "Pepegatan" ( Sarana Pemutusan ) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.


d. Upacara Pitra Yadnya (Ngaben )

Pitra artinya arwah manusia yang sudah meninggal. Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas.

Upacara Pitra Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dilaksanakan dengan tujuan untuk penyucian dan meralina ( kremasi) serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal menurut ajaran Agama Hindu.
Yang dimaksud dengan meralina (kremasi menurut Ajaran Agama Hindu) adalah merubah suatu wujud demikian rupa sehingga unsur-unsurnya kembali kepada asal semula.
Yang dimaksud dengan asal semula adalah asal manusia dari unsur pokok alam yang terdiri dari air, api, tanah, angin dan akasa.
Sebagai sarana penyucian digunakan air dan tirtha (air suci) sedangkan untuk pralina digunakan api pralina (api alat kremasi).
e. Upacara Rsi Yadnya
Rsi artinya orang suci sebagai rokhaniawan bagi masyarakat Umat Hindu di Bali.
Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas.


Upacara Resi Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas sebagai penghormatan serta pemujaan kepada para Resi yang telah memberi tuntunan hidup untuk menuju kebahagiaan lahir-bathin di dunia dan akhirat.

Demikian Upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Bali sampai sekarang yang mana semua aktifitas kehidupan sehari-hari masyakat Hindu di Bali selalu didasari atas Yadnya baik kegiatan dibidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, pertanian, keamanan dan industri semua berpedoman pada ajaran-ajaran Agama Hindu yang merupakan warisan dari para leluhur Hindu di Bali.
Panca Yadnya: Upacara tanpa Upakara
Konsep Panca Yadnya kalau dielaborasi -- digarap secara tekun dan cermat -- menggunakan metode empiris, bisa menjadi pengetahuan atau falsafah hidup yang mengajarkan hakikat keseimbangan. Harmonisasi dalam kehidupan ini akan terjadi jika manusia tidak saja memperhatikan dan mengutamakan diri sendiri tetapi juga yang berada di luar dirinya, yakni dewa, rsi, pitra, manusa, dan butha.
Perhatian dan pengutamaan itu dapat dilakukan dengan yadnya, yang diterjemahkan menjadi kurban suci. Namun kurban yang paling suci bukanlah mantram, melainkan filosofi nilai dan cita-cita yang terkandung di dalamnya. Bukan pula beraneka hewan persembahan, melainkan penghancuran sifat-sifat kebinatangan yang inheren pada diri setiap orang. Kurban suci yang terbaik adalah trikaya parisudha, sedangkan sesajen dengan segala renik-reniknya hanya sarana yang melekat padanya.
Akan tetapi dalam tradisi Bali, Panca Yadnya dimaknai bukan sebagai kurban suci melainkan persembahan sesaji melalui suatu upacara atas kelima unsur tersebut. Mereka berhenti sampai di situ, seolah-olah hanya dengan melangsungkan upacara persoalan kehidupan ini bisa dituntaskan begitu saja. Padahal upacara tanpa upakara tidak akan ada artinya, sama halnya dengan menghambur-hamburkan uang tanpa tujuan yang pasti.
Apacara dan upakara adalah saudara kandung, yang bagaikan dua sisi pada suatu mata uang, tak bisa dipisahkan begitu saja. Keduanya berasal dari bahasa Sansekerta. Upacara punya konotasi bukan hanya sebagai upacara, tetapi juga perhiasan atau tanda-tanda kebesaran kerajaan, dapat pula diartikan sebagai hadiah. Sedangkan upakara bermakna kedermawanan, bantuan, amal baik, perbuatan baik, dan sebagainya yang serba baik.
Dengan demikian upacara tanpa upakara akan menyebabkan segala sesuatu yang dipersembahkan kepada subsimtem Panca Yadnya itu tidak bermakna, menimbulkan upadrawa, kecelakaan dan penderitaan dan berakhir dengan upakrosa, penyesalan dan celaan. Contoh terbaik untuk menerangkan hal itu adalah konflik bahkan pertikaian yang terjadi pada saat piodalan baik di tingkat keluarga, banjar, desa adat, dan kahyangan jagat menunjukkan minimnya kesadaran umat Hindu melakukan upakriya, kewajiban berbuat baik, padahal inilah yang merupakan inti panca yadnya, sedangkan barang-barang persembahan hanyalah upakarana, perlengkapan belaka.
Berbuat baik kepada para dewa, Dewa Yadnya, tidak mesti harus diukur dari besar-kecil sarana upacara dan megah atau sederhananya pura, melainkan apakah yang bersangkutan mampu mengedepankan sikap para dewa, objektif, bebas dari kepentingan pribadi. Rsi Yadnya bukan pula hanya daksina, upah atau hadiah kepada para pendeta, tetapi penghargaan kepada dunia ilmu pengetahuan. Pitra Yadnya, bukan pula penghormatan kepada roh leluhur melalui upacara pengabenan, tetapi kesadaran akan pentingnya masa lampau untuk melangkah di masa kini. Manusa Yadnya, juga tidak semata-mata upacara siklus kehidupan -- lahir-hidup-mati -- tetapi juga upakara kemanusiaan, perikemanusiaan. Demikian dengan Bhuta Yadnya, bukan berarti hanya untuk bhuta kala melainkan mahluk hidup, segala yang berwujud dan berupa.
Bagaimana pun konsep panca yadnya hanyalah acuan yang wajib digunakan oleh umat untuk menjabarkan intisari ajaran Hindu yakni Panca Sradha, yang sudah tentu tak bisa diterapkan secara mutlak, mengingat di dalamnya ada relativitas sesuai dengan hukum rwabhineda: hitam putih, baik buruk, dan sebagainya. Agar kejahatan tidak mengalahkan kebaikkan, maka diperlukan tata tertib dan aturan, namun semua itu tak akan ada gunanya jika masih tetap mengutamakan upacara dengan mengabaikan upakara.
Ketidakseimbangan antara upacara dan upakara telah menjadi sebab dari berbagai akibat dan punya kecenderungan menghancurkan peradaban Bali. Selama ini upacara makiyis yang dilaksanakan setahun sekali terbukti tidak mampu membersihkan pikiran. Terbukti masih banyak orang oportunis mencuri kesempatan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara. Upacara tumpek bubuh tidak mampu menyelamatkan lingkungan. Upacara Pagerwesi, tak secara otomatis melindungi Bali dari para teroris.
Oleh karena itu, demi masa kini dan masa depan, konsep Panca Yadnya harus dielaborasi dengan terlebih dahulu melekatkan unsur upakara di dalamnya. Hal ini sangat penting, sebab Bali masa kini bukanlah Bali masa lampau yang homogen dan monoreligi. Bali sekarang sungguh kompleks. Begitu banyak permasalahan tumpang-tindih di dalamnya, yang bisa disebut sebagai dampak industrialisasi pariwisata dan modernisasi.
Di satu sisi dia telah melahirkan struktur masyarakat baru. Adanya sekelompok orang dengan tingkat keterampilan dan pendidikan yang lebih tinggi, yang dibarengi dengan munculnya peningkatkan kebutuhan dalam berbagai hal: kesadaran politik, harapan-harapan hidup, dan interaksi dengan dunia luar. Proses perubahan itu luput dari perhatian pemerintah, karena mereka lebih banyak disibukkan oleh kepentingan-kepentingan memerintah, bukan sebagai yang diperintah oleh asas-asas perikemanusiaan.
Keluputan itu tak boleh dibiarkan berkepanjangan, karena peningkatan laju industrialisasi dan modernisasi telah terbukti menimbulkan destabilisasi, yang dapat dilihat dari adanya disparitas pendapatan dan sosial di masyarakat. Mereka yang tersentuh langsung dengan industrialisasi cenderung lebih banyak menikmati hasil daripada yang tak langsung, sehingga terjadi ketimpangan sektor pertanian mensubsidi perindustrian dalam skala luas.
Terjadi ketidakseimbangan antara kota (pusat-pusat pariwisata) dengan daerah luar kota, daerah dengan daerah, antara sektor-sektor modern dan tradisional, sektor-sektor asing dan domestik. Hal itu sudah mengancam keseimbangan-keseimbangan sosial, yakni terjadinya urbanisasi dan mobilitas secara besar-besaran, sehingga isolasi tradisional yang sebelumnya begitu kuat mengingat Bali terlepas karena tak kuat menghadapi laju transportasi dan media massa. Dengan demikian, muncullah kelompok yang berada pada kedudukan yang lebih baik untuk memanfaatkan kemajuan industrialisasi dan yang berada pada kedudukan lebih buruk. Ketidakseimbangan ini padanya akhirnya akan mengakibatkan keterasingan dan sejumlah masalah sosial.
Hal seperti itu mungkin dapat dicegah paling tidak dikurangi eksesnya dengan melakukan yadnya yang telah dimodifikasi pengertiannya. Orang-orang yang kebetulan berada pada kedudukan yang lebih baik harus mampu dan bersedia membantu pemerintah dalam hal penjabaran Panca Yadnya: menciptakan ruang dan kesempatan sebanyak mungkin untuk melakukan yoga, semadi, dan meditasi; membantu dalam hal pendidikan dan penelitian dalam berbagai bidang sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Mensosialisasikan nilai, cita-cita dan simbol ekspresif masa lampau yang dianggap relevan untuk masa kini; menjaga memupuk sebaik mungkin sumber kehihupan manusia, terutama dengan terus-menerus meningkatkan sumber daya; dan menjaga serta melestarikan alam lingkungan hidup.
Pemerintah melalui kewenangannya tentu hanya menunggu bantuan tetapi wajib juga melaksanakan semua itu, pertama-tama dalam lingkungannnya sendiri, karena hanya dari pejabat yang punya kesadaran perikemanusiaan yang mampu memimpin negeri ini menjadi lebih baik. Hindu yang berdasarkan pengalaman terutama yang dari penemuan dan pengamatan terhadap realitas sosial. 

.........oo0oo........





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar