Senin, 26 Agustus 2013

Babad Arya Kenceng Tegehkuri



Babad
Arya Kenceng Tegehkuri

Sejarah adalah guru Agung yang mampu membimbing kita ke arah kemajuan. Apalagi sejarah dari leluhur yang sukses dalam hidupnya. Demikian yang dicatat oleh sejarah Putra Dalem Bali, Tegeh kuri Arya Kenceng berhasil mendirikan kerajaan Badung dan menjadi raja pertama, bukan karena keturunan namun karena usaha dan jering payahnya sendiri.
Semangat ini patut menjadi suri teladan bagi warih Beliau (keturunan Beliau) pun baik bagi siapapun yang terinspirasi untuk membaca dan menemukan manfaat di dalamnya.
Sembah sujud hamba kehadapan Ida Sanghyang Parama Kawi dan para leluhur (dewata-dewati), yang telah menganugrahkan ketentraman sehingga terwujud tujuan hamba untuk menerbitkan tentang sejarah Arya Kenceng Tegeh Kori, agar segala kesalahan dan kekeliruan hamba diampuni, sehingga tidak kena Upadrawa (kutukan) beliau yang telah suci.
Dikisahkan dalam sejarah Pulau Bali pada akhir abad ke XIV berdirilah di sebelah barat sungai Ayung pada hulu daerah utara desa Tonjaya (sekarang desa Tonja) sebuah kerajaan yang sangat megah.
Bila diperhatikan menurut pandangan kemegahan dan pengaturan puri maupun wibawa kerajaan ini, semuanya mencerminkan gaya keagungan ksatriaan Majapahit.
Tata letak dan tata cipta bangunan-bangunannya yang sedemikian serasi, tata perhiasan dan dekorasi maupun tata pertamanannya keseluruhan sangat menarik dan mengesankan serta menimbulkan khayalan seolah-olah berada di dunia yang lain, di dunia pedewataan dengan istana-istana yang serba mewah dan serba gemerlapan. Dengan sepintas pandang para pengamat akan cepat mendapat kesan bahwa yang bersemayam dalam istana ini ada pertalian dengan para ratu dan para ksatria di majapahit.
Balai bengongnya yang sengaja di dekorasi dan dilengkapi sangat mewahnya membuat penonton tak jemu-jemunya memandang. Menara (balai) kulkul yang berdiri di sudut lainnya tidak kalah indahnya.
Di samping keindahan puri ini ada lagi sesuatu kelebihan yang patut dicatat melebihi keadaan puri-puri lainnya, yaitu puri disebelah hulunya diapit dengan dua pura yang besar dan tidak kalah megahnya dengan puri itu sendiri. Tatanan puri tersebut tidak terdapat pada puri-puri di kerajaan lain. Selain dua pura tersebut, pura-pura kahyangan tiga dan pura-pura umum maupun kawitan sangat mendapat perhatian dari kerajaan. Sebuah dari para parahyangan yang mengapit huluan puri terletak di timur laut puri di pinggir sungai Ayung. Parahyangan ini mencerminkan pemujaan pada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), seru sekalian alam, dalam manifestasinya di puja sebagai Bhatara Toh Langkir di Puncak Gunung Agung. Yang sebuah lagi berdiri di sebelah barat daya puri, Parahyangan tersebut mencerminkan pemujaan kehadapan Bhatara di gunung Batur.
Parahyangan ini lazim disebut Pura Dalem Arya Tegeh Kuri Benculuk. Pura ini berdiri sebagai pengemong puri, raja dan rakyatnya. Ibu kota kerajaan disebut Benculuk, melambangkan nama dari pada masa kanak-kanak pernah dididik, diasuh, dipelihara, dibesarkan dan mendapat kasih sayang, yaitu di desa Buahan. Buahan=Jambe=Pucangan=Benculuk=Peji, dsb.
Sang Prabu bergelar Sira Arya Kenceng Tegehkuri itu suatu pertanda seorang Putra Dalem yang diberikan kepada Sira Arya Kenceng sebagai putra angkat beliau.
Negaranya disebut negara Badung dalam lingkungan kekuasaan Sri Aji Dalem Samprangan ataupun Gelgel (Sri Kresna Kepakisan) maupun para turunan Dalem Gelgel.
Sejarah kisah asal-usul Sang Prabu bersumber pada sejarah para leluhur para ksatria dan para ratu Majapahit di Jawa yang kisahnya di tuturkan berikut ini:
Alkisah, maka tersebutlah dalam sejarah, Maha Prabu Airlangga yang bertahta di Kediri-Panjalu pada tahun 1010 sampai tahun 1042 Baginda Maha Prabu Airlangga mempunyai tiga orang putra: Putri Baginda bernama Dyah Kili Suci atau Endang Suci disebut pula Rara Kapucangan. Putri Kili Suci yang lahir dari permaisuri baginda tidak bersedia menjadi putra mahkota menggantikan baginda ayahnya, karena beliau tidak menginginkan kekuasaan dan kewibawaan, tidak ingin bersuami dan menjalankan kehidupan orang biasa, melainkan beliau ingin menjalankan kehidupan sebagai seorang petapa di dalam hutan.
Tekad dan keputusan Putri Kili Suci ini membawa akibat bahwa kerajaan Daha-Panjalu kemudian terbagi menjadi dua buah kerajaan masing-masing dipinpin oleh putra-putra Maharaja Airlangga yang lahir bukan dari permaisuri raja. Putra laki-laki baginda itu bernama Jayabaya dinobatkan menjadi raja kerajaan Daha bertahta di Kediri Penjalu dan menurunkan para ksatria Kediri Daha, antara lain Sri Dandang Gendis dan terakhir Jayakatwang. Adapun Jayasaba dinobatkan di Jenggala bertahta di Kahuripan. Baginda Sri Jayasaba inilah menurunkan para ksatria Kahuripan, setelah beberapa keturunan tersebut berkembang, termasuk enam orang bersaudara yang mejadi awal dari tokoh yang akan diceritakan dalam sejarah selanjutnya. Enam ksatria bersaudara dimaksud ialah:
  1. Rahadian Cakradara adalah seorang yang sangat cerdas baik budi bahasanya, memiliki keahlian yang utama, pradnyan, cakap, sulaksana, paham akan tatwa-tatwa, teguh imannya, gagah berani dan tangkas dalam perang. Beliau itulah terpilih menjadi suami Baginda Maharaja Dewi Bhrawilwatikta III dalam swayambara. Sesudahnya dilangsungkan pernikahan pada tahun 1329, baginda bergelar Sri Karta Wardana. Beliau adalah ayahanda Baginda Maharaja Hayam Wuruk yang termasyur, memerintah dari tahun 1334 (bayi) sampai 1350-1389 (Hayam Wuruk dinobatkan raja sejak lahir diwakili ibundanya yang bertahta mulai tahun 1329-1334.
  2. Adik Baginda banyak mempunyai nama, antara lain: Sira Arya Damar, Sira Arya Teja, Rahadian Dilah, Kyai Nala. Dalam bidang pemerintahan di Kerajaan Majapahit, beliau berpangkat Diaksa. Kata-kata beliau sangat bertuah, gagah berani sebagai kesari. Beliau kemudian ditempatkan sebagai Prabu (Adhipati) di Palembang (Kerajaan Sriwijaya). Setelah kembali dari tugasnya turut menaklukkan Patih Pasung Grigis, mengikuti Maha Patih Gajah Mada ke Bali tahun 1343. Pada penyerbuan ke Bali Patih Gajah Mada turun di Tianyar dengan pasukannya. Sri Arya Damar, disertai adiknya Sira Arya Kutawaringin, dengan pasukannya turun dari Ularan (di Bali Utara).
  3. Adik Baginda yang kedua (nomor tiga bersaudara) bernama Sira Arya Kenceng. Beliau termasyur dalam pemikiran dan pertimbangannya (wirarasan), gagah berani sebagai wiagra. Turut dalam penyerbuan ke Bali membantu Maha Patih Gajah Mada menaklukkan Patih Pasung Grigis pada tahun 1343. Beliau disertai dua orang adik-adik beliau Sira Arya Sentong dan Sira Arya Belog, mendarat di Kuta.
  4. Adik Baginda yang ketiga bernama Sira Arya Kutawaringin
  5. Adik Beliau yang keempat bernama Sira Arya Sentong.
  6. Adik Beliau yang paling bungsu bernama Sira Arya Tan Wikan alias Arya Belog.
Dikisahkan kemudian penyerbuan Mahapatih Gajah Mada disertai para Arya ke Bali pada tahun 1343 berhasil baik dengan kemenangan Patih Gajah Mada. Patih Pasung Grigis menyerah di tawan dan diajak ke Majapahit. Sebagai Sang Prabu di Bali ditunjuk dan didudukan Sri Kresna Kepakisan, bergelar Dalem Samprangan, berkedudukan (istana) di Samprangan di sebelah timur tukad Cangkir di Gianyar searang (waktu itu kota Gianyar belum ada). Dalam Samprangan bertahta dari tahun 1350-1380. Para Arya dari Majapahit yang menyertai Sri Kresna Kepakisan ke Bali ada 10 orang yaitu:

  1. Arya Kenceng: kemudian bersentanakan Ngurah Tabanan dan Arya Kenceng Tegeh Kori. Beliau diberi kekuasaan di Tabanan dengan tugas kewajiban mengamankan, mengemong dan mengembangkan wilayah tersebut di beri pengiring (rakyat) sebanyak 40.000 orang.
  2. Arya Sentong: kemudian bersentanakan Pacung Carangsari dsb. Diberikan kekuasaan sama seperti Arya Kenceng, bertempat tinggal di wilayah Pacung diberi pengikut (rakyat) sebanyak 10.000 orang.
  3. Arya Kutawaringin: kemudian berstanakan di Kubon Tubuh. Tugas sama dengan pertama dan kedua di atas bertempat di Gelgel dan dengan pengiring (rakyat) sebanyak 5000 orang.
  4. Arya Tan Wikan (Arya Belog); kemudian berstanakan di Kaba-Kaba. Beringkit, tugas sama dengan nomor satu, dua dan tiga diatas bertempat di Kaba-Kaba dengan pengiring (rakyat) sebanyak 5000 orang
  5. Arya Kanuruhan: berstanakan di Pegatepan, Brangsinga. Tugas sama dengan 1-4 di atas.
  6. Arya Manguri: berstanakan di Dauh Bale Agung Penulisan, Pengalasan, tugas sama dengan 1-5 diatas dan diberi pengiring secukupnya.
  7. Arya Pengalasan: berstanakan di Cemeng Gawon. Tugas sama dengan 1-6 diatas diberi rakyat sama.
  8. Arya Wang Bang: berstanakan Pering Cagaan, Sukaet, Toh Jiwo, Penataran. Tugas sama dengan 1-7
  9. Arya De Laneang; berstanakan di Kapal. Tugas sama dengan para Arya di atas.
  10. Sira Wang Bang; berstanakan di Pina. Tugas sama dengan para Arya di atas.
Setiba di Bali membangun Puri di Samprangan mengikuti cara pembangunan istana di Majapahit.
Setelah Ida Dalem berada di Bali datang lagi menyusul memperkokoh pertahanan dan keamanan pemerintahan Dalem:
  1. Arya Gajah Para ditempatkan di Tianyar dengan tugas sama dengan para Arya tersebut di atas. Arya Gajah Para kedatangannya ke Bali disertai tiga orang Wesya bersaudara:
  2. Tan Kober, ditempatkan di Pacung
  3. Tan Kawur, ditempatkan di Abiansemal
  4. Tan Mundur, ditempatkan di Cacahan.
Arya Gajah Para ditempatkan di Tianyar dengan tugas sama dengan para arya tersebut di atas.
Diceritakan dalam sejarah bahwa setelah beberapa tahun lamanya Sri Aji Dalem Samprangan memegang tali pemerintahan di pulau Bali, mulai nampak keamanan dan ketentraman serta kegairahan rakyat pulau Bali berangsur-angsur mendapat kemajuan yang pesat. Jalannya pemerintahan mulai tambah lancar dan sangat teratur, hubungan antara bagian-bagian wilayah di Bali lancar dan aman serta kemakmuran rakyat mulai nampak dan dapat dirasakan oleh rakyat banyak.
Diceritakan bahwa Sri Aji Dalem Bali mempunyai permaisuri seorang putri Brahmani. Demikian juga halnya dengan Sira Arya Kenceng. Beliau juga beristrikan putri Brahmani, yaitu seorang putri adik kandung dari permaisuri Sri Aji Dalem. Dengan demikian maka Sri Arya Dalem jelas masih kakak ipar dari Arya Kenceng. Sira Arya Kenceng menjadi pejabat kerajaan yang tertinggi, merupakan pejabat yang terkemuka dalam pemerintahan Sri Aji Dalem. Karena demikian halnya, maka hubungan Sira Arya Kenceng, di luar maupun di dalam tugas kerajaan, adalah sangat dekat dengan Sri Aji Dalem, selaku pejabat tertinggi dan selaku kakak ipar.
Pada suatu hari Sira Arya Kenceng dianggap melakukan suatu kesalahan ingin menyamai kedudukan Sri Aji Dalem, karena berpakaian menyerupai Sri Aji Dalem (bersumpang sekar cempaka putih mebalut sekar sandat warna hijau, sekilas serupa dengan kembang cempaka wilis hijau yang hanya boleh dipakai oleh Sri Aji Dalem) ditambah difitnah oleh  Pejabat yang lain yang menuduh Sira Arya Kenceng memasang guna-guna dan pengeger  agar bisa disayang oleh Dalem dan Dalem tunduk pada Sira Arya Kenceng.
Beliau di hukum oleh Sri Aji Dalem, dari pajabat tertinggi menjadi pejabat terendah di dalam istana, yaitu menjadi kepala kebersihan seluruh bangunan dan halaman maupun pertamanan istana.
Tidak terkira rasasanya pedih dan sedih serta sakit hati Sira Arya Kenceng mengenang nasibnya difitnah dan harus mengalami hukuman sehina ini tanpa dosa apapun, namun Beliau tidak merasa putus asa untuk bisa kembali ke kedudukannya. “Hanya percobaan Hyang semata-mata” pikir Beliau. Beliau yakin akan keadilan Hyang. Dan pada suatu saat Beliau pasti bisa kembali pada kedudukan semula.
Dalam melaksanakan tugas sehari-hari berkeliling istana Beliau bisa bertemu dan beramah-tamah dengan seluruh penghuni istana maupun para abdi istana, cepat berkenalan dan bergaul dengan bebas kepada para putra-putri Baginda Dalem maupun para pengasuh serta semua para bawahan istana lainnya dengan sangat akrab. Dalam keadaan beginilah beliau selalu ingat dengan putranya sendiri yang berada jauh dari Buahan Tabanan, yang sangat gelisah menunggu kedatangan ayahnya.
Diceritakan dalam sejarah bahwa Sri Aji Dalem Bali pada saat itu mempunyai beberapa orang putra diantaranya ada yang baru berumur sekitar satu tahun, baru sedang lincah-lincahnya merangkak. Putra Beliau ini merupakan putra kesayangan Dalem yang sering digendong dan ditimang-timang oleh Dalem sendiri. Pengasuh putra Dalem, maupun para abdi lainnya juga teramat sayang pada putra Beliau.
Maklum pura siapa sebenarnya Sira Arya Kenceng kepala petugas kebersihan istana itu. Mereka masih tetap hormat, segan dan Bhakti padanya. Seringkali Putra Dalem berada dekat dan ditimang-timang Sira Arya Kenceng. Sang Putra Raja ternyata sangat senang berada dekat pada Sira Arya Kenceng. Sira Arya Kenceng sering bercanda dan ngemong Putra Dalem ini. Hal ini menyebabkan bahwa putra lambat laun menjadi sangat senang berada pada Sira Arya Kenceng dan menjadi sangat akrab “Ngikut”, senang dan tidak takut lagi pada Sira Arya Kenceng. Sang raja putra malah sangat gembira bila berada dekat pada Sira Arya Kenceng (yang sedang di hukum).
Pengasuh raja Putra itu sering juga mengajak sang putra bermain di dekat ataupun memasuki balairung itu bila tempat ini sedang dalam keadaan kosong, agaknya sang Raja Putra sudah biasa diajak naik turun, keluar masuk gedung balairung itu.
Dalam keadaan terhukum seperti keadaan Beliau sekarang ini Sira Arya Kenceng tiada hentinya berfikir untuk menemukan jalan keluar secara terhormat bisa bebas dari hukuman dan fitnahan ini. Tuhan selalu menyertainya. Akhirnya  Sira Aya Kenceng menemukan sesuatu jalan dan akal melalui kesempatan baik untuk menolong dirinya dari belenggu hukuman itu.
Jalan keluarnya sebagai berikut: pada suatu persidangan Sri Aji Dalem sedang duduk dihadap oleh para mentri dan semua abdi negara. Sang Raja putra yang masih kecil asyik bermain di belakang balairung ditemani oleh sang pengasuh dan Sira Arya Kenceng kala-kala sedang menjalani hukuman. Pada kesempatan ini Sang Raja Putra dinaikkan oleh Sira Arya Kenceng di atas dataran dari belakang balairung, di belakang tempat duduk Baginda Sri Aji Dalem. Melihat baginda maka Sang Raja Putra gembira merangkak dari belakang Dalem dan naik di atas bahu Sri Aji Dalem, serta terus meraba bahu Ida Sri Aji Dalem. Dalem jadi sangat terkejut yang tidak kepalang.
Dalam keadaan sidang yang geger karena Sri Aji Dalem terkejut Sira Arya Kenceng berlari mendekat dan menghampiri Sri Dalem dan Sang Raja Putra serta mengangkat dan melepaskan sang Raja Putra dari bahu Baginda Sri Dalem dengan ucapan mohon ampun permisi, katanya, “Ngelungsur pengampura, nunas nugraha ping banget Sri Dalem” Sri Aji Dalem “nyonget” ke atas belakang (inggil ungkur). Sri Dalem bersabda dengan nada agak kesal pada Sira Arya Kenceng yang duduk dalam sikap sujud duduk di belakang agak jauh, “Pinter benar rayi Arya membuat intrik-intrikan, Putraku telah mengambil dan memegang bahuku. Putraku telah berbuat dosa tata krama. Menurut tata krama yang tersebut dalam lontar: “Lontar Raja Niti Sang Pandita” disebutkan bahwa tat kala Sang Nata telah berbusana kebesaran ratu, sang putra yang manapun tidak boleh gegabah, sengaja maupun tidak sengaja memegang ayahanda prabu sampai ke bahu, itu disebut “Rarebangeran”.
Setelah sejenak mengenang putra baginda, Ida Sri Aji Dalem bersabda lagi pada Sira Arya Kenceng,
“ Nah Rayi Arya Kenceng, ini mungkin titah kehendak Hyang Widhi, aku tidak boleh menolak keputusan Hyang ini. Aku terima dengan ikhlas dan tulus hati keputusan Hyang Widhi ini. Putraku telah berbuat dosa. Telah menjadi kehendak Hyang Widhi bahwa putraku harus menjadi putra rayi Arya. Putraku harus berpisah dariku. Kakang merelakan dengan segala keikhlasan hatiku pada rayi, untuk mengambil putraku ini menjadi putra rayi Arya. Ambilah dia sebagai putra rayi dan bawalah dia ke Buahan sebagai anak angkat. “
Desa Buahan (kota Tabanan saat itu belum ada, kata Tabanan hanya baru menjadi nama wilayah. Ibu kota yang sekarang bernama Tabanan dulukala bernama Singasana Natha Tabanan untuk kota baru dipakai jauh kemudian: tempat istana Sira Arya Kenceng berada di Buahan, kini 3 km dari kota Tabanan. (Bersambung)

Tutur Sayukti

Seorang teman titip pesan pagi ini
Ada seorang murid bertanya pada gurunya, apakah yang paling membingungkan di dunia ini, dijawab oleh gurunya, Manusia...
Karena mereka banyak yang rela mengorbankan kesehatannya demi uang, lalu ia mengorbankan uangnya demi kesehatan.
Banyak yang sangat khawatir dengan masa depannya, sampai dia tidak pernah menikmati masa kini, akhirnya dia tidak mampu hidup di masa depan atau masa kini.
dia hidup seakan-akan tidak akan mati, lalu dia mati tanpa benar-benar menikmati kehidupan.
jangan sombong karena kedudukan dan kekayaan
jangan rendah diri karena miskin dan hina
bukankah kita hanya tamu, dan apa yang kita punya adalah titipan?
tetaplah rendah hati seberapa tinggi kedudukan kita
tetaplah percaya diri seberapapun kekurangan yang kita miliki
karena kita lahir tanpa apa-apa dan kembalipun seperti itu
hanya pahala kebajikan atau dosa kejahatan yang dapat kita bawaDatang ditemani tangis, pergi ditemani tangis
maka tetaplah bersyukur
Hiduplah disaat benar-benar ada dan nyata, yaitu saat ini, bukan dari bayang-bayang masa lalu atau mencemaskan masa datang yang belum lagi tiba

(catatan dari sela pohon jati Giriya Gunung Payangan, 22 Agustus 2013)

Selasa, 16 Juli 2013

Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu (1) Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)




Pokok-pokok Keimanan Agama Hindu

(1) Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)
Sesungguhnya, setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini, bertitik tolak kepada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya Tuhan itu dan berlaku secara alami. Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini, menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Semuanya itu pasti ada sebab- musababnya, dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini, Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada.
Kendati kita tidak boleh cepat-cepat percaya kepada sesuatu, namun percaya itu penting dalam kehidupan ini. Banyak sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah berdasarkan kepercayaan saja. Setiap hari kita mneyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan teratur. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. Adanya pergantian siang menjadi malam, adanya kelahiran, usia tua, dan kematian, semuanya ini mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini.

Karena agama itu adalah kepercayaan, maka dengan agama pula kita akan merasa mempunyai suatu pegangan iman yang menambatkan kita pada satu pegangan yang kokoh. Pegangan itu tiada lain adalah Tuhan, yang merupakan sumber dari semua yang ada dan yang terjadi. Kepada-Nya-lah kita memasrahkan diri, karena tidak ada tempat lain dari pada-Nya tempat kita kembali. Keimanan kepada Tuhan ini merupakan dasar kepercayaan agama Hindu. Inilah yang menjadi pokok-pokok keimanan agama Hindu.

Adapun pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dapat dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sraddha, yaitu percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi), percaya adalanya Atman, percaya adanya Hukum Karma Phala, percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/Samsara) dan percaya adanya Moksa.

Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)

Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. Didalam Weda (Bhagavad Gita), Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini, sebagai berikut:

    Etadyonini bhutani     sarvani ty upadharaya
    aham kristnasya jagatah
    prabhavah pralayas tatha. (BG. VII.6)
Ketahuilah, bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti.

    Aham atma gudakesa
    sarva bhutasaya sthitah
    aham adis cha madhyam cha
    bhutanam anta eva cha. (BG.X.20)
Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.

    yach cha pi sarvabhutanam
    bijam tad aham arjuna
    na tad asti vina syan
    maya bhutam characharam. (BG. X.39)
Dan selanjutnya apapun, oh Arjuna, aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.

Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata", namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut:

    "Bhatara Ciwa sira wyapaka
    sira suksma tan keneng angen-angen
    sarvani ty upadharaya
    aham kristnasya jagatah
    prabhavah pralayas tatha. (BG. VII.6)
Ketahuilah, bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti.

    Aham atma gudakesa
    sarva bhutasaya sthitah
    aham adis cha madhyam cha
    bhutanam anta eva cha. (BG.X.20)
Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.

    yach cha pi sarvabhutanam
    bijam tad aham arjuna
    na tad asti vina syan
    maya bhutam characharam. (BG. X.39)
Dan selanjutnya apapun, oh Arjuna, aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.

Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata", namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut:

    "Bhatara Ciwa sira wyapaka
    sira suksma tan keneng angen-angen
kadiang ganing akasa tan kagrahita
    dening manah muang indriya".
Artinya:
Tuhan (Ciwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether), dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya.

Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.

    "Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat,
    sa bhumim visato vrtva tyatistad dasangulam". (Rg Veda X.90.1)
Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, Ia memenuhi bumi-bumi pada semua arah, mengatasi kesepuluh penjuru.

Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepa_Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati, bagaikan garam dalam air. Ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu, kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul.

    Eko devas sarva-bhutesu gudhas
    sarva vyapi sarwa bhutantar-atma
    karmadyajsas sarvabhutadhivasas
    saksi ceta kevalo nirgunasca. (Svet. Up. VI.11)
Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.

    Yas tisthati carati yasca vancanti
    Yo nilayam carati yah pratamkam
    dvatu samnisadya yanmantrayete
    raja tad veda varunas trtiyah (A.W. IV.16.2)
Siapapun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapaun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah uyang ketiga hadir di sana.

Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.

Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.

    Yoccitdapo mahina paryapacyad
    daksam dadhana janayantiryajnam
    Yo deweswadhi dewa eka asit
    kasmai dewaya hawisa widhema. (R.W.X.121.8)
Siapakah yang akan kami puja dengan segala persembahan ini? Ia Yang Maha Suci yang kebesaran-Nya mengatasi semua yang ada, yang memberi kekuatan spiritual dan yang membangkitkan kebaktian, Tuhan yang berkuasa. Ia yang satu itu, Tuhan di atas semua.

    ya etam devam ekavrtam veda
    na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate,
    na pancamo  na sasthah saptamo napyucyate,
    nasthamo na navamo dasamo napyucyate,
    sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na,
    tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva,
    sarve asmin deva ekavrto bhavanti. (A.V.XIII.4)
Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat Ia dipanggil. Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, Ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan Ia dipanggil. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. Ia hanya tunggal belaka. Padanya semua dewa hanya satu saja.

Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.

    "Ekam eva advityam Brahma" (Ch.U.IV.2.1)
Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

    "Eko Narayanad na dvityo "Sti kaccit" (Weda Sanggraha)
Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.

    "Bhineka Tungal Ika, tan hana Darma mangrwa" (Lontar Sutasoma)
Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua.
    "Idam mitram Varunam
    agnim ahur atho
    divyah sa suparno garutman
    Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim
    yamam matarisvanam ahuh. (R.W.I. 1964.46)
Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Itu (Tuhan), sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama Matarisvam.

Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

Pokok-Pokok Keimanan dalam Agama Hindu:
1.  Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)
2.  Percaya adanya Atman
3.  Percaya adanya Hukum Karma Phala
4.  Percaya adanya Punarbhawa/Reinkarnasi/Samsara
5.  Percaya adanya Moksa

Tuntunan Dasar Agama Hindu (milik Depag)