Sabtu, 23 November 2019

DHARMA WARNANA PURA DALEM CELUK


BAB III
DESA ADAT CELUK
WILAYAH, PENDUDUK DAN ORGANISASI ADAT
III.1. Wilayah dan Penduduk Desa Adat Celuk.
Suatu tempat untuk melakukan pertemuan baik bagi pengurus desa maupun bersama-sama warga desa. Untuk tempat pertemuan desa, warga desa atau Krama Desa memilih tempat di tengah-tengah dari wilayah pemukiman warga desa.
 
Peta Batas Wilayah Desa Adat Celuk
 
Peta Letak Pura Dalem Desa Adat Celuk
Pusat desa yang memiliki multi fungsi ini, berkembang menjadi Tempat suci yang disebut “Pura Desa atau Pura Bale Agung”, sebagai tempat melakukan pertemuan. V.E Korn menggambarkan Pura ini sebagai “The Sacral Men’s House”. Desa Adat Celuk awalnya adalah bagian dari wilayah Desa Sangsi yang kemudian berpisah dan membentuk Desa Adat sendiri. Desa Adat Celuk adalah satu kesatuan dengan Banjar Adat dan Banjar Dinas, yang dibagi menjadi 6 Kesinoman yaitu : Sinoman Majalangu, Sinoman Maspahit, Sinoman Panji, Sinoman Pekandelan, Sinoman Galuh, dan Sinoman Mantri . Wilayah Desa Adat Celuk mempunyai batas wiiayah sebagai berikut, Batas wilayah timur Desa Adat Tangsub, batas wilayah selatan areal persawahan Subak Tangsub, batas wilayah barat Banjar  Tegaltamu, dan batas wilayah utara Desa Adat Apuan atau Tukad Wos. Secara Astronomis, Desa Celuk berada pada kordinat 08035.28. - 08036.27 Lintang Selatan dan 115015.57-115016.57 Bujur Timur. Terletak dijarak 16 Km arah barat daya dari kota Gianyar. Menurut data Profile Desa, Luas wilayah Desa Celuk 2,28 M2, terdiri dari tanah Regosol Coklat Kekuningan, yang bahan induknya berasal dari Abu dan Tufavolkan Intermedier. Fisiografis Desa Celuk adalah daerah Fan Volkan dengan kontur wilayah landai dengan kemiringan lereng 0-2% dengan ketinggian 250 Meter Diatas Permukaan Laut atau MDPL. Secara administrasi pemerintahan dinas, Desa Adat Celuk Bersama dengan Desa Adat Tangsub dan Desa Adat Camenggaon berada dibawah Desa Dinas Celuk yang merupakan salah satu dari 12 Desa dinas di wilayah Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Warga Desa Adat Celuk sebagai makhluk sosial sangat menyadari bahwa hidup harus senantiasa didasari oleh rasa saling menghargai dan bertanggung jawab. Awig-awig Desa Adat dibuat untuk mengatur dengan jelas batasan hubungan antara kehidupan sosial masing-masing warga Desa Adat Celuk. Tercatat Jumlah Penduduk di Banjar Dinas Celuk ada 2197 orang dengan jumlah kepala keluarga  ada 499 kepala keluarga yang terdiri dari 1071 orang laki laki dan 1126 orang perempuan. Sedangkan Jumlah Krama Desa Adat Celuk ada 427 kepala keluarga.
III.2.       Organisasi Adat dan Dinas.
Para Juru Desa Adat dibentuk sebagai pemimpin Desa Adat dalam mengatur krama adat agar tidak sampai melanggar isi dari setiap sargah di Awig-awig Desa Adat Celuk. Para Juru Adat Celuk terdiri dari Para Juru Gede, antara lain. Sabha dan Kertha Desa diatur oleh pengurus dengan Kelihan dijabat oleh I Wayan Ratim, Petajuh dijabat oleh I Wayan Suwetha dan Penyarikan juga Artharaksa dijabat oleh I Made Wira Widiana. Kertha Desa bertugas membantu prajuru Desa Adat Celuk dalam menyelesaikan perkara adat, sedangkan Sabha Desa bertugas membantu Prajuru Desa Adat Celuk dalam hal merencanakan dan menyelesaikan permasalahan di luar perkara adat. Badan ini sangat penting dalan struktur organisasi sebuah Desa Adat sebagai badan pertimbangan Desa Adat sekaligus sebagai perwakilan masyarakat Desa Adat yang mengakomodir segala macam permasalahan yang menyangkut adat.  Desa Adat diatur dengan tegas Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Pasal 1 angka 47 disebutkan “Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lam, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak Asal-usul dan / atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.” diperkuat dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Desa Pakraman pasal 1 angka 4 dijelaskan tentang Desa Pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga atau kahyangan desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Tercatat ada 8 orang yang pernah menjabat sebagai Bendesa Adat Celuk sejak tahun 1999 sampai dengan 2018. Adapun nama Namanya adalah sebagai berikut, tersusun sesuai dengan urutannya dari tahun 1999 yaitu : I Wayan Suwetha, I Nyoman Suru, I Wayan Wijaya, Alm. I Nyoman Karang (Alm. Jro Mangku Dalem Karang), I Wayan Ratim, I Made Bagiada, I Made Suarsana dan I Nyoman Landra. Saat ini Bendesa Adat Celuk dijabat oleh Ir. Kadek Anom Asta Brata, dibantu oleh Artaraksa atau Bendahara I Komang Widiana, S.E. dan Penyarikan atau Penyarikan atau Sekretaris dijabat oleh I Kadek Mustika, SE.  Para Juru Banjar Dinas dan Banjar Adat Celuk masing-masing: Kelihan Dinas dijabat oleh I Wayan Agus Suarnaya, S.Kom. Kelihan Adat dijabat oleh I Ketut Mataram, Artaraksa Banjar Adat dijabat oleh Ir. I Wayan Gede Antara, Penyarikan dijabat oleh Drs. I Made Suastika. Para Juru Banjar Adat dan Dinas Celuk bertugas untuk melayani keperluan administrasi Krama Banjar Celuk secara dinas maupun secara adat. Selain Pengurus Para Juru Pokok, Desa Adat Celuk juga menaungi organisasi adat antara lain:
III.2.1.   Pecalang Desa Adat Celuk
Pecalang Desa Adat Celuk dengan jumlah 14 anggota, dengan Kelihan dijabat oleh I Ketut Jana, wakil kelihan dijabat oleh 1 Ketut Nurjana, Penyarikan atau Sekretaris dijabat oleh Komang Arimasta dan Bendahara dijabat oleh Wayan Semara Bawa. Organisasi Adat ini bertugas sebagai Jagabaya Desa Adat. Kata Pecalang menurut ahli tafsir bahasa Bali dan Kawi berasal dan kata dasar “Calang” yang berasal dari kata “Celang” yang dapat diartikan sebagai Waspada. Organisasi Adat ini diatur dengan jelas di Peraturan Daerah Provinsi Bali tahun 2001.
IIL2.2. Seka Gong Desa Adat Celuk
Seka Gong Desa Adat Celuk beranggotakan 40 Anggota, dengan pengurus: I Wayan Bratayana sebagai Kelihan Seka Gong, I Made Sudirka Sebagai wakil kelihan. Seka Gong adalah lembaga atau kelompok sosial yang lebih kecil sifat, ruang lingkup dan keanggotaannya dari Desa Adat, Seka Gong merupakan kesatuan dari beberapa orang Krama Desa Adat yang menghimpun diri atas dasar kepentingan yang sama dalam kegiatannya yang menyangkut kepentingan Desa Adat maupun anggotanya.
III.2.3.                Ayah Suci Lanang, Ayah Suci Istri dan Tukang Ebat
Dalam rangka mempersiapkan upacara yang dilaksanakan di Kahyangan Desa Adat Celuk Prajuru Desa dibantu oleh beberapa ayah atau mancagrha yang terdiri dari Ayah Suci Lanang, Ayah Suci Istri dan Tukang Ebat. Ayah Suci lanang dikoordinir oleh I Wayan Sulastra, dan dibantu oleh I Ketut Sudiana dan I Made Suyana sebagai Piranti atau tukang belanja, serta I Wayan Sandi, I Nyoman Sujina dan I Wayan Juniawan sebagai anggota. Ayah Suci Istri dikoordinir oleh Ni Ketut Sujasmin, dan Ida Ayu Megawati, dengan dibantu oleh Ni Made Manis dan Ni Made Widariningsih sebagai bendahara, dan Ni Ketut Suparti, Ni Made Bunter, Ni  Nyoman Derti, Ni Made Ganti, Ni Wayan Murni, Ni Made Sare, Ni Luh Kade Suartini, Ni Luh Man Sukanadi, Ni Ketut Sulastri sebagai anggota.  Tukang Ebat Desa ada tiga orang yaitu : I Made Artadana, I Ketut Sulendra, dan I Wayan Reika Santika.
III.2.4.                Ayah Pengresik
Ayah Pengresik adalah warga desa yang dipilih untuk menjaga kebersihan pura dan memasang dan menyimpan wastra pelinggih pelinggih di pura. Ayah pengresik ada 9 orang. I Ketut Suardijaya ditunjuk sebagai coordinator, dengan anggota yaitu I Made Muliada, I Ketut Budiasa, I Made Partama, I Made Bagiman, I Wayan Semarajaya, I  Made Anom Sudarta, Kadek Agus Budayasa, I Komang susrama.
III.2.5.                Seka Pesantian Desa Adat Celuk
Fungsi dan peranan dari Desa Adat salah satunya adalah sebagai pembina, pengayom dan penuntun di bidang keagamaan, sebagai tempat pendidikan agama, pembinaan mental dan spiritual, upaya ini dilaksanakan di Desa Adat Celuk, salah satunya dengan membentuk Seka Santi Desa Adat Celuk dengan anggota 25 orang, I Ketut Kasna Ngantara sebagai ketua, Dra Ni Nyoman Ayu Triwidani, M.pd sebagai sekretaris dan Dra. Ni Wayan Kasihani Sebagai bendahara. Seka Santi dianggap sangat penting sebagai wadah krama desa adat dalam membentuk karakter lewat nyanyian atau upaya mengenal dan memahami ajaran suci Weda melalui olah seni suara tradisional.
III.2.6.                Pengenter Pemuspan dan Tukang Lampu Desa
Pada setiap upacara nista madya uttama, Krama Desa Adat Celuk sudah menugaskan 3 orang krama sebagai pengenter pemuspan, Drs I Nyoman Rai Putra, I Nyoman Sucikra dan I Ketut Sukada, sementara krama yang bertugas sebagai Tukang Lampu Desa terdiri dari 6 krama, antara lain: I Made Suana sebagai ketua, I Made Sukarja sebagai sekretaris dan I Made Rudita sebagai Bendahara, dengan anggota: I Wayan Ruma, I Wayan Suardana dan I Wayan Armadi.
III.2.7.                PKK Banjar Celuk
PKK Banjar Celuk adalah organisasi kemasyarakatan yang bertujuan untuk memberdayakan perempuan memiliki andil besar yang secara pragmatis mampu membantu masyarakat terutama dalam hal keluarga, perempuan, dan anak. Hal ini sejalan dengan nama PKK yang punya kepanjangan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Karena PKK adalah gerakan yang sifatnya pragmatis, sehingga tak lepas dari berbagai fungsi yang disematkan dalam 10 fungsi dasar dari PKK, antara lain: Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Gotong Royong, Pangan, Sandang, Perumahan serta Tatalaksana Rumah Tangga, Pendidikan serta Ketrampilan, Kesehatan, Pengembangan Kehidupan Berkoperasi, Kelestarian Lingkungan Hidup dan Perencanaan Sehat. PKK Desa Adat Celuk berjumlah 427 anggota dengan pengurus: Ketua dijabat oleh Ni Nyoman Sritamin sekretaris dijabat oleh Ni Wayan S. Mulyawati dan bendahara dijabat oleh Ni Wayan Kusniari.
III.2.8.                Seka Deha Teruna atau Teruna Teruni Yowana Jaya
Desa Adat Celuk adalah kumpulan atau wadah organisasi Pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa Adat Celuk yang bergerak dibidang kesejahteraan sosial. Beranggotakan 426 anggota dengan pengurus: Ketua dijabat oleh Kade Dody Alit Mudana, Wakil Ketua I dijabat oleh I Wayan Juni Natawijaya, Wakil Ketua n dijabat oleh Kadek Nadya Narita Galung, Sekretaris I dijabat oleh Ni Wayan Nanik Suryantini, Sekretaris II dijabat oleh I Kadek Suardipayana, Bendahara I dijabat oleh Ni Wayan Nia Arditya Sari dan Bendahara II dijabat oleh I Wayan Gede Tisna Prasetya. Keberadaan kelompok ini sebenarnya untuk memantapkan kegiatan sosial tanpa mengenal status masing-masing orang dalam masyarakat yang dihubungkan dengan adat istiadat Hindu di Desa Adat Celuk.
III.2.9.                Pemangku
Dalam Bidang Keagamaan faktor yang paling penting adalah pemimpin upacara dimasing-masing kayangan, untuk urusan ini Desa Adat Celuk membagi pemimpin upacara dalam 2 wadah, yaitu Pemangku Kahyangan Tiga dan Pemangku pura Manca. Berikut adalah nama nama Pemangku Kahyangan Tiga
1.       Berikut adalah nama  Pemangku Dalem Lan Prajapati 5 generasi berurutan dari yang tertua : (Alm) Jro Mangku Dalem Genjar + (Alm) Jro Mangku Dalem Wanti, (Alm) Jro Mangku Dalem Jajug + (Alm) Jro Mangku Dalem Soter, (Alm) Jro Mangku Dalem Sukata + (Alm) Jro Mangku Dalem Masni, (Alm)Jro Mangku Dalem Karang + Jro Mangku Dalem Repen & Jro Mangku Dalem Simpen, Jro Mangku Dalem Karang Susana Putra, Jro Mangku Dalem Dwi Utari, Jro Mangku Dalem Repen & Jro Mangku Dalem Simpen
2.       Jro Mangku Desa Wiadnyana & Jro Mangku Desa Sarini (Pemangku Ring Pura Desa)
3.       Jro Mangku Nataran Budayana & Jro Mangku Nataran Suriati (Pemangku Ring Pura Nataran)
4.       Jro Mangku Gumi Tiarsa & Jro Mangku Gumi Metri (pemangku Ring Pura Gumi)
5.       Ida Mangku Surya Suteja & Ida Mangku Surya Hirthawati (Pemangku Ring Palinggih Padmasana & Piyasan Surya)
6.       Jro Mangku Alit Retig,  Jro Mangku Alit Ariana & Jro Mangku Alit Rupini (Pemangku Ring Palinggih Sesuhunan Ida Ratu Gede)
Dan berikut adalah nama nama Mangku Manca yang Pura Panti atau dadyanya berada di wilayah Desa Adat Celuk :
1.         Jro Mangku Darsana Putra & Jro Mangku Mustiari (Pura Ibuangin)
2.         Jro Mangku Wiasta & Jro Mangku Luh Wistri (Pura Pande)
3.         Jro Mangku Gria & Jro Mangku Suati (Pura Sanggar Agung)
4.         Jro Mangku Suarsa & Jro Mangku Masni (Pura Anggar Kasih)
5.         Jro Mangku Artana & Jro Mangku Sariadi (Pura Dalem Kedewatan)
6.         Jro Mangku Rasma & Jro Mangku Kendriwati (Pura Budha Keling)
7.         Jro Mangku Sukerti (Pura Budha Manis Dauh)
8.         Jro Mangku Asmarajaya & Jro Mangku Sulasih (Pura Budha Manis Panasan)
9.         Jro Mangku Muliartha & Jro Mangku Ary Suliastini (Pura Budha Kliwon Pagerwesi)
10.      Jro Mangku Gejir & Jro Mangku Rati (Pura Budha Kliwon Sinta)
11.      Jro Mangku Sukadana & Jro Mangku Adnyani (Pura Budha Kliwon Wasan)
12.      Jro Mangku Kantra Yana & Jro Mangku Pantiasih (Pura Pajenengan Budha Cemeng)
13.      Jro Mangku Sukadana & Jro Mangku Atik (Pura Tambyak)
14.      Jro Mangku Sulastra & Jro Mangku Nengah Karianti (Pura Madya & Pura Budha Cemeng)
15.      Jro Mangku Landra & Jro Mangku Antari (Pura Santi)
16.      Jro Mangku Diarsa & Jro Mangku Nurasti (Pura Madya)
17.      Jro Mangku Sunarta & Jro Mangku Dilewati (Pura Panyeneng)
III.2.10.Lembaga Perkreditan Desa dan Koperasi Desa Adat Celuk
Upaya krama Desa Adat Celuk untuk memberdayaan ekonomi dilaksanakan dengan membangun 2 lembaga keuangan desa., LPD Desa Adat Celuk dengan jumlah karyawan sebanyak 13 orang, ketua LPD dijabat oleh I Wayan Gede Sumarata, S.H., Tata Usaha dijabat oleh I Wayan Gede Eka Budiarta, S.H dan Bendahara dijabat oleh I Wayan Badra, S.H. Untuk mengawasi LPD Desa Adat Celuk maka dibentuklah Badan Pengawas atau Panureksa LPD yang diketuai oleh Ir. IKadek Anom Astabrata  dengan anggota yaitu : I Kadek Mustika, SE, I Nyoman Widiana, SE, I Wayan Narya, I Made Busana, SE.  Sementara itu dibawah Banjar juga ada Lembaga yang bergerak di bidang Ekonomi yaitu Koperasi  Banjar Celuk yang mempunyai karyawan sejumlah 4 orang dengan  Kadek Ganda Ismawan sebagai Ketua, I Made Megayasa sebagai Sekretaris, dan  I Ketut Kasna Ngantara sebagai Bendahara. Untuk Pengawas Koperasi Banjar Celuk dijabat oleh  I Made Marjana SE. sebagai Ketua dengan anggota  I Kadek Darma Sulistyadi dan I Nyoman Wirajaya

BAB IV
PURA-PURA DI WILAYAH DESA ADAT CELUK
Ilmuan ternama DR R. Goris memaparkan dalam tulisannya IE Godsdienstig Karakter Der Balische norpsgemeenschap”, atau “Karakter Religius dari Komunitas Desa Bali” bahwa ciri religius dan desa adat di Bali dibentuk oleh tiga unsur fundamental yaitu:
1.          Sejumlah tempat suci desa atau Pura-Pura desa sebagai tempat pemujaan umat.
2.          Susunan kepengurusan desa atau prajuru desa yang selalu dikaitkan dengan fungsi-fungsi social keagamaan.
3.          Berbagai upacara seremonial atau upakara yang konsisten dilakukan oleh desa
Seperti yang sudah diterangkan di Bab II Sejak awal, Maha Rsi Markadeya telah membuat pedoman pada masyarakat Bali bahwa di tempat utama desa seyogyanya dibangun tempat suci desa untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan desalah yang wajib mengurus tempat suci desa. Disebutkan tiga tempat secara khusus dalam sebuah Desa yakni:
IV.l. Pura atau Kahyangan Desa Adat Celuk.
Suatu tempat yang difungsikan untuk melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu diusahakan suatu tempat yang lebih tinggi dari desa. Tempat ini merujuk ke arah gunung atau kaja. Di sinilah kemudian dibuat tempat suci pusat atau asal yang difungsikan untuk memuju Tuhan dalam perwujudannya sebagai dewa pelindung alam dan para roh suci leluhur yang telah menjadi Dewa. Tempat suci imlah kemudian disebut “Pura Puseh”, dan merupakan “tempat suci alam atau (Upper Worldly Temple)”.
                   IV.1.1. Pura Kahyangan Desa Adat Celuk.
Secara etimologi kata Kahyangan Tiga terdiri dari dua kata yaitu kahyangan dan tiga. Kahyangan berasal dari kata hyang yang berarti suci mendapat awalan ka dan akhiran an, an menunjukkan tempat dan tiga artinya tiga. Arti selengkapnya adalah tiga buah tempat suci, yaitu Pura Desa atau disebut pula Pura Bale Agung, Pura Puseh dan yang ketiga adalah Pura Dalem. Kahyangan Tiga merupakan salah satu unsur dari Tri Hita Karana yaitu unsur parhyangan dari setiap desa adat di Bali. Pada Kahyangan Tiga masyarakat desa memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk desa dan masyarakatnya Unsur yang ke dua dan tiga dari Trihita Karana disebut dengan pelemahan dan pawongan. Dengan demikian maka di dalam mewujudkan rasa aman, tentram, sejahtera lahir batin dalam kehidupan desa adat berlandaskan tiga hubungan harmonis yaitu hubungan manusia dengan alam atau hubungan krama desa dengan wilayah desa adat, hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya dalam desa adat dan hubungan krama desa dengan Hyang Widhi sebagai pelindung. Inilah yang dinamakan Tri Hita Karana dalam desa adat di Bali, Dengan tercakupnya unsur ketuhanan dalam kehidupan desa adat di Bali, maka desa adat di Bali mencakup pula pengertian sosio-religius. Maka dari itu perpaduan antara adat dengan agama Hindu di Bali adalah erat sekali sehingga sulit memisahkan secara tegas unsur-unsur adat dengan unsur agama, karena adat-istiadat di Bali dijiwai oleh agama Hindu dan aktivitas agama Hindu didukung oleh adat istiadat di masyarakat. Mpu Kuturan di Bali pada awal abad 11, menata kayangan melalui konsep Tri Murti” yakni faham teologis yang menjabarkan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk trinitas. Konsep mi kemudian diadopsi dalam pembangunan pura yang kemudian dikenal dengan nama Kahyangan Tiga. Simbol-simbol kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang diwujudkan dalam bentuk Arca Lingga Bhatara disungsung oleh warga Desa Celuk adalah Sesuwunan Ida Bhatara Ratu Gede, Ida Bhatara Ratu Ayu, Ida Ratu Lingsir dan Ida Ratu Segara. Ida Bhatara Ratu Gede, Ida Bhatara Ratu Ayu, Ida Bhatara Ratu Segara dan Ida Bhatara Ratu Lingsir dihaturkan piodalan setiap Saniscara Kliwon Wayang dan Piodalan Nadi dihaturkan pada setiap 6 bulan Bali. Khusus apabila Tumpek Wayang bertepatan jatuhnya dengan Purnama Sasih Kadasa, Ida kehaturan piodalan Mapidudus Nyatur.
                                IV.1.1.1. Pura Puseh (Gumi) dan Pura Penataran Desa Adat Celuk.
Kata Puseh adalah berasal dari kata Puser yang berarti pusat. Kata pusat disini mengandung makna sebagai pusatnya kesejahteraan dunia yang mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan bagi umat manusia, sehingga upacara-upacara yang berhubungan dengan kesuburan dunia dilaksanakan di Pura Puseh. Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara dari ciptaan Hyang Widhi dalam seni area digambarkan dengan laksana atau ciri bertangan empat yang masing-masing memegang, cakra, sangka dan buah atau kuncup teratai. Wahana adalah Garuda, sedangkan saktinya adalah Dewi Sri atau Dewi Laksmi (Dewi Kebahagiaan). Pura Penataran Desa Adat Celuk terletak di barat daya Pura Dalem, menyatu dengan Pura Puseh Gumi dan Pura Desa Bale agung. Pada kerajaan Hindu di Bali, tempat suci kerajaan disebut Pamerajan”. Pemerintah kerajaan memiliki dua tempat suci yakni: Pura Penataran sebagai pura kerajaan atau pura pemerintahan dan pura prasada (candi) sebagai tempat pemujaan bagi leluhur kerajaan. Dalam Pura Penataran, kesatuan kerajaan melakukan peringatan meminta berkah kemasyuran, perlindungan, kekuatan untuk memerintah yang kesemuanya dilaksanakan dengan cara-cara religius. Di dalam Pura Penataran yang disembah adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa penguasa wilayah, (bumi, tanah). Untuk lebih lengkapnya tentang Pura Penataran akan diulas dalam Buku Purana Desa Celuk kemudian. Piodalan di Pura Puseh (Gumi) dan Pura Penataran dilaksanakan pada setiap Purnama Kajeng setelah Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang).
             IV.1.1.2. Pura Desa Bale Agung Desa Adat Celuk
Pura ini disebut dengan nama Pura Desa karena pura ini ditempatkan di pusat desa, menjadi tempat pusat kegiatan pelaksanaan upacara untuk kepentingan desa seperti upacara Ngusaba Desa, pasamuhan Ida Bhatara setelah upacara melis yang dilaksanakan sebelum upacara Panyepian. Disebut pula dengan nama Pura Bale Agung, yang kemungkinan diambil dari nama bangunan Bale Agung yang terdapat pada bagian halaman pertama dari pura ini. Dalam penataan Pura Desa itu, Pura Bale Agung difungsikan sebagai tempat pemujaan Tuhan pencipta atau Brahma dan Sakti-Nya yang bergelar Dewi Saraswati. Piodalan di Pura Desa, Pura Bale Agung dilaksanakan pada setiap Pumama kajeng setelah Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang).
             IV.1.1.3. Pura Dalem Desa Adat Celuk
Pura Dalem difungsikan untuk melakukan penyucian terhadap roh, dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, Roh tidaklah secara serta merta menjadi suci setelah manusia mati karena masih dalam bentuk Pitara. Baru setelah dilakukan proses upacara penyucian di Pura Dalem rohnya  menjadi suci dan terangkat dari alam bawah menuju atas Pura Dalem Celuk terkesan sangat besar dan megah dalam ukuran semua pelinggihnya, tetapi senantiasa sederhana dalam disainnya. Pura ini mengalami perubahan arsitektur selama berabad-abad. Perubahan itu datang sebagai hasil dari paham Hindu yang secara perlahan-lahan disaring dari karajaan Hindu di Bali dari masa ke masa Pura Dalem Celuk, Pura Prajapati dan Setra Desa Adat Celuk mempunyai konsep dasar yang mengatur hubungan makna ketiga tempat itu yang berhubungan sangat erat dengan kekuasaan Dewa Siwa dan saktinya, Dewi Durga. Pura Prajapati Tempat Pemujaan Alam Kosmis Dari ketiga tempat suci itu, orang menghubungkan lagi dengan unsur-unsur bhuana agung yang juga ditemukan dalam bhuana alit. Hubungan unsur-unsur itu diatur oleh sistem kosmis melalui jaringan makna yang renik dan masyarakat terkurung di dalam jaringan makna itu membentuk aktivitas ritual umat Hindu di Desa Adat Celuk. Bila Pura Prajapati diyakini sebagai tempat pemujaan alam kosmis. Setra atau Pemuwunan atau tempat pembakaran mayat adalah tempat atau panggung transformasi seluruh kekuatan negatif dari yang tercipta dari murkanya Dewi Dewi Durga. Pura Dalem adalah stana Dewa Siwa yang berfungsi sebagai tempat penetralisir kekuatan positif dan negatif yang ditimbulkan di Prajapati maupun di Setra. Di Pura Prajapati, menurut beberapa sumber lontar, adalah stana Bhatari Durga dengan tiga kekuatan beliau berupa Anggapati yang melambangkan nafsu di badan, Prajapati berarti Penguasa Setra Gandamayu dan Banaspati adalah sifat yang terbentuk dari unsur Gamang, Tonya, Memedi, Detya dan seluruh mahluk gaib yang tidak tampak. Pada Mulanya piodalan di Pura Dalem Desa Adat Celuk jatuh pada setiap Tilem kedua sesudah Buda Kliwon Dunggulan (Galungan), namun pada momen pelaksanaan Karya Pura Dalem pada tanggal 22 Oktober 2019 ini sekaligus akan dilakukan perubahan tegak odalan menjadi setiap Anggara Kasih Wuku Prangbakat.  Sebagaimana diceritakan oleh tokoh dan tetua masayarakat Desa Adat Celuk, Pura Dalem Desa adat Celuk telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada tahun 1965 dilaksanakan pemugaran candi bentar di jaba sisi beserta tembok penyengker dan Pura Prajapati. Pemugaran ini dibantu oleh tukang dari Desa Manikan Guwang. Setelah pemugaran selesai dilakukan maka dilaksanakanlah karya pada tahun 1973. Pemugaran Pura Dalem selanjutnya dilakukan setelah pelaksanaan karya di Pura Desa pada tahun 1991. Pemugaran setelah karya di pura desa dilakukan besar besaran dengan memperluas utamaning dan madya mandala kea rah utara, timur dan barat. Setelah perluasan dan pemugaran ini selesai dilakukan maka dilaksanakanlah karya pada tahun 1999. Pemugaran selanjutnya dilaksanakan setelah Pura Dalem Desa Adat Celuk mengalami kebakaran.  Pemugaran dilakukan untuk mengganti dan memperbaiki Palinggih Palinggih yang terkena kebakaran, sekaligus juga mengembalikan Palinggih Dasar dan Palinggih Paku Aji ketempat semula yaitu disebelah utara Bale Paselang, yang mana sebelumnya sempat dipindahkan ke sebelah utara aling aling.  Posisi Setra Desa adat Celuk beberapa kali mengalami pemindahan, sebelum tahun 1986 posisi Setra Desa Adat Celuk berada tepat di sebelah selatan Pura Prajapati atau di sebelah barat pohon asem. Dipojok tenggara posisi bangunan wantilan pura dalem terdapat pohon beringin yang sering dimanfaatkan untuk kelengkapan upacara yadnya oleh Krama Desa Celuk. Dengan dibangunnya Wantilan pada tahun 1986 maka pohon beringin tersebut di pralina. Setelah tahun 1986 posisi setra dipindahkan ke sebelah timur dari pohon asem, dan kemudian setelah upacara ngaben masal pada tahun 2000, Krama Desa Celuk sepakat untuk  memindahkan Setra  ke posisi yang ada sekarang yaitu di pojok tenggara area nista mandala Pura Dalem Celuk. Setra Rare (Sema Bajang) juga sempat dipindahkan ke pojok barat laut di area Setra sekarang, namun kemudian diindahkan kembali ke posisi semula di sebelah selatan Palinggih Delod Desa.    Berkat kerja keras dan kesungguhan hati dari warga Desa Adat Celuk, tuntunan dari para sesepuh tetua dan manggala adat juga manggala dinas, dilandasi semangat gotong royong dan kebersamaan dalam usaha memugar Pelinggih-pelinggih, kini Pura Dalem Desa Adat Celuk yang terdiri dari tiga mandala ini hampir semua bangunan Pelinggihnya tergolong baru. Pemugaran yang dilaksanakan mulai tahun 1968 hingga tahun 2018 menjadikan Pura Dalem Desa Adat Celuk tampak megah dan indah. Bebaturan yang terbuat dari batu padas dan batu bata merah juga Batu-batu lahar yang dipenuhi dengan ornamen-ornamen magis kekinian. Bagian atasnya kebanyakan terbuat dari kayu-kayu pilihan yang juga penuh ornamen ukiran Bali yang mempesona serta gemerlap karena dilapisi cat emas. Pura Dalem
Desa Adat Celuk pada dasarnya dibangun oleh masyarakat dari jaman ke jaman adalah untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Siwa dan Saktinya yang menganugerahkan kekuatan, kemakmuran dan jalan kebaikan. Para ahli arsitektur tradisional kuno Bali yang
tergabung dalam tim Peneliti Sejarah dan Babad Bali mengungkapkan Pura Dalem Desa Adat Celuk adalah metamorfosis dari prasada atau tempat memuja bagi para penganut Siwa yang kemudian berubah bentuk dan fungsi sesuai dengan jaman yang terus berkembang secara kebudayaan. Pada dasarnya Pura Dalem Desa Adat Celuk terdiri dari 3 pelebahan, yang masing-masing pelebahan dibatasi dengan tembok penyengker dan dihubungkan oleh Candi Bentar, Candi Kurung atau candi peletasan. Konsepsi Tri Mandala merupakan sebuah konsepsi arsitektur dalam konsep penataran area pura Dalem Desa Adat Celuk tradisional yang sangat jelas diterapkan. Konsepsi ini pada dasarnya merupakan hasil perkawinan dua konsepsi tradisional yang berkarakter oposisi biner atau Rwa-Bhineda yaitu konsepsi dalam-luar dan konsepsi sakral dan profan. Tri Mandalaatau konsepsi tiga area sebagai pedoman dalam pembagian area atau lahan kompleks pura menjadi tiga area atau tiga zona berdasarkan tingkat kesuciannya. Ketiga area tersebut masing-masing dikenal dengan nama Nista Mandala atau Jaba Sisi sebagai area terluar, Madya Mandala atau Jaba Tengah sebagai area peralihan atau area tengah, dan Utama Mandala atau Jeroan sebagai area paling tengah.Diantara ketiga mandala tersebut, area jaba sisi merupakan area yang dimaknai sebagai mandala yang bernilai paling kurang sakral, area jeroan diposisikan sebagai mandala yang paling disakralkan, sedangkan jaba tengah ditempatkan sebagai mandala peralihan yang memiliki tingkat kesakralan menengah. Pada setiap mandala dibangun pelinggih-pelinggih diantaranya:
1.     Palinggih Padmasana
Kata padmasana berasal dari bahasa Sanskerta, menurut Kamus Jawa Kuna-Indonesia yang disusun oleh Prof. Dr. P.J. Zoetmulder terdiri dari dua kata yaitu: “Padma” artinya bunga teratai dan “Asana” artinya sikap duduk. Hal ini juga merupakan sebuah posisi duduk dalam yoga Padmasana berasal dari Bahasa Kawi, menurut Kamus Kawi-Indonesia yang disusun oleh Prof. Drs. S. Wojowasito, terdiri dari dua kata yaitu: “Padma” artinya bunga teratai, atau bathin, atau pusat. “Sana” artinya sikap duduk, atau tuntunan, atau nasehat, atau perintah. Padmasana berarti tempat duduk dari teratai merah sebagai stana suci Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan dua pendapat ini, bahwa bunga teratai adalah simbol dari tempat duduk dari dewa-dewa dan Hyang Widhi sehingga Padmasana tidak lain dari gambaran alam semesta (makrokosmos) yang merupakan stana dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.







Palinggih Padmasana dikonsep oleh Dang Hyang Nirartha untuk melengkapi bangunan-bangunan palinggih yang dirintis oleh pendahulunya, yaitu Mpu Kuturan, Menurut Dang Hyang Nirartha palinggih–palinggih yang ada sebelumnya tidak ada yang khusus berfungsi sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa, namun yang ada hanya bangunan palinggih utuk memuja manifestasi Tuhan dan roh leluhur, Untuk Itu maka dibangunlah Padmasana untuk memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa. Di Pura Dalem celuk, juga dibangun palinggih Padmasana, dan posisinya berada di arah timur laut (ersanya) menghadap ke barat. Ersanya menurut pendangan Hindu, merupakan arah yang tersuci, yaitu sebagai pertemuan antara arah kaja (adya) yaitu gunung dan kangin (purwa) yaitu arah terbitnya matahari. Saat ini, hampir semua pura yang dibangun setelah kedatangan Dang Hyang Nirartha dilengkapi dengan Padmasana. Bila tidak Padmasana, setidaknya Padmasari. Perbedaan Padmasana dengan Padmasari terletak pada dasar bangunan dan pepalihannya. Ciri khas Padmasana adalah bedawangnala (kura-kura) pada dasar bangunannya yang diikat (dililit) oleh satu atau dua ekor naga. Sedangkan bangunan Padmasari tidak menggunakan bedawangnala. Demikian pula fungsinya adalah sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Achintya, yang dimohonkan hadir ketika ada upacara piodalan (upacara kecil) dan pujawali atau upacara besar. Bangunan Padmasana di Pura Dalem Celuk adalah salah satu bangunan yang kuno, yang belum mendapatkan proses pemugaran.
2.     Palinggih Gedong Dalem
Salah satu keunikan yang ada di pura dalem celuk adalah adanya dua palinggih gedong  yang berjajar di sebelah timur menghadap ke barat, bentuk bangunannya hampir sama. Kedua palinggih ini diperkirakan mengadopsi apa yang ada di Pura Dalem Kaler Singapadu. Yang merupakan wit atau asal mula dari Pura Dalem Celuk. Di Pura Dalem Kaler memang ada dua dalem, yaitu Dalem Jawa dan Dalem Gede. Teori yang lain memperkirakan bahwa gedong dalem dibuat untuk memuja Ida Bhatara Pura Dalem Kaler dan mengingatkan akan sejarah bahwa Pura Dalem Celuk atau Desa Adat Celuk sebelumnya berasal dari Pura Dalem Kaler Desa Adat Sangsi Singapadu, sedangkan Gedong Khayangan adalah Palinggih untuk memuja Ida Bhatara Dalem dalan kaitan khayangan tiga di Desa Adat Celuk. Pada teori yang lain juga diperkirakan bahwa keberadaan dua gedong ini terkait konsep purusa dan pradana, dimana gedong dalem sebagai purusa yang dipuja adalah Ida Bhatara Siwa dan gedong khayangan sebagai pradana yang dipuja adalah Ida Bhatari Dhurga. Di dalam Gedong Dalem ini terdapat Arca Lingga.
3.     Palinggih Gedong Kahyangan
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya keberadaan Gedong Kahyangan ini berkaitan dengan sejarah Pura Dalem dan Desa Adat Celuk yang kesah dari Pura Dalem Desa Adat Sangsi, dan juga dalam kaitan konsep purusa pradana, dimana Gedong Khayangan ini sebegai pradana. yang dipuja di gedong khayangan ini adalah Ida Bhatari Dhurga, nama Dhurga berasal dari kata dhur dan ga, dhur berarti kesulitan dan ga berarti jalan. Sehingga dapat diartikan bahwa Ida Bhatari Dhurga dapat memberikan jalan kepada kita untuk mengatasi segala kesulitan yang kita hadapi. Di dalam  Palinggih Gedong Kahyangan ini terdapat Prarai.
4.     Palinggih Paku Aji.
Dari etimologi nama palinggih, paku berarti pacek, aji berarti ayah. Jadi palinggih paku aji ini adalah palinggih dimana dipuja Ida Bhatara Siwa di dalam fungsinya sebagai pacek atau pancer gumi untuk memperkuat alam. Palinggih Paku Aji ini letaknya bersebelahan dengan palinggih dasar yang  Jika dikaitkan konsep purusa pradana, maka palinggih paku aji ini sebagai purusa yang mewakili unsur aji atau ayah atau pacek itu sendiri.
5.     Palinggih Dasar.
Palinggih dasar adalah palinggih dimana disthanakan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi beliau sebagai Sang Hyang Ibu Pertiwi yang telah  menciptakan Bumi atau Sapta Patala atau tujuh lapisan alam bawah. Palinggih ini juga bersebelahan dengan palinggih Paku aji, yang kalau dikaitkan dengan konsep purusa pradana, palinggih dasar sebagai pradana yang mewakili unsur Ibu Pertiwi.
6.     Palinggih Bale Paselang.
Pada Bale paselang ini dipuja Ida Sang Hyang Widhi dalam perwujudan beliau sebagai Bhatara Kama dan Bhatari Ratih, di dalam rangka menciptakan alam semesta ini sehingga terus menerus ada proses penciptaan atau kelahiran. Fungsi Pelinggih Bale Peselang adalah tempat berlingganya Ida Bhatara Sami pada saat kehaturan Karya Agung setelah turun dari Pelinggih Paruman atau Pelinggih Bale Pepelik. Pada saat upacara mapaselang Ida Bhatara menuju Bale Peselang patut dengan lantaran kain putih, melangkahi Caru Titi Mamah dengan jan Tebu Ratu. Setelah Beliau berstana di Bale Peselang dihaturkan puja Siwa Stawa, Nawa Dewata Stawa, Siwa Samuha Stawa, Dwadasa Smara Stawa dan Pranamia Dewa.
7.       Palinggih Piyasan Surya.
Bale ini difungsikan sebagai tempat tapakan atau arca lingga  Ida Bhatara/Bhatari dihias, sebelum upacara pemujaan (upacara piodalan atau pujawali) dilaksanakan.
8.     Palinggih Pengaruman
Pengaruman berasal dari kata parum yang artinya pertemuan. Berangkat dari etimologi katanya, fungsi palinggih adalah sebagai tempat pertemuan para ista dewata (manifests! Tuhan), ketika ada upacara yadnya, terutama upacara besar (wali ageng). Di palinggih tersebut para ista dewata dipuja dengan diberi persembahan (sesaji), dan dimohon menyaksikan jalannya upacara sekaligus cintakasih-Nya untuk memberikan keselamatan dan kesejahteraan.
9.     Palinggih Paingkupan.
Fungsinya sebagai tempat upakara ketika upacara piodalan dan pujawali. Terkadang para tukang banten sering menyinggung dengan ungkapan: Kudang panggung mekarya banten? Artinya: berapa panggung membikin banten? Pertanyaan tersebut juga dapat diartikan merujuk kepada tingkatan besar-kecilnya (ageng-alit) dari upacara yadnya yang dilaksanakan.
10. Palinggih Piyasan.
Bale ini difungsikan sebagai tempat Ida Bhatara / Bhatari berhias ketika upacara Piodalan, sebelum upacara pemujaan (upacara Piodalan atau Pujawali) dilaksanakan. Bale ini juga biasa difungsikan sebagai tempat Ida Bhatara Sesuhunan, (Ida Ratu Gede, Ida Ratu Ayu, Ida Ratu Lingsir dan Ida Ratu Segara) melinggih. Bale ini juga difungsikan sebagai  tempat Ida Pedanda ngweda atau muput Upacara. Dan dapat difungsikan juga  sebagai tempat banten atau aturan aturan Krama Desa.
11.  Palinggih Suwung Gamang.
Palinggih ini terletak dijaba sisi, di sebelah barat laut Pura Dalem Celuk. Palinggih ini berbentuk padma pendek setinggi dada. Palinggih ini difungsikan sebagai niasa atau lambang kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi yang menguasai semua alam, baik yang nyata atau yang tidak nyata. Beliau juga berkuasa terhadap semua mahluk yang hidup di dua dunia tersebut Sebagai salah satu upaya mengharmoniskan alam nyata dan astral. di pelinggih ini dihaturkan beberapa upacara yang dipersembahkan kepada wong samar / ancangan Ida Bhatara Dalem / Para Menak agar pelaksanaan upacara dapat dilancarkan dan tidak mendapatkan gangguan.
12.    Palinggih Ratu Ngurah Agung.
Ratu Ngurah Agung yang berstana di pelinggih ini sering dikenal dengan sebutan Bhatara Ngelurah atau sering disebut Pengelurah. Penglurang asal katanya “Lurah” yang artinya pembantu (pepatih), mendapat awalan pe dan sisipan ng, menjadi kata kerja, jadi pengelurah artinya bertugas menjadi pembantunya para dewa atau dewata (menjadi patihnya) pada setiap pura atau pamerajan. Bangunan ini merupakan palinggih Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga Kayangan. Dalam Penghayatan agama Immanent (sekala) Tugu Panglurah adalah palinggih para Lurah, iringan pengawal para Dewa Istadewata Hyang Widhi. Fungsinya adalah sebagai Pengawal Pribadi dari Ista Dewata Hyang Widhi. Selain itu makna pelinggih Panglurah ini adalah untuk menstanakan Sang Catur Sanak yang telah suci. Sang Hyang Atma yang telah suci berstana di palinggih pretisentana atau keturunannya yang masih hidup Palinggih Pangrurah ini merupakan manifesatsi dari Sang Hyang Widhi dengan Swabhawa “Bhuta Dewa” yang maksudnya setengah Dewa setengah Bhuta. Beliau memiliki fungsi sbagai penjaga para dewa, disamping itu sebagai juru bicara antara dewa, Dewata dengan manusia dengan umatnya. Dengan kata lain Beliau sebagai penyampai dari sembah bhaktinya umat, dan penyampai anugrah dari para dewa.

13.    Bale Pelik.
Bale ini sangat penting dalam prosesi Mapurwa Daksina yang diiringi kidung-kidung Dharmagitha yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan Sattwam dan mengurangi kekuatan Rajas maupun Tamas di alam semesta dengan sarana upacara upakara. Bale tersebut juga difungsikan sebagai tempat pesantian dan wayang ketika ada upacara piodalan ataupun tempat prajuru dan tamu undangan.
14.    Bale Pangastawan
Bale Pangastawan adalah tempat pemangku memanjatkan puja mantra  Menghaturkan banten dan sembah masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasi beliau.
15. Patung Ratu Rangda.
Patung ini mempertegas lagi bahwa Ida Bhatari Durga selain pada saat mamurti berwujud seram, juga Beliau berkuasa terhadap seluruh mahluk gaib yang dipercaya sebagian besar diyakini berwujud seram. Patung ini dibuat sebagai dekorasi pada aling aling kori agung pada tahun 1968.
16. Pemedal Agung.
Berbentuk menyerupai Candi Bentar dibuat sebagai akses keluar masuk Uttama Mandala Pura dari Madya Mandala sehingga pemedek tidak memakai Candi Kurung sebagai pintu keluar masuk, agar bisa menjaga kesakralan dari Candi Kurung Pura.
17. Candi Pengapit.
Candi ini difungsikan oleh masyarakat Desa Adat sebagai akses dari jaba tengah ke jeroan atau dari madya mandala ke utama mandala, khusus dalam rangkaian memundut berbagai piranti upakara upacara.
18. Kori Agung.
Kori Agung merupakan lambang dari Gunung Mahameru yang berdasarkan beberapa sastra adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan terutama tentang ilmu pengetahuan suci keagamaan. Mahameru juga senantiasa memberikan berkah kemakmuran terhadap alam semesta beserta isinya. Candi Kurung atau gelung adalah sebuah konsep menyatunya alam pikiran kemanusiaan dengan alam kedewaan, sehingga membentuk Kuwung, Kurung, Gelung, Windu, dan Sunia. Diatas pintu berisi ukiran dengan nama Karang Boma yang diyakini sebagai sarana penetralisir sifat-sifat keraksasaan mengubahnya menjadi sifat ke-Dewaan. Keberadaan nilai pilosofi Boma dituangkan dalam Kekawin Bomantak. Karena penuh dengan pilosofi tinggi untuk menjaga kesakralanya, Kori Agung hanya dibuka pintunya saat upacara besar saja dan tidak sembarang orang yang bisa memakai Kori Agung sebagai akses keluar masuk utama mandala.








19.  Candi Pengapit.
Candi ini difungsikan oleh masyarakat Desa Adat sebagai akses dari jaba tengah ke jeroan atau dari madya mandala ke utama mandala, khusus dalam rangkaian memundut berbagai piranti upakara upacara.
20. Bale Gong
Bale Gong dibangun di wilayah madya mandala bagian barat memanjang arah utara selatan, difungsikan sebagai tempat melantunkan tabuh gong dalam rangkaian pujawali.
21. Palinggih Yuti Srana.
Memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi dalam perwujudan beliau sebagai Sang Kala Yuti Srana dan Kala Bherawa yang dalam berbagai tattwa disebutkan sebagai Raksasa Besar berwarna hitam yang mampu menghancurkan prosesi upacara apabila tidak dihaturkan saji yang pantas. Palinggih ini fungsinya sebagai penjaga, untuk menetralisir unsur- unsur atau energi negatif agar dapat dibersihkan sebelum masuk ke utama mandala. Yuti srana terletak di sebelah kanan dari kori agung, menghadap ke arah selatan.
22. Palinggih Kalika.
Merupakan salah satu dari sedahan pengapit Kori Agung dibangun disebelah kiri dari pintu Kori Agung. Memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi dalam perwujudan beliau sebagai Sang Kalika. Sang Kalika atau Sang Kalika Maya adalah Sisya Sang Hyang Durga Birawi, penghuni Setra Gandamayu. Keberadaaannya di Sentra Ganda Mayu untuk menjaga keseimbangan setra. Diceritakan kalau ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tata karma / swadarma-nya pun semisal ada manusia yang melakukan upacara yadnya tanpa didasari oleh rasa iklas dan suci, maka Sang Kalika Maya akan memberikan hukuman. Palinggih ini fungsinya sebagai penjaga, untuk menetralisir unsur - unsur atau energi negatif agar dapat dibersihkan sebelum masuk ke utama mandala.
23. Palinggih Hyang Api.
Kata Hyang Api berasal dari 2 kata yaitu: Hyang mempunyai arti Beliau yang dipuja dan dimuliakan, sementara kata Api mempunyai arti kata benda Api. Bila digabungkan kemungkinan besar bermakna Memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Api atau Panas atau Brahma. Ketika musim penghujan dan turun hujan secara terus-menerus saat melaksanakan Upacara, maka masyarakat akan mempersembahkan banten penerangan di palinggih Hyang Api ini untuk memohon cuaca yang cerah (nerang).
24. Palinggih Katak Nini.
Palinggih katak nini  fungsinya untuk memohon kekuatan Ida Sang Hyang Widhi dalam wujud elemen air agar. Masyarakat  biasanya meminta hujan jika terjadi musim kering yang berkepanjangan  atau  pada awal musim tanam padi, sehingga tanaman padi dapat tumbuh subur ataupun masyarakat tidak mengalami kekurangan air.

25. Palinggih Piyasan
Difungsikan sama dengan pelinggih Piyasan di utama mandala pura.
26. Bale Penyanggra.
Bangunan ini berbentuk segi empat berada di sebelah timur di madya mandala, memiiki fungsi sebagai bangunan serbaguna, biasanya difungsikan untuk menyambut tamu, atau sebagai tempat rapat.
27. Bale Kulkul.
Bale Kulkul yaitu balai tempat kentongan (Pajenengan) di tempat suci. Bentuk bangunan tinggi menyerupai menara. Bangunan dibagi menjadi tiga secara vertical, yang terdiri atas bagian kaki bangunan (tepas), bagian tubuh (batur) dan bagian puncak (sari). Kedua Kentongan yang tergantung di bangunan ini hanya disuarakan pada saat piodalan atau hal-hal penting yang menyanglcut tentang berbagai kegiatan di Pura Dalem Celuk saja. Merupakan linggih Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Iswara, dalam ilmu yoga yaitu Paratma yang ada di leher atau kerongkongan, yang berfungsi utama untuk mengeluarkan berbagai jenis suara.
28. Candi Bentar.
Candi ini adalah pintu masuk dari jaba sisi ke jaba tengah, candi bentar ini adalah salah satu bangunan kuno yang masih dipertahankan. Berbentuk gunung terbelah dua dimana bangunan sama tinggi layaknya segitiga yang dibagi menjadi dua bagian. Bangunan ini melambangkan pecahnya Gunung Kailasa tempat Dewa Ciwa bertapa. Jika dilihat dari bentuknya yang terbelah dua maka Candi bentar melambangkan ardhacandra pada kedua bangunan tersebut yang sejiwa bagian (kiri dan kanan) bangunan itu sebagai simbol rwa bhineda dalam kehidupan, yakni : Sifat positif dan negatif dalam aksara dengan aksara Ang dan Ah.
29. Palinggih Pengapit Lawang (Kanan/barat).
Palinggih Pengapit Lawang dibangun dikanan dan kiri dari Candi Bentar di nista  mandala sebagai tempat memuja Hyang Nandiswara. Fungsi dari pengapit lawang tersebut adalah sebagai penjaga pintu (lawang), untuk mengantisipasi roh-roh jahat yang ingin masuk ke tempat suci.
30. Palinggih Pengapit Lawang (kiri/timur).
Pelinggih Pengapit Lawang dibangun dikanan dan kiri dari Candi Bentar wilayah nista rnandala sebagai tempat memuja Hyang Mahakala. Fungsi dari pengapit lawang tersebut adalah sebagai penjaga pintu (lawang), untuk mengantisipasi roh-roh jahat yang ingin masuk ke tempat suci.
31. Palinggih Mundeh.
Palinggih ini adalah sebagai pengganti Pohon Mundeh yang telah roboh, pohon mundeh ini erat kaitannnya dengan sejarah Pura Dalem Dan Desa Adat Celuk. Dimana daun mundeh dipakai untuk menempatkan tanah Pura Dalem Sangsi sebagai jatu untuk mendirikan Pura Dalem Celuk.
32. Wantilan.
Adalah bangunan serba guna yang berada di jaba sisi, bangunan ini difungsikan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan penting, tempat pertunjukan kesenian, tempat membuat sarana upacara dan lain lain. Wantilan ini dibangun pada tahun 1986
33. Palinggih Padmasana Prajapati.
Prajapati atau Mrajapati atau Rajapati adalah tempat memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Beliau sebagai Prajapati dan Bhatari Durga di Hulun Setra. Tempat dimana para Preta melaksanakan kegiatan sebelum dipretista dengan upacara dan ritual yang pantas. Secara etimologi Praja berarti mahluk atau alam, dan pati berarti kehidupan. Jadi palinggih parajapati ini adalah palinggih untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi beliau sebagai Brahman Prajapati atau penguasa kehidupan. Setiap ada upacara terkait dengan kelahiran dan kematian maka akan dihaturkan persembahan di Pura Prajapati Unsur-unsur yang menjiwai Panca Maha Bhuta dipuja dan disucikan disini juga seluruh kekuatan kosmis yang lahir dari Durga Murthi disucikan sehingga menjadi kekuatan alam yang bersifat baik. Salinan Lontar Anda Bhuwana juga menyebutkan bahwa Rajapati adalah Stana Bhatari Durgha dan Bhatara Pramesti Guru saat turun kedunia.
34. Palinggih Piyasan Prajapati
Bale ini difungsikan sebagai tempat tapakan atau arca lingga  Ida Bhatara Prajapati dihias , sebelum  upacara pemujaan (upacara piodalan atau pujawali) dilaksanakan. Bale ini juga difungsikan untuk menempatkan banten dan sarana upacara yang akan dipersembahkan
35. Pohon Asem.
Menurut penuturan beberapa tetua desa, Pohon asem ini adalah pohon tua yang ada di area Pura Dalem Celuk. Sebelum dipindahkan, setra Desa Adat Celuk berlokasi dibawah pohon asem ini, dengan berbagai pertimbangan, hingga kini pohon asem disakralkan oleh penduduk dan disucikan pada setiap piodalan. Pementasan Calonarang selalu dilaksanakan disebelah barat dari tumbuhnya pohon asem.
36. Perantenan.
Perantenan adalah bangunan yang khusus difungsikan sebagai tempat memasak berbagai penganan sarana upacara dalam rangkaian piodalan, wali atau karya.
37. Palinggih Piyasan Beji.
Bangunan ini berfungsi hampir sama dengan Pelinggih Piyasan di Pura Dalem, hanya bentuknya saja agak lebih kecil.
38. Palinggih Padma Beji.
Beji merupakan sebuah tempat yang selalu berhubungan dengan sumber air suci dan berfungsi sebagai tempat para Dewata masucian (membersihkan diri). Di Pura Beji dipuja Dewi Gangga, sumber dari air suci Menurut tradisi, bahwa ada dua kegiatan upacara yang berhubungan dengan Pura Beji, yaitu pada saat pelaksanaan Upacara Nyangling dan Upacara Ngabejiang. Kedua bentuk kegiatan upacara tersebut dilaksanakan setiap upacara piodalan, baik pada saat upacara besar (karya ageng) maupun upacara kecil (karya alit).
39. Patung Nandiswara
Nandiswara sebagai aspek Nandi dalam bentuk manusia berkepala seperti kera, bertugas menjaga pintu masuk candi sebelah Kanan dari arah pintu gerbang. Arca dalam posisi berdiri, di belakang terdapat sirascakra. Tangan kanannya  memegang senjata gada. Dalam pustaka Uttarakandha digambarkan bahwa Nandiswara bersama-sama dengan mahakala sebagai penjaga gunung, dan berjasa dalam mengatasi kesaktian Sang Rahwana. Karena jasanya tersebut, oleh Bhatara Indra, baik Nandiswara maupun Mahakala, diberi anugrah menjadi dewa penjaga pintu. Patung ini hanyalah dekorasi dan bukan bangunan suci yang terletak di sebelah barat/kanan dari arah Pura Dalem Celuk.
40. Patung Mahakala
Mahakala secara etimologi, mahā berarti besar dan kala berarti waktu atau kematian, jadi mahakala berarti penguasa waktu atau kematian yang sangat besar. Mahakala merupakan kekuatan destruktif utama Brahman dan mereka tidak dibatasi oleh peraturan apapun. Mahakala memiliki kekuatan untuk membubarkan ruang dan waktu, bahkan pembubaran alam semesta. Mahakala biasanya digambarkan berwarna hitam. Hal ini mempunyai makna bahwa semua warna akan diserap oleh warna hitam. Mahakala sendiri memiliki banyak versi atau variasi. Variasi yang paling menonjol dalam manifestasi dan penggambaran Mahakala ada pada jumlah senjata, namun rincian lainnya juga bisa bervariasi. Mahakala digambarkan mempunyai 6 tangan, 4 tangan atau 2 tangan. Patung ini hanyalah dekorasi dan bukan bangunan suci yang terletak di sebelah timur / kiri dari arah Pura Dalem Celuk.
41. Dugul Bale Malang.
Secara etimologi kata malang berasal dari mala dan alang yang artinya menghalangi segala sesuatu yang tidak baik , jadi Bale malang adalah tempat pemujaan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi agar menghalang halangi semua energi negatif atau niat niat buruk sehingga di lingkungan desa dapat terhindar dari segala kejadian kejadian buruk dan tercipta keamanan di lingkungan desa ataupun pura. Bale Malang ini diperkirakan mengadopsi dari Pura Dalem Kaler Singapadu.
42. Piyasan Bale Malang.
Berfungsi hampir sama dengan Pelinggih Piyasan di utama mandala Pura Dalem Desa Adat Celuk, hanya bentuknya lebih kecil dan sederhana.
43. Bangunan Paud Kumara Jaya.
Bangunan Paud Kumara Jaya  ini khusus difungsikan sebagai ruang belajar mengajar untuk Pendidikan anak usia dini dari usia 2 sampai 5 tahun.
44. Palinggih Beringin.
Pelinggih ini difungsikan untuk menghaturkan upacara upakara yang berkaitan dengan prosesi Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya, pada waktu Krama Desa memerlukan bagian dari pohon beringin untuk sarana upacara.
45. Kantor LPD Desa Adat Celuk.
Kantor Lembaga Perkreditan Desa di Desa Adat Celuk difungsikan sebagai tempat seluruh masyarakat dalam melaksanakan transaksi keuangan, LPD Desa Adat Celuk adalah lembaga keuangan milik Desa Adat Celuk yang memberikan berbagai macam jasa keuangangan kepada masyarakat, antara lain dalam bentuk tabungan ataupun pinjaman dan lain sebagainya. Peran LPD sangat besar bagi perekonomian warga Desa Adat Celuk. Setiap tahun LPD Desa Adat Celuk selalu mengkontribusikan sebagian keuntungannya untuk pembangunan dan upacara di Desa Adat Celuk.
46. Pasar Tenten.
Bangunan ini adalah bangunan berlantai 3, lantai 1 difungsikan sebagai pasar, tempat masyarakat membeli berbagai kebutuhan pokok sehari hari, pasar ini dikelola oleh Banjar Adat Celuk.
47. Palinggih Ulun Pasar.
Secara Etimologi ulun artinya kepala atau pusat, pasar adalah tempat orang orang melakukan jual beli. jadi ulun pasar ini adalah palinggih pemujaan Ida Sang Hyang Widhi untuk memohon agar segala kegiatan jual beli di pasar dapat berjalan dengan baik dan lancar serta dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi semua pihak. Palinggih ini difungsikan untuk memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi beliau sebagai Bhatara Rambut Sedana.
48. Area Parkir.
Area parkir di pura dalem celuk ini cukup luas, difungsikan untuk menampung kendaraan para pemedek pada saat upacara, difungsikan juga sebagai area parkir pasar. Pada masa ngaben difungsikan sebagai tempat Bale Anyar.
49. Setra Desa Adat Celuk,
Adalah tempat dikuburnya krama banjar adat yang meninggal, juga tempat melaksanakan upacara pengabenan kolektif setiap 3 tahun sekali, terkecuali untuk Wiku, Pemangku Khayangan Tiga dan Mangku Panti yang di Aben langsung setelah meninggal sesuai dengan padewasan dan perarem Banjar. Dalam upacara Nangiang Ngatep Sasuhunan Ida Bhatara Ratu Gede, di setra dilaksanakan upacara  nyambleh.
50. Genah Prabot atau Garase.
Bangunan ini khusus difungsikan untuk tempat parkir truk sampah dan juga difungsikan sebagai tempat menyimpan peralatan milik Banjar dan Desa Adat Celuk.
51. Toilet Umum.
Bangunan ini terletak disebelah timur garase dibangun untuk toilet umum.
52. Bak Sampah.
Tempat masyarakat mengumpulkan sampah sisa upacara, sebelum diangkut oleh truk sampah ke tempat pembuangan akhir.
Sekian banyak Pelinggih, bangunan penunjang serta piranti yang terdapat dilingkungan Pura Dalem Adat Celuk, selalu dipelihara dan difungsikan sesuai dengan peruntukannya oleh seluruh krama Desa Adat Celuk.
IV.2.       Pura Kawitan, Panti atau Paibon.
Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau leluhur berdasarkan garis kelahiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebih luas dari pura milik warga atau pura klan. Dengan demikian maka pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klan kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasa berasal dari nenek moyang yang sama. Klan ini mempunyai tempat pemujaan yang disebut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih atau Nuclear Family dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar atau extended family. Didalam lontar Siwagama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura Ibu, setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih Pretiwi dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang semuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Desa Adat Celuk terdapat 18 Pura Kawitan, antara lain:
1.     Pura Ibuangin.
Pura Kawitan Ibuangin diemong oleh Wangsa Gaduh berjumlah 12 KK, dengan Pemangku: Jro Mangku Darsana Putra dan Jro Mangku Mustiari. Kelian Pura: I Wayan Adi Semara Putra, Wakil Kelian: I Ketut Arianta Odalan / Wali dilaksanakan pada setiap Budha Umanis Medangsia.
2.     Pura Pande.
Pura Pande diemong oleh Wangsa Pande Bratan berjumlah 32 KK, dengan Pemangku: Jro Mangku Wiasta dan Jro Mangku Luh Wistri. Kelian Pura: I Nyoman Wandra, Wakil Kelian: I Wayan Bratayana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Kliwon Gumbreg.
3.     Pura Sanggar Agung.
Pura Sanggar Agung diemong oleh Wangsa Pasek Selat berjumlah 31 KK, dengan Pemangku: Jro Mangku Gria dan Jro Mangku Suati. Kelian Pura: I Wayan Santa, Wakil Kelian: I Kadek Parmasta Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Anggara Kasih Medangsia.
4.     Pura Anggar Kasih.
Pura Anggar Kasih diemong oleh Wangsa Pasek Buitan berjumlah 11 KK, dengan Pemangku: Jro Mangku Suarsa dan Jro Mangku Masni. Kelian Pura: Komang Suarnawa, Wakil Kelian: I Nyoman Diana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Anggara Kasih Prangbakat.
5.     Pura Dalem Kedewatan.
Pura Dalem Kedewatan diemong oleh Wangsa Arya Wang Bang Pinatih berjumlah 23 KK dan Wangsa Batan Jeruk 10 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Artana dan Jro Mangku Sariadi. Kelian Pura Agus Dwi Ambita, Wakil Kelian: Kadek Pradnyana Dana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Purnamaning Kasa Nemu Pasah.
6.     Pura Budha Keling.
Pura Budha Keling diemong oleh Wangsa Pasek Buda Keling berjumlah 20 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Rasma dan Jro Mangku Kendriwati. Kelian Pura: I Wayan Budayadnya, Wakil Kelian: I Made Pastika. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Buda Kliwon Ugu.
7.     Pura Buda Manis Dauh.
Pura Buda Manis Dauh diemong oleh Wangsa Arya Dauh Bale Agung berjumlah 14 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Sukerti. Kelian Pura: I Wayan Suparta, Wakil Kelian: I Wayan Gede Eka Budiarta, S.H. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Umanis Prangbakat.
8.     Pura Buda Manis Panasan.
Pura Buda Manis Panasan diemong oleh Wangsa Panasan berjumlah 22 KK, Wangsa Arya Dauh Bale Agung 4 KK dan Wangsa Jelantik 15 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Asmarajaya dan Jro Mangku Sulasih. Kelian Pura: I Nyoman Wiradana, Wakil Kelian: Ketut Suparja. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Buda Manis Kulantir.
9.     Pura Budha Kliwon Pagerwesi.
Pura Budha Kliwon Pagerwesi diemong oleh Wangsa Bandesa Manik Mas berjumlah 2 KK, dengan Pemangku: Jro Mangku Muliartha dan Jro Mangku Ary Suliastini. Kelian Pura: I Wayan Sudiarta, Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Kliwon Pagerwesi.
10. Pura Budha Kliwon Sinta.
Pura Buda Kliwon Sinta diemong oleh Wangsa Padang Subadra berjumlah 4 KK dan Wangsa Pasek Bandesa berjumlah 12 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Gejir dan Jro Mangku Rati, Kelian Pura: I Wayan Badra, S.H, Wakil Kelian: I Ketut Karmita. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Buda Kliwon Sinta.
11. Pura Buda Kliwon Wasan.
Pura Buda Kliwon Wasan diemong oleh Wangsa Wasan berjumlah 25 KK dan Wangsa Jelantik berjumlah 5 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Sukadana dan Jro Mangku Adnyani. Kelian Pura: I Made Wasanta, Wakil Kelian: I Wayan Karmana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Buda Kliwon Pahang.
12. Pura Pejenengan Buda Cemeng.
Pura Pejenengan Buda Cemeng diemong oleh Wangsa Sri Karang Buncing berjumlah 70 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Kantra Yana dan Jro Mangku Pantiasih. Kelian Pura: I Ketut Pasna, Wakil Kelian: Wayan Karang Asmana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Cemeng Warigadean.
13. Pura Tambyak.
Pura Tambyak diemong oleh Wangsa Ken Tambyak berjumlah 13 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Sukadana dan Jro Mangku Atik. Kelian Pura: I Made Kencana, Wakil Kelian: Made Budiasa. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Buda Kliwon Pahang.
14. Pura Madya.
Pura Madya diemong oleh Warga Pasek Bandesa berjumlah 12 KK dengan Pemangku : Jro Mangku Sulastra dan Jro Mangku nengah Karianti. Kelian Pura : I Wayan Subaya, Wakil Kelian : I Ketut Suryadana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Anggar Kasih Kulantir.
15. Pura Budha Cemeng.
Pura Budha Cemeng diemong oleh Wangsa Pasek Bandesa beriumlah 20 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Sulastra dan Jro Mangku Nengah Karianti. Kelian Pura: I Wayan Trena Patra, Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Cemeng Ukir.
16. Pura Santi.
Pura Santi diemong oleh Wangsa Pasek Bandesa berjumlah 5 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Landra dan Jro Mangku Antari. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Manis Tambir.
17. Pura Madya.
Pura Madya diemong oleh Wangsa Sri Karang Buncing berjumlah 70 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Diarsa dan Jro Mangku Nurasti. Kelian Pura: Ketut Pasna, Wakil Kelian: Wayan Karang Asmana. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Anggara Kasih Medangsia.
18. Pura Penyeneng.
Pura Penyeneng diemong oleh Wangsa Soroh Pasek Gelgel berjumlah 2 KK dengan Pemangku: Jro Mangku Sunarta dan Jro Mangku Dilewati. Kelian Pura: I Wayan Darsana Yasa. Odalan atau Wali dilaksanakan pada setiap Budha Manis Medangsia.
19. Wangsa-wangsa Dengan Pura Kawitan diluar Desa Adat Celuk
Selain Wangsa yang mengempon 18 Pura Kawitan diatas, masih ada 9 wangsa lagi yang memiliki pura Kawitan diluar dari wilayah Desa Adat Celuk, antara lain: Wangsa Bandesa Manik Mas sejumlah 36 KK yang menggempon Pura Penataran Taman Sari Buda Manis Tangsub di Banjar Tangsub, Wangsa Pemayun = 12 KK, Wangsa Tutuan = 2 KK, Wangsa Pulasan = 7 KK, Wangsa Pasek Pejeng = 3 KK, Wangsa Bujangga Waisnawa = 4 KK, Wangsa Brahmana Keniten (Giriya Selat) = 1 KK, Wangsa Brahmana Kemenuh Celuk = 1 KK, Wangsa Brahmana Budha Giriya Tegal = 1 KK.

1 komentar:

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus