Kamis, 28 Maret 2013

CARU CARU / TAWUR



CARU / TAWUR

TAWUR/CARU sebagai korban orang yang punya caru\, sebagai penebus hukuman orang yg berdosa ataupun pertanda buruk, malapetaka, dan isyarat yang kurang baik (Kala Tattwa)

Jenis-jenis caru :
1.       Caru Eka Sata
2.       Caru Panca Sata
3.       Caru Rsi Ghana
4.       Caru Penolak Mrana/ Gering Tempur
5.       Caru Panca Sanak Madurgha
6.       Caru Bhuta Yadnya Medana-dana/ Gempong Asu
7.       Caru Panca Sanak Agung
8.       Caru Panca Wali Krama
9.       Caru Panca Kelud
10.     Caru Walik Sumpah
11.      Caru Tawur Gentuh
12.     Caru Tawur Agung
13.     Tawur Eka Dasa Rudra





I. 
CARU EKA SATA

Jenis-jenis caru eka sata :

a.       Caru ayam brumbun/Pengruwak  (berwarna putih-merah-kuning-hitam)
b.      Caru Dengen ( menggunakan ayam putih nulus
c.       Caru Preta ( menggunakan ayam biying atau bulunya merah )
d.      Caru Ananta Kusuma ( menggunakan ayam putih siyungan atau bulunya putih namun paruh dan kakinya kekuning-kuningan
e.      Caru Bicaruka ( menggunakan ayam ireng mulus )

Penggunaannya :
1.       Menyertai Piodalan
2.       Perombakan suatu tempat/hutan
3.       Pembongkaran atau peletakan batu pertama untuk suatu bangunan suci
4.       Permulaan menggunakan suatu bangunan seperti rumah, bale, banjar, pura dll

Tetandingannya ;

Tahap 1. Mempersiapkan Olahan ayam

1.       Sebelum menyembelih binatang korban untuk caru/tawur, didahului dengan mantra :
“ Om pasu pasa ya wihmane sira ceda ya dimahi, tanne jiwah pracodaya”
Artinya, Om Hyang Widhi Wasa, hamba menyembelih hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.

2.       Hewan tersebut dikuliti (dalam keadaan kering/jangan diseduh dg air panas) sehingga kepala. Sayap, kaki dan ekornya masih melekat dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya ( dibuat blulang ayam/walung malayang-layang)

3.       Dagingnya diolah menjadi :
-          Urab-uraban antara lain : urab barak, urab putih, gegecok
-          Berbagai jenis sate, antaralain : lembat, asem, dan calon
Ketiga jenis sate dan urab-uraban disebut Trinayaka yaitu symbol jasmani binatang tersebut yang aksaranya Ang, Ung, Mang.

4.        Dari hasil urab-uraban dan sate tersebut diatur menjadi beberapa tetandingan, yaitu ;

a.       Karangan
Alasnya        :               sebuah taledan
Isinya  : urab barak, urab putih, sate lembat 2 buah, sate  asem 2 bh, sate calon 2 bh, lalu dilengkapi dengan nasi sokan, berisi lekesan.
Sampyan     :  sampyan nagasari


b.      Kawisan
Alasnya        :   sebuah taledan
Isinya          :   urab barak, urab putih, sate lembat 2 bh, sate asem 2 buah, sate calon 2 buah, lalu dilengkapi dengan nasi pangkonan (setengah bundar dg dialasi daun ), berisi lekesan.
Sampyan     :   canang genten



c.       Bayuhan
Alasnya          :  sebuah taledan
Isinya            :   urab-uraban, sate tiap jenis 1 bh, dibuat tetandingannya sejumlah  urip pangideran, nasinya menggunakan tumpeng danan 2 bh dengan  warna dan jumlah set tumpeng danannya  sesuai urip pengideran , dilengkapi garam dan sambal serta raka-raka.
Sampyan     :  sampyan metangga/peras

d.      Ketengan
Alas                :  taledan kecil berisi tangkih sejumlah urip pengiderannya
Isinya            :    nasi sasah sesuai dengan warna pengidernya dilengkapi dengan urab-uraban dan sate tiap jenis 1 bh.
Sampyan     :        canang genten

Tahap 2. Tetandingan banten tambahan :

a.              Segehan cacahan.

Sejumlah urip dan warna pengideran, dengan menggunakan alas taledan, dilengkapi ulam bawang jahe dan garam serta adeng, diatas nya dilengkapi canang genten.

b.              Cau danan

Bentuk jejahitannya seperti kapu-kapu, dibuat bergandengan sejumlah urip pengiderannya, masing-masing berisi nasi sesuai warna arah, dilengkapi dengan kacang-saur dengan sebuah sampyan plaus

c.              Tulung sangkur

Alasnya ceper  berisi tulung sangkur sejumlah urip pengiderannya, berisi nasi  warna sesuai arah, dilengkapi dengan kacang-sauh, dilengkapi sampyan plaus  


d.              Takep-takepan

Takep-takepan berisi tatukon (base tampelan,beras,benang,uang kepeng) sejumlah urip pengiderannya


e.              Kalakat

Anyaman bamboo berbentuk bujursangkar sebagi alas layang-layang hewan korban

f.        Daun talujungan
Ujung daun pisang yang digunakan pada sanggah cucuk, dan sebuah lagi diatas kelakat sebagai alas layang-layang

f.               Sebuah kwangen

Yang berisi uang kepeng sesuai dengan jumlah urip pengiderannya

g.              Sanggah pesaksi Sanggah Surya

Dihias dengan tikar, candiga, gantung-gantungan serta diisi beberapa banten

h.              Sanggah cucuk

Dihias dengan janur pada pinggirnya secara berkeliling, lalu lamak, daun talunjungan, gantung-gantungan

i.               Sengkwi

Dianyam sejumlah urip pengiderannya, dipakai sebagai alas caru

j.               Kain berwarna

Warnanya sesui dengan pengiderannya, diletakkan diatas sanggah cucuk

k.              Tetimpug

Terdiri atas 3 ruas bambu utuh lalu diikat menjadi satu, yang diletakkan nantinya diatas dapur darurat (3 bh bata tersusun) lalu dibakar agar mengeluarkan suara letusan 3 kali


l.               Sapu

Sebagai alat pembersih

m.            Tulud

Sebagai alat untuk mendorong-dorong sisa sampah


Tahap 3. Tata cara Pengaturan Susunan Caru

1. Pada arah timur laut ditancapkan sanggah pasaksi, dimana hulunya menghadap timur laut. Hias dengan tikar, candiga, gantung-gantungan
Letakkan didalam sanggah beberapa banten yaitu; Suci, pejati
Letakkan di bawah pada depan sanggah berupa banten Gelar sanga

2. Di sebelah barat Sanggah Pasaksi ditancapkan sanggah cucuk yang sudah dihias dan dilengkapi dengan tikar kecil. Pada bawah sanggah cucuk digantungkan sujang atau cambeng berisi tetabuhan seperti arak, berem, tuak dan toya. Letakkan banten didalam sanggah cucuk antara lain : tumpeng danan, tadah sukla, canang lengawangi

3. Dibawah sanggah cucuk, pada natar/natah dipasang sengkwi memakai anyaman 8 sebagai jumlah urip tengah, diatasnya berturut-turut disusuni karangan, kawisan, bayuhan, ketengan, segehan cacahan, cau dandan, takep-takepan, tulung sangkur, kalakat sudamala dengan alas daun talujungan, laying-layang ayam brumbun, sebuah kwangen berisi uang sesari 8 kepeng dilengkapi nasi wong-wongan berwarna brumbun.

4. Disebelah-menyebelah diletakkan banten tumpeng yaitu :

Tumpeng putih 5 buah di timur
Tumpeng merah 9 buah diselatan
Tumpeng kuning 7 buah di barat
Tumpeng hitam  4 buah di utara
Dengan dilengkapi dengan rerasmen, raka-raka dan sampyan tumpeng

5. Pada bagian hulunya layang-layang diletakkan banten suci, daksina, peras
Sedangkan banten caru lainnya yang menyertai diletakkan pada sekelilingnya berupa : penyeneng, sorohan, sasayut pengambeyan, pangulapan, ajuman, tipat kelanan, sanggahurip, segehan agung

6. Didepan pemimpin upacara diletakkan tebasan durmenggala, pabersihan, tabuh-tabuh, dupa, tirta caru, tirta pabyakalan. Byakala dan prayascita diletakkan agak terpisah didepan pemimpin upacara

7. Tetimpug diletakkan ditempat yang agak aman dekat tempat upacara diatas dapur darurat



II. 
CARU PANCA SATA

Kekuatan perlindungan dari caru Panca Sata sesuai dengan penjelasan Kala Tattwa yaitu selama satu tumpek (35 hari) Perlengkapannya sama dengan caru eka sata namun dibuat 5 tanding dasar caru dimana warna dan jumlah segehan dllnya sesuai dengan pengidernya

Tata cara pengaturannya :

1. Pada arah timur laut ditancapkan sanggah pasaksi, dimana hulunya menghadap timur laut. Hias dengan tikar, candiga, gantung-gantungan
Letakkan didalam sanggah beberapa banten yaitu; Suci, pejati Letakkan dibawah pada depan sanggah berupa banten Gelar sanga

2.  Di sebelah barat Sanggah Pasaksi ditancapkan 5 buah sanggah cucuk yang sudah dihias dan dilengkapi dengan tikar kecil. Pada bawah sanggah cucuk digantungkan sujang atau cambeng berisi tetabuhan seperti arak, berem, tuak dan toya anyar Letakkan banten didalam sanggah cucuk antara lain : banten peras, tulung sayut, ajuman/soda

3. Dibawah masing-masing sanggah cucuk, pada natar/natah dipasang sengkwi memakai anyaman sebagai jumlah urip pengidernya, diatasnya berturut-turut disusuni karangan, kawisan, bayuhan, ketengan, segehan cacahan, cau dandan, takep-takepan, tulung sangkur, kalakat sudamala dengan alas daun talujungan, laying-layang ayam (dengan warna sesuai pengider-ider), sebuah kwangen berisi uang sesari sejumlah kepengnya sesuai urip pengider-ider  dilengkapi banten tumpeng dimana jumlah dan warna tumpeng sesuai dengan pengider-ider.

4.  Pada bagian hulunya layang-layang diletakkan banten suci, daksina, peras Sedangkan banten caru lainnya yang menyertai diletakkan pada sekelilingnya berupa : penyeneng, sorohan, sasayut pengambeyan, pangulapan, ajuman, tipat kelanan, sanggahurip, segehan agung

5. Didepan pemimpin upacara diletakkan tebasan durmenggala, pabersihan, tabuh-tabuh, dupa, tirta caru, tirta pabyakalan. Byakala dan prayascita diletakkan agak terpisah didepan pemimpin upacara

6.Tetimpug diletakkan ditempat yang agak aman dekat tempat upacara diatas dapur darurat








III.  
CARU RSI GHANA


Terdiri atas :

1.       Rsi Ghana Alit dimana masa perlindungannya 6 bulan
2.       Rsi Ghana Agung dimana masa perlindungannya 6 tahun

Digunakan bila didalam satu pekarangan mengalami:

a.       Salah satu keluarga mengalami salah pati atau ngulah pati
b.      Salah satu bangunan disambar petir
c.       Kemasukan orang gila
d.      Bangunannya kejatuhan pohon besar hingga cacat
e.      Kebanjiran atau dihanyutkan banjir besar
f.        Menjadi tempat orang mengamuk, perang, berkelahi
g.       Kebakaran
h.      Kemasukan binatang besar
i.         Kemasukan bhuta kala
j.        Suasana keluarga memanas dan keruh


A. Rsi Ghana Alit

Tata cara :

1.     Nanceb sanggah tuttwan

Upakaranya terdiri dari : suci, rantasan, uang sesari 1700 Pada depan natar atau halamannya merajah Padma astadala sebagai tempat Caru Rsi Ghana
Di dahului dengan membuat lubang ditanah lalu ditaburi tepung untuk membuat rerajahan Padma Asta Dala

Pada arah timur aksara sucinya Sa =
Pada  arah selatan aksara sucinya Ba =
Pada arah barat aksara sucinya Ta =
Pada arah utara aksara sucinya A =
Pada arah tenggara aksara sucinya Na =
Pada arah barat daya aksara sucinya Ma =
Pada arah barat laut aksara sucinya Si =
Pada arah timur laut aksara sucinya Wa =
Di madya atau tengah-tengah aksara sucinya Ya =

2.     Tetandingan Rsi Ghana

a.       Alasnya menggunakan tamas agak besar berisi nasi pangkonan 9 buah dialasi plawa / daun nagasari yang masing-masing berisi rerajahan aksara suci, sebagai berikut :
-          Plawa di timur dirajah Ong =
-          Plawa di selatan dirajah Ang =
-          Plawa di barat dirajah Reng =
-          Plawa di utara dirajah Si =
-          Plawa di tenggara dirajah Ga =
-          Plawa di barat daya dirajah Na =
-          Plawa di barat laut dirajah Ba =
-          Plawa di  timur laut dirajah Wa =
-          Plawa di tengah dirajah Ma =

b.      Lalu pada masing-masing nasi pengkonan ditancapi setangkai bunga teratai dan diberi ulam seekor itik/bebek putih yang diolah selengkapnya tanpa memakai sate / jajatah.

c.       Caru pada halaman/natar memakai caru Panca Sata Malayang-layang dengan masing-masing dialasi kelabang maikuh sesuai dengan urip dan warna pengider-ider
Kelengkapan caru lainnya yaitu : sesayut pengambyan, pangulapan, prayascita luwih, tumpeng agung maulam guling itik putih, daksina, dan kelimanya memakai uang sasari 5555, sebuah pane anyar berisi nasi ketengan sesuai jumlah urip pancawara Nasi pujungan masing-masing 1 bh.

d. Khusus untuk caru yang ditengah, dilengkapi suci 1 soroh, sesayut durmenggala, panca kelud, peminyak kala, pemangguh pamali

e.  Di sanggah Kemulan terdiri atas : suci 1 soroh selengkapnya

f.  Untuk pemimpin upacara : suci 1 sorog, penglukatan, peras lis, tatimpug yang nantinya jika sudah selesai upavcara harus ditananm di natar/halaman merajan

g. Kepada yang ngerajah natar, upakaranya berupa daksina dengan sesari 125
Kepada yang negrajah daun plawa/nagasari diberi daksina dengan sesari 77


B. RSI GHANA MADYA

Kegunaannya untuk pamarisudhaning karang panas dan sanggar atau tempat suci seperti Pura Kahyangan Tiga, Panggulan / empelan, tegalan serta sawah

Tata cara pengaturan :

a.  Mendirikan sanggar tutwan memakai penjor tiying gading berisi 2 kober rerajahan Ghana membawa bajra dan satu lagi Ghana membawa Gada, dilengkapi dengan daun beringin satu cabang ditempatkan diarah timur laut serta daunnya yang merajah Cakra ditempatkan didepan sanggar tuttwan. Upakaranya : suci 2 soroh lengkap, tumpeng adanan, peras, daksina berisi sesari 1700, canang lengawangi buratwangi.

b.  Pada natar atau halaman merajah padma asta dala, aksara suci rerajahannya :

c. Selanjutnya diletakkan caru Rsi Ghana berupa sega atau nasi pangkonan 9 buah dialasi tamas yang besar. Pada masing-masing nasi pangkonan dialasi daun nagasari  marajah aksara suci : Pada nasi masing-masing ditancapi bunga tunjung dengan ulamnya memakai seekor itik diolah lengkap tanpa sate / jajatah.

d.  Carunya menggunakan Caru Panca Sata ayam melayang-layang winangun urip dialasi sengkwi. (sama dengan susunan caru panca sata seperti diterangkan diatas)Upakaranya terdiri dari : tumpeng adandanan ditengah daksina gede berisi sesari 500, masing-masing dilengkapi dengan bayuhan, peras, penyeneng, sesayut pengambean. Untuk sanggah cucuk yang ditengah disertai suci 1 soroh, gelar sanga, nasi segau, tepung tawar, lis bebuu, tebasan prayascita luwih, durmenggala, prayascita, sebuah pane anyar, kukusan, dangdang, sibuh pepek, tatimpug, sujang masing-masing 4 bh dan pada sanggah cucuk berisi tuak, arak, berem, toya anyar.

e. Upakara pada tempat pemujaan : 1 soroh suci lengkap, sarana penglukatan, daksina berisi sesari 1.100.

f. Daksina sang ngerajah natar, uang sesarinya 125
Daksina sang ngerajah daun nagasari, uang sesarinya 100


C.RSI GHANA AGENG

Tata cara pengaturannya :

a.      Sama dengan Rsi Ghana Madya, carunya menggunakan caru Panca Sata Ayam melayang-layang ditambahkan dengan Caru Asu Bang Bungkem yang diletakkan ditengah-tengah caru Panca Sata.  Khusus pada caru asu bang bungkem melayang-layang harus dialasi dengan sengkwi maikuh. Olahan dagingnya dibuatkan urab barak-urab putih, sate lembat, sate asem, sate calon agung, dan ulam karangan.

Pengaturan tetandingannya  :
Sate lembat, sate asem  masing-masing 33 biji dijadikan 33 bayuhan lalu dijadikan 3 sengkwi, dilengkapi dengan ulam karangan 1, calon agung sesuai dengan jumlah urip pengiderannya. Nasi/sega 33 dan takep-takepan, lis, sanggahurip masing-masing. Canang brakat manca desa, rantasan 5 warna , sekar / bunga 5 warna, jun pere berisi toya anyar manca desa, alas-alasan, pasucian, isuh-isuh, nasi segau, tepung tawar, benang tetetbus, rarakih masing-masing

b. Pada tempat pemujaan untuk pemuput upacara : suci 1 soroh, penglukatan, samsam, bija kuning, soda, peras, lis, bebuu, nasi segau, tepung tawar, sesarik, alas-alasan, benang tetebus 5 warna

c.  Upakara di sanggar tutwan : daksina berisi uang sesari 5500,
peras , sesayut, pengambyan, prayascita luwih, nasi segau, tepung tawar, sebuah pane anyar, kukusan, pangedangan, sebuah sibuh pepek.





IV. 
CARU PENOLAK MRANA
ATAU GERING TEMPUR

Digunakan bila terjadi :

1.       Tertimpa reruntuhan pohon yang besar
2.       Kemasukan orang mengamuk
3.       Kemasukan gelap
4.       Terjadi kebakaran
5.       Segala jenis kekotoran atau kadurmenggalaan

Tata cara pengaturan :
·       Mendirikan sanggar tutwan
Upakaranya :
- Suci 2 soroh lengkap
- Tumpeng adandanan, rantasan saperadeg
-Tubungan putih 7 buah, tubungan ijo 7 buah dialasi limas
- Bungkak nyuh gading makasturi
- Canang daksina berisi sesari 1700

·       Di sor sanggah Surya
Upakaranya : Gelar sanga
·       Pada laapan atau asagan ,
                         Upakaranya:  babangkit asoroh maguling babi
·       Pada natar/halaman :
Upakaranya : Sebagai dasar menggunakan caru panca sata ayam manca warna lengkap. Tambahan untuk caru yang ditengah : suci asoroh jangkep, prayascita luwih, tebasan durmenggala, sasayut panca kelud, paminyak kala, pamangguh pamali, lis, sanggahurip, dilengkapi canang berkat masing-masing pada kelima tempat itu, rantasan manca warna serta sega manca warna.

Pada caru asu bangbungkem seganya 33 lengkap dengan takep-takep dan jun pere berisi toya untuk kelima tempat, berisi alas-alasan, pasucian, isuh-isuh, nasi segau, tepung tawar, tetebus dan rarakih
·       Pada tempat pemujaan ,
upakaranya :
- Suci 1 soroh
- Soda, peras
- Penglukatan, samsam, wija kuning, lis bebuu, segau, tepung tawar, sasarik, tetebus panca warna






V. 
CARU PANCA SANAK MADURGHA ATAU
CARU PANCA SANAK TAWUR MADIA

Digunakan pada :

- Kahyangan
- Pengulun setra
- Pura Dalem
Tata cara pengaturannya :

a. Sebagai dasarnya menggunakan caru Panca Sata selengkapnya
b. Untuk caru di tengah / madya dilengkapi dengan Bawi butuhan/kucit butuhan/babi jantan.
c. Caru ini tidak menggunakan bebangkit walaupun akan ngusaba di sawah
d. Caru ini dapat digunakan tetapi nasi caru pada amanca desa/lima tempat memakai sega punjungan 33 sesuai dengan warna pengideran kendatipun dipakai pada Padudusan Alit
e. Bila caru ini akan digunakan di desa-desa , harus memohon tirta pamuput caru di pura Dalem, Kahyangan Pengulun setra dan bila digunakan di sawah maka wajib memohon tirta pamuput caru di Pura Bedugul Pangulun Sawah





………oo0oo……..
Selesai dikumpulkan  Tanggal 1 Mei 2012
Oleh :
Ida Bagus Bajra
Asrama di Giriya Gunung Payangan Gianyar Bali
No Telepon (0361) 8621075. 081353099558





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar