Minggu, 16 Juni 2013

(File Kajian)



(File Kajian)
Dimohonkan untuk dikaji

1.    Pokok Kajian
Dalam rangka penelusuran sejarah kewangsaan di daerah lembah sungai Wos, terutama wilayah Jungut Ubud yang berhubungan sangat erat dengan Pura Campuan Ubud, yang dahulu diperkirakan sebagai tempat suci bagi Rsi Markandya dan para pengikutnya. Dimohonkan untuk dikaji kemungkinan-kemungkinan perpindahan penduduk dari dusun-dusun tua Bali Kuno, mulai pada zaman pemerintahan :
o   Dinasti Warmadewa (914-1119),
o   Wangsa Jaya (1133-1284),
o   Wangsa Singosari (1284. Kebo Parud),
o   Warmadewa (1324-1337)
o   Wangsa Samprangan dan Gelgel (1502-1655)
o   Angelurah Agung Maruri (1665-1686)
o   Dinasti Klungkung (1686-1868)

2. Pertimbangan Kajian
2.1. Perjalanan Suci Orang Aga Ke Bukit Uluwatu.
Pada sekitar pertengahan tahun 1243 Masehi, Antara pemerintahan raja Adidewalancana dan terjadinya serangan Singosari atas raja Bali, pada bulan terang, awal musim kering, terjadi wabah penyakit di daerah Buleleng, penyakit aneh tersebut sudah merenggut banyak sekali jiwa penduduk Buleleng. Penyakit Cacar air atau bahasa medisnya adalah smallpox atau variola yang diperkirakan berasal dari India ini sudah menjangkiti wilayah Buleleng timur antara lain Desa Julah, Tejakula, Bondalem dan penduduk yang mendiami pinggiran Tukad Palad, Tukad Mejan, Tukad Samuh dan tukad Palijan.
Banyak penduduk terkena penyakit dengan gejala yang aneh mulai dengan demam dan sakit kepala Setelah dua atau tiga hari kemudian mulai muncul bintik merah datar, lalu menjadi menonjol, kemudian muncul cairan didalamnya berupa air, nanah dan darah seperti melepuh disertai rasa gatal-gatal, dalam jangka waKetutu kurang dari seminggu, penduduk yang terjangkit kemudian sulit untuk bernapas. Orang-orang menyebut penyakit ini Medewa,dan menurut para tetua desa penyakit ini disebabkan oleh kemarahan para leluhur dan dewa di gunung, berkeinginan bersuci di kakinya pulau Bali, yaitu bukit Uluwatu banyak sudah korban yang meninggal, terutama pada bayi dan anak-anak.
Setelah melakukan perundingan dengan para pemimpin desa, akhirnya diputuskan untuk mengirim beberapa penduduk pilihan, yang sehat dan pemberani untuk melakukan perjalanan suci menuju selatan. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan berjumlah tidak kurang dari 40 orang. Membawa perbekalan yang cukup dan juga alat-alat pertanian serta senjata untuk mempertahankan diri. Mereka juga membawa beberapa arca prelingga dan keris pusaka yang dikeramatkan. Ada juga dibawa beberapa cawan tembaga dan keramik yang biasa dipakai sebagai tempat mencampur atau meramu obat-obatan. Tujuan mereka adalah menghadap Hyang Ludra guna memohon perkenan agar desa di Barat Daya Pulau Bali (Bukit Uluwatu). Karena menurut tetua desa, penyakit yang dialami oleh penduduk itu datangnya dari sebelah barat daya desa, diujung pulau Bangsul.
Sebagaian dari mereka melakukan perjalanan suci menuju Tampurhyang (Batur). Sebagian lagi menuju arah barat ke Pucak Batukaru. Tidak dikisahkan perjalanan penduduk yang bergerak menuju kearah barat desa, dan perjalanan penduduk menuju Tampurhyang. Perjalanan 40 warga kuwu tukad Mejan menuju arah barat daya untuk menghadap Hyang Ludra di bukit Uluwatu. Perjalanan mereka menuju arah selatan menelusuri tepian Tukad Shyang Brata lalu sampai di Sukawana. Di Sukawana rombongan ini beristrirahat, sempat membangun beberapa pondok peristirahatan. Juga membangun beberapa bangunan darurat untuk melinggihkan arca pralingga yang dibawa dari utara. Mereka tinggal menetap sementara di sekitar pura Panarajon, Hal itu bisa dimaklumi karena wilayah Sukawana adalah bagian dari Banuwa yang beristilah sebagai Gebog Domas pura Pucak Penulisan, sehingga hubungan orang-orang dari lereng Tukad Mejan sangat dekat dengan  penduduk Sukawana.
Mereka kemudian meneruskan perjalanan menuju arah selatan. Menaiki daerah berbukit-bukit dengan tanah berpadas, wilayah gugusan bukit Kintamani. Di bukit Kintamani mereka diterima dengan baik oleh penduduk, diberikan makanan dan tempat untuk bermalam. Untuk beberapa lama mereka berbaur dengan masyarakat di Kintamani, ada juga beberapa yang kemudian memutuskan untuk tinggal menetap. Mereka membuat permukiman di daerah dataran sebelah utara danau Batur. Mulai membangun perdikan dengan penduduk kintamani dan penduduk Kuwu Tukad Mejan. Setelah beberapa lama mereka hidup dan bertani di lereng perbukitan Kintamani, terpilihlah beberapa orang yang bertugas melanjutkan perjalanan menuju Bukit Uluwatu, membawa serta arca prelingga dan alat-alat  yang dipandang perlu digunakan dalam perjalanan, dan akan disucikan.
Mereka menyebrangi daerah Banua Bayung Gede terus melanjutkan perjalanan menuju ke selatan, menuruni bukit Kintamani. Di hulunya Tukad Petanu, wilayah Tampasiring. mereka kembali beristirahat, Karena perpekalan habis, disana mereka kembali membuat perkebunan dan bercocok tanam, menanam berbagai tanaman musiman yang bisa dipakai sebagai bekal untuk meneruskan perjalanan. Pada sekitaran tahun 1279 Masehi para penduduk Aga yang berasal dari lembah Tukad Palad, Tukad Mejan, Tukad Samuh dan tukad Palijan. Membuat pemukiman di sebuah dataran subur diantara dua sungai besar, Sungai Petanu dan Pekerisan. Semakin hari semakin berkembanglah daerah itu, penduduk juga semakin banyak, sehingga terbentuklah sebuah kuwu atau Perdikan.
Kehidupan penduduk yang sudah mulai bercocok tanam mendorong mereka untuk bertempat tinggal tetap dan membangun kuwu dengan organisasi yang semakin teratur. Kehidupan religi mereka mereka juga semakin berkembang dengan pelaksanaan upacara-upacara yang berlandaskan konsep magis atau oleh ilmuan barat dikenal dengan konsep Simpatic Magic.
Upacara-upacara itu seringkali dilaksanakan saat menjelang kegiatan berburu. Upacara-upacara penguburan juga sudah mulai berjalan dengan baik, jasad penduduk yang meninggal diupacara terlebih dahulu baru kemudian diangkut ke batas selatan desa, di batas desa itulah jasad tersebut ditanam, dengan areal bernama Pelarungan atau pemakaman, itu menandakan mereka sudah mempunyai sebuah keyakinan adanya kehidupan lain setelah kematian, yang berarti juga mereka sudah meyakini bahwa arwah nenek moyang yang sudah diupacara mempunyai kemampuan mengatur, melindungi dan memberkahi para generasi yang masih hidup, atau sebaliknya mengganggu dan mengusik keturunannya yang berbuat salah.
Beberapa dari penduduk sudah mempunyai kemampuan yang tinggi dalam peleburan bijih-bijih logam, pengecoran logam untuk membuat perkakas bertani dan berburu. Penduduk juga mempunyai keahlian khusus membuat hiasan dengan motif-motif tertentu dari logam. Dengan adanya perkakas pertanian dari logam itu membuat pertanian, terutama perkebunan semakin maju, walaupun pertanian saat itu hanya mengandalkan air hujan, tanpa ada irigasi pengairan yang teratur. Kemampuan - kemampuan itu menunjukkan betapa tingginya tingkat kemajuan dalam bidang piroteknologi (pyrotechnology) yang telah dicapai.
Demikianlah kisah awal terbentuknya perdikan atau Kuwu di sekitar Tukad Petanu. Setelah sekian lama berlalu, setelah suasana desa tertata dengan baik, lengkap dengan konsep hulu teben dan Parahyangan kembalilah dikirim pemuda-pemuda pilihan untuk melanjutkan perjalanan menuju arah seletan, menuju Bukit Uluwatu, guna mensucikan beberapa arca dan pretima dari Buleleng. Perjalanan suci penduduk Kuwu Tukad Mejan menuju arah selatan melalui aliran sungai Petanu, menyebrang ke arah barat dan melanjutkan perjalanan ke arah selatan dengan menyusuri sungai Wos. Juga membangun perdikan-perdikan sepanjang aliran sungai dalam perjalanan tersebut.
2.2. Banjir Sungai Wos.
Dari sebuah sumber di Kuil Cina yang sedang dalam proses alih bahasa, ke dalam bahasa Belanda di Laboratorium bahasa Laiden University, Projec th 2014, ditemukan tulisan biksu Cina yang memuat tentang wilayah perdikan atau kuwu di sepanjang sungai wos (Woh) di Bali yang sudah tertata dengan baik, memakai konsep Hulu Teben, membujur di tepian timur sungai Wos (Woh). Bertahun masehi 1288. Dari selatan ke utara, dari hilir sungai Wos (Woh) sampai ke Hulu Sungai Wos (Woh).
Banjir besar terjadi disekitar tahun Masehi 1292, pada malam bulan mati, masa musim penghujan, menghanyutkan harta benda penduduk kuwu, bahan pangan dan ternak, juga benda-benda yang disakralkan dalam memuja Hyang, hanyut tersapu banjir. Penduduk yang selamat kemudian mendaki wilayah perbukitan dan mulai membuat pemukiman di tengah hutan, di sisi sebelah timur sungai.
Kehidupan sosial religius masyarakat diceritakan oleh biksu cina sebagai penyembah gunung, alam dan tempat-tempat keramat. Sering melakukan ritual keagamaan pada masa bulan terang dan bulan mati pada musim pancaroba antara musim hujan dan kemarau. Ritual dengan menyembelih ternak dan hewan luar yang kemudian dibagikan kepada penduduk sama rata, kecuali bagi para penghulu desa yang mempunyai bagian lebih banyak dari para penduduk biasa. Tatanan organisasi kuwu juga sudah tertata dengan sangat baik, dibidang kemasyarakatan dan bidang keagamaan.
2.3. Ekspedisi Majapahit
Setelah menyeberangi lautan pasukan Majapahit akhirnya mendarat di Pulau Bali. Kedatangan prajurit Majapahit tersebut membuat Pulau Bali bagaikan bergetar, rakyat Bali menjadi panik dan melaporkan hal tersebut kepada pangeran Sri Madatama yang merupakan putra mahkota kerajaan Bali serta kehadapan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Setelah mendengar laporan tersebut, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kemudian mengutus putranya pangeran Sri Madatama untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Setelah memastikan kebenaran berita tersebut Krian Pasung Grigis beserta para patih lainnya segera punggawa menyiapkan pasukannya masing masing dengan membagi pasukan menjadi 3 sesuai arah pengepungan pasukan dari Majapahit.
o   Pertahanan di wilayah Utara dijaga oleh Ki Pasung Grigis, Si Buwan dan Krian Girikmana.
o   Pertahanan di wilayah Barat dijaga oleh Sri Madatama, Ki Tambyak, Ki Walumgsingkat dan Ki Gudug Basur.
o   Pertahanan di wilayah Timur dijaga oleh Ki Tunjung Tutur, Kom Kopang dan Ki Tunjung Biru.
Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu.
Diceritakan pasukan dari arah timur yang dipimpin langsung oleh Patih Gajah Mada sesuai kesepakatan, langsung membakar semak belukar di hutan untuk memberi tanda kepada pasukan dari arah Utara dan selatan bahwa penyerangan akan segera dimulai. Akibat pembakaran hutan tersebut membuat nyala api membumbung tinggi ke angkasa sehingga dapat dilihat oleh para arya dari arah utara dan selatan.. Dengan isyarat tersebut dengan serentak para prajurit Majapahit melakukan penyerangan ke Pusat kerajaan Bedahulu.
Pasukan dari arah Timur dipimpin oleh Patih Gajah Mada berhadapan langsung dengan pasukan Bedahulu yang dipimpin oleh Ki Tunjung Tutur yang berkedudukan di Toya Anyar dan Ki Kopang yang berkedudukan di Seraya. Pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, saling terjang dan masing masing memperlihatkan kesaktian, kedigjayaan serta kemahiran bertempur, sampai akhirnya pasukan Bedahulu dapat dipukul mundur oleh Pasukan dari Majapahit setelah Ki Tunjung Tutur dan Ki Kopang gugur dalam pertempuran. Pasukan yang masih tersisa akhirnya tercerai berai menyelamatkan hidupnya masing masing. Dengan gugurnya kedua pemimpin pasukan tersebut maka daerah Tejakula, Bondalem, Julah, Bangkah, Bukti, Sembiran, Tajun, Bontihing, Bila, Depaa, Dausa, Lateng, Tunjuk, Kepakisan, Selulung, Batur dan desa sekitar bintang danu dan bagian timur seperti Tongtongan, Margatiga, Ngis dan Tianyar dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah Pimpinan Patih Gajah Mada.
Demikian pula pasukan dibawah pimpinan Krian Kepakisan dan Krian Tumenggung dapat menguasai desa Celukan Bawang, Banjar-Aseman, Uma Anyar, Yeh Anakan, Kalopaksa, PatemonUlaran, Unggahan, Gelagah, Kutul, Sepang, sekitar sungai Ubo, Ringdikit, Rangdu, Mayong, Pusuh, Lapuan, Kekeran, Belah-Manukan, Kedis, Gesing, Banyuatis, Gobleg, Cempaga, Kayu Putih, Munduk dan Baha.
Pertempuran di Bali bagian utara juga tidak kalah serunya. Daerah Ularan dipertahankan oleh Ki Girikmana diserang oleh pasukan dari Majapahit dibawah pimpinan Panglima Arya Damar. Terjadi pertempuran antara kedua pimpinan pasukan yaitu Arya Damar dengan Si Girikmana. Kedua pasukan yang tadinya bertempur menghentikan pertempuran untuk menyaksikan perang tanding ke dua tokoh tersebut. Dalam perang tanding yang berlangsung sangat seru tersebut masing masing menunjukkan kesaktiannya untuk secepatnya melumpuhkan musuhnya, sampai akhirnya Si Girikmana tidak mampu menandingi kesaktian Arya Damar sehingga gugur dalam pertempuran sebagai kesatria sejati. Gugur pula dari pihak kerajaan Bali Krian Jembrana sebagai prajurit yuda.
Di Batur pasukan yang dipimpin oleh Arya Damar dihadang oleh Ki Bwan. Dalam pertempuran tersebut Arya Kutawandira mohon diberi kesempatan untuk untuk perang tanding dengan Ki Bwan. Arya Damar mengijinkan dan memberi nasehat untuk berhati hati dalam menghadapi Ki Bwan karena orangnya juga tidak kalah saktinya dengan Si Girikmana sehingga terjadilah pertempuran antara kedua tokoh tersebut. Dalam pertemuran tersebut Ki Bwan tidak mampu menandingi kesaktian Arya Kutawandira sehingga gugur dalam pertemuran sebagai pahlawan. Dengan gugurnya ke dua pimpinan pasukan dari Bedahulu tersebut maka wilayah Bali bagian utara jatuh ketangan pasukan Majapahit dibawah pimpinan Arya Damar. Panglima perang pasukan Majapahit yang gugur dalam pertempuran tersebut bernama Arya Gait . Dengan gugurnya Ki Girikmana dan Ki Bwan maka daerah Jembrana, Pamagetan, Kebon jangung, Pangesan, Cangku, Pupuhan, Balimbing, Serampangan, penatahan, Jelijih, Punggang, Gadungan, Kayu Kunyit, Uma-Gati, Uma-Bangkah dan desa Selajong dapat dikuasai prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Damar.
Berbeda dengan Bali bagian utara dan bagian Timur, pertahanan Bali bagian Selatan jauh lebih kuat karena dipimpin langsung oleh Putra mahkota Kerajaan Bali yaitu pangeran Sri Madatama bersama panglima pasukan yang sakti mandraguna yaitu Ki Gudugbasur yang berpangkat demung dan Ki Tambyak yang berkedudukan di Jimbaran. Pasukan dari Bali tersebut bertempur dengan semangat tinggi dengan diiringi oleh gamelan yang gegap gembita sehingga berbaur dengar gemerciknya suara tombak beradu.
Dalam pertempuran tersebut Lurah Kadengayan, Lurah Suwung terlibat pertempuran sengit dengan Arya Wangbang dan Arya Dalancang. Pertempuran tersebut berjalan seimbang dimana Kedua belah pihak sama sama mengeluarkan ilmu pamungkas, sampai akhirnya Lurah Kadengayan dan Lurah Suwung gugur dalam perang tanding tersebut. Melihat temannya gugur dalam pertempuran Ki Demang Kalambang dan Ki Tambyak maju ke medan pertempuran menuntut balas
Ki Tambyak mengamuk dalam pertempuran sehingga membuat pasukan Majapahit tercerai berai. Dalam pertempuran tersebut Arya Pasuruhan tewas di tangan ki Tambyak dan di injak injak dengan kuda sedangkan kyai Banyuwangi lari dikejar oleh pasukan Ki Kalambang. Melihat pasukan Majapahit terus terdesak Arya Kenceng kemudian turun langsung ke medan pertempuran.
Pasukan Majapahit di wilayah Selatan dibawah pimpinan Arya Kenceng menggempur habis habisan, tiada henti hentinya mengurung pasukan musuh dari segala arah. Pasukan Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak mulai terdesak dan banyak yang mati terluka. Dalam keadaan terdesak Ki Tambyak berhasil mengalahkan Kyai Lurah Belambangan. Tubuhnya dilemparkan oleh Ki Tambyak sehingga terpelanting ke tempat yang agak jauh. Kyai Lurah Belambangan menghembuskan napasnya yang terakhir, gugur sebagai prawira yuda yang gagah berani. Melihat kawan seperjuangannya gugur, Arya Balancang, Arya Sentong, Arya Wangbang dan Kyai Banyuwangi maju bersamaan untuk mengimbangi kekuatan musuh.

Ki Tambyak adalah seorang patih kerajaan Bali yang sangat teguh dan sakti sehingga sulit untuk dikalahkan, kalau hal tersebut terus dibiarkan maka makin banyak korban yang berjatuhan dari pihak Majapahit. Untuk menghindari hal tersebut maka pimpinan pasukan Majapahit di wilayah selatan yaitu Arya Kenceng memutuskan menghadapi langsung Ki Tabyak. Dalam pertempuran satu lawan satu tersebut masing masing pihak berusaha saling mengalahkan. Karena hebatnya perang tanding tersebut prajurit dari kedua belah pihak sampai menghentikan pertempuran untuk menyaksikan kedua tokoh sakti tersebut saling mengalahkan. Namun demikian ternyata Arya Kenceng dapat memanfaatkan kelengahan Ki Tambyak sehingga dapat terus menekannya. Ki Tambyak akhirnya gugur dalam pertempuran sampai kepalanya terpisah dari badannya. Dengan gugurnya Ki Tambyak pertahanan Bali di wilayah selatan menjadi lemah karena hanya menyisakan Ki Gudug Basur.
Dalam Pertempuran tersebut Ki Gudug basur diserang dari segala arah oleh para Arya dari Majapahit. Namun I Gudug basur ternyata mempunyai ilmu yang sangat tinggi yaitu teguh, kebal oleh senjata apapun sehingga para Arya mengalami kesulitan untuk mengalahkannya. Namun demikian walaupun tubuhnya tidak dapat terluka apabila terus menerus digempur dari segala arah lama kelamaan Ki Gudig Basur kehabisan tenaga dan sehingga dapat dikalahkan oleh pasukan dari Majapahit.
Dengan Gugurnya Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak maka daerah Seseh, Tralangu, Padang Sambian, Kedonganan, Benua, jimbaran, Kuta, Mimba, Suwung, Sesetan, Tuban, Renon, Batankendal, Sanur, Tanjungbungkah, Kaba Kaba, Kapal, Tanah barak, Camagi, Munggu, Parerenan, Dukuh, Kemoning, Pandak, Kelahan, Pancoran, Babahan, Keliting, Cengkik dan Kerambitan dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Kenceng.
Kemenangan Pasukan Majapahit di wilayah selatan yang dipimpin oleh Arya Kenceng melengkapi kemenangan pasukan Majapahit yang terlebih dahulu berhasil mengusai wilayah Utara dan Timur Pulau Bali sehingga praktis semua daerah pesisir Bali dapat dikuasai. Sekarang tinggallah Krian Pasung Grigis yang bertahan di desa Tengkulak di wilayah Bali Bagian Tengah. Setelah kemudian Krian Pasung Grigis menyerah dalam adu ilmu dengan Gajah Mada akhirnya wilayah Bali secara keseluruhan dikuasai oleh Majapahit. Demikianlah akhir perlawanan Kryan Pasung Grigis terhadap Majapahit dan selanjutnya Pasung Grigis dipenjaraan di Tengkulak. Dengan tertawannnya Pasung Grigis maka seluruh rakyat dan para pemuka Bali menyatakan tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Peristiwa penundukan Bali oleh Majapahit terjadi pada Tahun saka 1265 atau 1343 M. Pasukan Gajah Mada beserta para Arya merayakan kemenangan ini dengan suka cita.
Sisa sisa langkar Bedahulu yang masih tersisa setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran menyelamatkan diri dan mengungsi ke daerah Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serahi, Sukawana, Panarajon, Kintamani, Pludu, Manikliu, dan ada pula yang mengungsi ke daerah timur seperti Culik, Tista, Margatiga, Muntig, Got, Garbawana, Lokasarana, Garinten, Sekul Kuning, Puhan, Hulakan, Sibetan, Asti, Watuwayang, Kadampai, Bantas, Turamben, Crutcut, Datah, Watidawa, dan Kutabayem.
Banyak juga diantara pasukan Bali yang mengungsi ke wilayah hutan Bali tengah yang masih lebat dan angker, diantaranya sepanjang hutan antara sungai Petanu dan sungai Ayung, mereka berdiam menjauhi keramaian dan hidup dari hasil hutan. Menjadi penduduk pedalaman yang terisolir dari wilayah-wilayah kerajaan sampai berdirinya kerajaan Samprangan. Mereka memilih mendiami wilayah tepian sungai atau lereng gunung yang subur.
2.4. Pemberontakan Orang Aga terhadap Kerajaan Samprangan.
Adhipati Shri Kresna Kepakisan lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sampelangan. Pemerintahan beliau menganut system kepemerintahan di Majapahit serta beliau kurang memahami apresiasi rakyat Bali, keberadaan tempat suci orang Bali Aga tidak dapat perhatian dan diabaikan. Sikap inilah yang sangat menyinggung perasaan orang Bali Aga, pemerintahan beliau dijauhi. Lama kelamaan rasa tersinggung ini meningkat menjadi rasa antipati, yang puncaknya orang Bali Aga tidak mau mengakui pemerintahan Adhipati Sampelangan.
Di sekitar tahun 1355 banyak desa-desa Aga yang kemudian melakukan pemberontakan terhadap adipati Samprangan. Pemeberontakan ini diawali dari Desa Tampurhyang Batur sebagai pusat pemerintahan orang-orang Bali Aga yang dipimpin oleh Kyayi Kayu Selem, kemudian diikuti oleh desa Batur, Terunyan, Abang, Buahan, Kedisan, Cempaga, Pinggan, Peludu, Kintamani, Serai, Manikliyu, Bonyoh, Sukawana, Taro dan Bayad.
Kemudian pemeberontakan ini mendapat dukungan dari desa-desa timur Bali yaitu, Culik, Tista, Basangalas, Got, Margatiga, Sekulkuning, Garinten, Lokasrana, Puhan Bulkan, Sinanten, Tulamben, Batudawa, Muntig, Juntal, Carutcut, Bantas, Kuthabayem, Watuwayang, Kedampal, dan Hasti, serta desa-desa lainnya sehingga jumlahnya adalah tidak kurang dari 39 desa.
Atas peristiwa pemberontakan yang terus-menerus Dhalem merasa putus asa dan mengirim utusan ke Majapahit, melaporkan bahwa Dalem tidak mampu mengatasi situasi di Bali. Untuk memecahkan persoalan ini, Gajah Mada memberikan nasehat kepada Kresna Kepakisan, serta simbul-simbul kekuasaan dalam bentuk pakaian kebesaran dan keris pusaka Ki Lobar disamping keris yang bernama Si Tanda Langlang yang terlebih dahulu beliau bawa.
Karena keterkaitan antara banuwa-banuwa dan ikatan sosial diantara desa-desa tua Aga, Penduduk Aga yang tersebar di daerah tepian sungai besar sepanjang sungai Wos Lanang dan Wadon, Sungai Petanu, Sungai Tawar dan Sungai Ayung dengan kuwu-kuwunya ikut serta dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Pasek Taro, Tidak Kurang dari 1200 pemuda berbadan tegap ikut andil dalam pemberontakan terhadap Adipati Samplangan. Mereka berkumpul membuat gelar pasukan di daerah Bedahulu. Akan tetapi pergerakan pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh laskar Samplangan, banyak laskar pemberontak yang tewas, sisanya melartikan diri masuk ke hutan-hutan yang diperkirakan aman dari pantauan laskar Samprangan dengan tetap melakukan kerusuhan-kerusuhan di wilayah tepian hutan, dengan merampok dan membegal para pedagang sebagai unjuk rasa ketidak puasan terhadap pemerintahan adipati Samplangan.
Pemberontakan orang-orang Aga, yang bersifat besar dapat dipadamkan pada kisaran Tahun tahun 1383 Masehi, yaitu setelah Shri Kresna Kepakisan mangkat digantikan oleh putra beliau yang bernama Dhalem Agra Samprangan, dan saat gejolak yang terjadi dikeraton Samprangan, sehingga para mentri memutuskan untuk mengangkat Shri Dhalem Ile sebagai Dipati Bali berkedudukan di Gelgel.
II.5. Kehancuran Puri Tarukan
Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau 1295 saka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh para Menteri dan pembantu dekat Raja.
Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Dalem yaitu Dalem Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.
Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebagian besar masih belum mengakui pemerintahan Samprangan
Karena sebuah kesalah pahaman yang sengaja dihembuskan oleh fihak-fihak yang ingin berbuat onar, akhirnya laskar Samprangan menyerang puri Tarukan. Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377 M atau 1299 isaka.
Pada masa pelarian Dhalem Tarukan dari Puri Tarukan menuju arah barat banyak kemudian pengikut-pengikut beliau yang terdiri dari warga Aga Tarukan dan warga Aga wilayah-wilayah yang beliau lalui menyatakan setia kepada Dhalem Tarukan, mereka lebih memilih menjauhi daerah keramaian dengan membuka desa-desa terpencil di tengah hutan untuk mencari ketenangan. Mereka membuat arela pertanian dengan membuka hutan-hutan pegunungan dalam tingkatan yang tidak terlalu luas. Mereka menghindari diri bersentuhan secara langsung dengan penduduk luar, demi keselamatan mereka. Mereka dikenal dengan nama Warga Gunung. Banyak diantara penduduk itu kemudian masuk ke dalam trah Pulasari atau Trah Kayu Selem. Mereka mengutamakan upacara-upacara yang bersifat mengupacarai alam semesta, laut, gunung dan sungai.

Jumat, 31 Mei 2013

Çundarigama



Çundarigama
BUKU INI ADALAH TERJEMAHAN LONTAR ÇUNDARIGAMA YANG DITERBITKAN OLEH
PARISADHA HINDU DHARMA KABUPATEN
TABANAN
TH 1976
BAB I
OM AWIGNAM ASTU NAMA SIDHYAM
1e. Inilah çundarigama namanya, yang merupakan tatacara yang dibenarkan dalam melaksanakan ajaran Agama, dari sabda Sang Hyang Suksma Licin ( Hyang Widhi nan niskala dan Maha suci ), kepada para Rsi semuanya, sebagai pelaksana tatacara keagamaan diwilayah suatu Negara, dan yang patut dilaksanakan oleh masyarakat sewilayah bersangkutan semuanya, dengan tujuan agar tentramlah negara dan pemerintahan, demikian pula sejahteralah rakyatnya, sebab tata cara yang demikian itu, adalah suci dan sangatlah utama.
2e. Maka berkenanlah para Dewata semuanya, menerima puja persembahan suci itu, dan Brahma, Wisnu dan Içwara, karena telah dipuja oleh para para Resing langit. Lalu Sang Hyang Çiwa Budha berkenan merestui, betapa sabda Nya, adalah demikian.
3e. Wahai anakku para purohita semuanya, Çiwa dan Budha, dengarlah nasehatku ini olehmu anakku, bahwa dalam ajaran Agama Çundarigama yang merupakan tuntunan pelaksanaan pensucian isi dari Wariga Gemet, sebagai kehidupan dunia, wujud dalam memuja Sang Hyang Widhi, dan menjadi perantara bagi manusia untuk menyelamatkan dirinya, yang menjadi jalan/tuntunan dalam memohon Rahmat Hyang Widhi yang Maha Kuasa : Çundarigama ini diturunkan didunia dan diberikan kepada manusia, untuk mana menyebabkan manusia dapat menikmati kebahagiaan keutamaan, yaitu keselamatan yang terus menerus di alam tiga ini (bhur, bwah, swah ).
Itulah keutamaan yang amat mulia, bagi manusia, dan itulah yang menyebabkan langgengnya kesucian bagi negara dan rajanya. Mening, yaitu murnilah kebahagiaan para Purohita semuanya, dan makmurlah rakyatnya, gairah pula para pelajar-pelajarnya ; betapakah misalnya adalah sebagai beikut :
4.e Pada saat hari yang baik, yakni hari yang disebut sasucen Hyang, yang diikuti oleh para Dewata semuanya, para Gandarwa-gandarwi, Widyadara-widyadari, Resinglangit, dan diikuti pula oleh Hyang pitara yang telah disucikan, sehingga dapat mencapai alam Sorga, demikian pula para pitara yang masih dalam alam pitara loka kesemuanya itu ikut serta memanfaatkan waktu bersucian, beryoga semadi untuk keselamatan dunia, karenanya bersenanglah beliau, bersemayam didunia dan akasa. Maka menjadi sucilah dunia ini, seakan-akan melimpahkan ketentraman, baik terhadap manusia semuanya, maupun terhadap segala mahluk yang ditakdirkan didunia. Demikianlah maka manusiapun patutlah ikut serta melaksanakan cinta kasih seperti yang dilimpahkan oleh Hyang Widhi, berbakti dengan upacara yang disuguhkan kepada para Bhatara, demikianlah tata caranya.
5e. a.Purnama Sasih Kapat Beginilah prihalnya menurut perhitungan masa yaitu pada masa sasih kapat (oktober), pada saatnya bulan penuh(Purnama) maka beryogalah Bhatara Paramecwara, Sag Hyang Purusangkara, (setahun untuk Hyang Widhi sebagai Mahadewa dan Maha Purusa), manunggal dengan Bhatari(mewujudkan wisesa Nya), diikuti oleh golongan Dewa semuanya, serta golongan widyadara-widyadari dan Resing langit semuanya sejak dahulu kala. Dalam halnya yang demikian, sepatutnyalah orang-orang suci (Pandita dan pinandita), melakukan puja stuti dengan memakai tanda/busana sebagaimana mestinya, dan bersiap-siap melakukan puja bakti kehadapan Sang Hyang Candra. Demikian pula kepada Hyang Kawitan mengaturkan bebanten serba suci. Adapun yang dihaturkan kehadapan Hyang Ratih, (sebutan terhadap Hyang Widhi sebagai Soma), ialah :
Penek kuning, prayascita luwih, pangreresik, serta daging dalam penek itu, ialah ayam putih siyungan.
Adapun banten yang di Sor (bawah), ialah :
Segehan agung 1 soroh
Lain daripada itu, orang-orang (umat bersangkutan), hendaknya melakukan bhakti dengan muspa dihadapan Sanggar dan Perhyangan, demikian juga pada Pelinggih-pelinggih di pedarman, yang menjadi penyungsungnya. Akhirnya pada malam hari itu usahakanlah melakukan renungan suci, dengan dyana dan samadi.
b.Tilem Sasih Kapat
selanjutnya pada saat datangnya hari Tilem sasih Kapat, patut melakukan upacara pemusnah kecemaran-kecemaran diri, yang disebut “Pamugpug raga roga”, dengan jalan menghaturkan banten wangi di Sanggar Parhyangan, sedangkan yang patut dihaturkan diatas tempat tidur, ialah sesuatu yang dapat mewujudkan ketenangan hati. Antara lain; bebanten sesayut Widyadari, yang umum disebut bebanten Dedari, sebanyak satu soroh, untuk memuja Hyang Widyadara-widyadari.
Adapun tujuan menghaturkan bebanten itu, ialah memohon ketenangan pikiran, didalam melakukan tugas hidup sehari-hari, khususnya bagi kaum wanita, disebut kepatibratan. Karena itulah, maka pada tengah malamnya disarankan untuk melakukan “Monabrata” yakni memusatkan segenap pikiran untuk sesaat dan mengarahkan kepada Sang Hyang Widhi. Jika hal itu tepat dapat dilakukan, maka pahalanya akan dapat mensucikan kecemaran diri, yang disebut : “Lukat papa pataka letuhing sarira”
6e a.Bulan mati pada bulan Maret
Tersebutlah pada saat datangnya casih Kasanga (Maret), yang disebut “Centramasa”, terutama pada bulan mati (tilem), adalah hari untuk bersucinya para Dewa semua, bertempat dilautan, guna menikmati inti hakekat air suci kehidupan abadi (yang bertempat di lautan). Karena itu seyognyalah orang-orang (umat bersangkutan) semua menghaturkan puja bakti kehadapan raja Dewata, dengan tata cara sebagai berikut :
Pada panglong ping 14 sasih ke Sanga, hendaknya melakukan Bhuta Yadnya, bertempat di perempatan Desa Pakraman (Desa Adat). Adapun tingkatan-tingkatannya, ialah sekecil-kecilnya dengan cara yang disebut Pancasata (ayam 5 ekor); ditingkatan menengah, dengan Pancasanak (dasar caru ayam 5 ekor, ditambah itik bulu sikep sebagai ulu), sedangkan dalam tingkatan utama (besar), ialah tawur Agung (Pancawalikrama), dan seterusnya dengan memakai Yamaraja. Adapun Bhuta Yadnya tersebut dipuja oleh Sang Maha Pandita (Pedanda, Rsi, Empu, dsb).
Untuk karang paumahan dilakukan upacara pasuguh-suguh, yang berbentuk segehan mancawarna, banyaknya sembilan tanding, dengan ikannya ayam brumbun yang diolah, petabuh tuak dan arak. Adapun caru tersebut diupacarakan didengen (dimuka karang perumahan), yang disuguhi, ialah Sang Butha Raja, Sang Butha kala dan Kalabala diberi sesuguh dengan sege nasi sasah 108 tanding berisi jejeron mentah, serta segehan Agung satu tanding. Pada sore harinya sepatutnya tawur itu dilaksanakan semuanya.
Apabila tawur itu selesai diupacarakan barulah dilakukan Pangrupukan, dan itulah suatu jalan upacara yang bertujuan dapat mengembalikan Butha kala serta membatalkan usahanya membuat mara bahaya. Adapun alat yang lain ialah melakukan obor-obor dengan membawa api prapak, sembur meswi, dengan diantar puja mantra penolak mara bahaya, mantra penyengker agung, dengan mengelilingi pekarangan perumahan dan membawa api/obor. Setelah selesai melakukan obor-obor itu, maka orang-orang (umat) dalam keluarga baik laki-laki maupun perempuan lalu melakukan upacara abyakala ditengah-tengah pekarangan serta natab sesayut pamyak kala, lara malaradan, dan prayascita. Hari esoknya, lakukan sipeng amati geni, dan tidak melakukan pekerjaan jasmani, bahkan berapi-apipun ditiadakan ditempat pekarangan desa pakraman.
Yang penting diperhatikan, ialah bagi mereka yang mendalami ajaran brata-semadi, patut melakukan yoga samadi pada hari itu.
7e. Melelastikan / Mensucikan Pratima
Demikian pula hendaknya pada bulan panglong ke 13 sebelum Tilem, hendaknya dilakukan pensucian bagi pratima, yang menjadi lambang dari Sang Hyang Tiga Wisesa, misalnya : di Pura Puseh, Desa dan Dalem.
Lain pada itu, diikut sertakan pula segala arca-arca yang menjadi simbul melambangkan Lingga para Dewa-Dewa, yang diperhyangan. Itulah dikeluarkan semuanya dan disucikan dilautan, serta diiringi oleh orang-orang yang tergabung dalam Desa Adat/Pakraman, semuanya. Dalam pada itu dilakukanlah “Widhiwidana”, suguhan, dan ditujukan kepada Sang Hyang Baruna, guna memohon anugrah, termusnahnya kesengsaraan dunia, dalam segala bentuk penderitaan, dan kecemaran dunia menjadi musnah, lebur didalam lautan. Setelah selesai itu semuanya dilakukan, barulah dikembalikan pratima-pratima itu, dan kemudian ditempatkan (kejejerang) di Bale Agung. Disinilah Pratima-pratima itu diupacarai dan Bhatara-bhatari disuguhi banten datengan, dan banten-banten lainnya. Kemudian setelah selesai, barulah pratima-pratima dikembalikan ke Pelinggih masing-masing.
Apabila hal itu tidak dilakukan demikian dapat menyebabkan kacaunya Desa Pakraman, dimana akan mendapatkan gangguan yang bermacam-macam cara, dan sang Adikala memang berhak memangan orang-orang yang tidak melakukan amal keagamannya masing-masing apa gerangan yang menyebabkan demikian, ialah karena tidak memperhatikan kebenaran/kewajiban menjadi manusia. Itulah yang menyebabkan mereka dianiaya. Apabila hal itu terjadi, niscaya menyusahkan Sang Guru Wisesa, karena hal yang demikian rusaknya kedudukannya sebagai Guru Wisesa. Adapun kerusakan itu berwujud dalam bentuk mrana yang mengganas dari Bhuta Kala. Suatu alamat terhisapnya darah (kekuatan hidup) manusia seluruhnya, dan pencabutan jiwa manusia oleh para abdi Sang Hyang Adikala. Kalau kita bertanya siapakah yang menyebabkan demikian? Jawabnya, ialah bahwa Bhatara Wisnu (yang bersifat memelihara), berubah wujud kedewataanya menjadi kala (waktu pemusnah), Bhatara Brahma (yang bersifat mencipta), akan menciptakan Bhucari desa (mahluk berbisa), Teluh Tranjana (Penyebab kesedihan manusia), dan Bhatara Içwara (bersifat menyempurnakan), akan berwujud penyakit yang meraja lela dan mengerikan. Dan hal yang terakhir inilah yang paling membahayakan, karena dapat menyebabkan dunia basmi bila kehendaknya.
Demikianlah halnya, hai para pendeta anakku karenanya janganlah alpa terhadap hal yang demikian, seperti ajaran-ajaran yang kami utarakan. Kalau hal itu dapat dilaksanakan, maka kembalilah keselamatan dunia, termasuk pula keselamatan serba mahluk. Dengan demikian, menjadi sempurna dan sucilah wibawa dunia ini, sejahtera segala yang masih hidup, menjadi suburlah segala tumbuh-tumbuhan, karena penyebab dari penyakit yang meraja lela itu telah dilebur kembali dalam lautan.
8. Sasih Waisaka
Tersebutlah pada sasih waisaka ( kedasa bulan April ), Tanggal ping 15 ( hari purnama Kadasa ), pada waktu itulah hari penghormatan kepada Sang Hyang çuniamrta ( manifestasi Tuhan dalam sifat menghidupkan ), yang bersemayam di kahyangan sakti, serta disucikan sejak dahulu kala. Pada saat itulah disebut purnama Sada ( inti dari purnama-purnama, sasih yang lain ), karenannya patutlah orang-orang memuja leluhurnya, bertempat di Sanggah kemulan. Kalau di Desa Pekraman, ialah bertempat Sad Kahyangan Sakti ( Tri Kahyangan untuk Desa pakraman, dan Dang kahyangan untuk tingkat yang lebih luas.
Adapun upakaranya, ialah tingkat sederhana :
Suci 1, daksina 1, ajuman, dandanan aprangkat 1, ikannya serba suci, canang wangi-wangi, serta reresik, dan perlengkapannya.
Yang dihaturkan ( palaba ) dibawah, ialah :
Segehan Agung 1, segehan sasah 6, tanding, dan ikannnya bawang jahe, dan Sang purohita yang patut menjalankan, dengan puja sebagaimana mestinya. Sedangkan yang patut dilaksanakan oleh Umat pada umumnya ialah :
Upakara /upacara pamrayascita lwih, panyeneng dan teenan.
9. Purnama dan Tilem :
Dan ada pula hari sesucen terhadap Sang Hyang Rwabhineda, yakni Sang Hyang surya dan Sang Hyang Ratih, itulah yang jatuh pada hari purnama dan hari tilem. Kalau hari purnama, Sang Hyang Wulanlah yang beryoga, demikian pula kalau hari Tilem Sang Hyang Suryalah yang beryoga.
Demikianlah bagi para Sulinggih dan setiap Umat ( yang beragama Hindu ), patutlah melakukan pensucian diri, dengan menghaturkan wangi-wangi, canang biasa, yang disuguhkan kepada para Dewa. Dan oleh karena perbuatan itu dilakukan dalam ciptaan Tuhan, wajarlah bila dilakukan dengan air suci, serta bunga serba yang harum.
BAB. II
PAWUKON
1. Uku Sinta :
Lain dari pada yang itu, ada juga menurut Pawukon, yakni pada Uku Sinta :
a. Coma Ribek :
Coma Pon disebut juga Coma Ribek, hari puja wali Sang Hyang Çri Amrta, tempat bersemayamannya adalah di Lumbung, Pulu, adapun upacara memujanya ialah :
Nyahnyah geti-geti, gringsing, raka pisang mas, disertai denga bunga serba harum.
Pada waktu itu, orang-orang tak diperkenankan menumbuk padi, demikian juga menjual beras, karena kalaupun dilakukan, maka dikutuklah oleh Bhatari Çri, sepatutnya orang memuja Sang Hyang Tri pramana ( bayu, sabda, idep ), serta membatinkan inti sari ajaran Agama ; karenanya pada hari itu, tidak diperkenankan tidur pada siang hari.
b. Sabuh Mas :
Pada Hari Anggara Wage, disebutlah sabuh mas, suatu hari yang disucikan untuk memuja Bhatara Mahadewa, dengan jalan melakukan upacara Agama, terhadap harta benda kakayaan, yaitu :
Manik dan segala manikam ; adapun upakara :
Suci, daksina, peras penyeneng, sesayut yang disebut Amrta sari, canang lenga wangi, burat wangi dan reresik.
Tempat melakukan upacara itu, ialah dibalai piyasan ( dan yang semacam itu). Bagi orang-orang , patutlah melakukan pembersihan diri dan janganlah takabur terhadap kesenangan yang bersifat kebendaan belaka, melainkan ratna mutu manikam yang ada dalam diri pun ( jiwa ), perlu dimuliakan. Demikianlah, setelah selesai menyuguhkan kepada Bhatara-Bhatari bebanten sesayut itu, patutlah diayap untuk diri kita.
c. Pager Wesi :
Pada hari Buda Kliwon ( Sinta ), disebutlah Pager Wesi, saat Sang Hyang Pramesti guru ( Çiwa ) dan diikuti oleh Dewata Nawasanga, yang bertujuan untuk menyelamatkan jiwa segala makhluk hidup yang ditakdirkanNya dialam ini semuanya ; karenanya patutlah para sulinggih memuja cipataan Bhatara Prameswara : Upakara nya, ialah :
Daksina, suci 1, peras panyeneng, sesayut, pancalingga, penek ajuman, serta raka-raka, wangi-wangi, dan perlengkapannya, yang dihaturkan (disuguhkan) di Sanggah kemulan. Adapun bebanten bagi orang-orang ialah :
Sesayut pageh hurip 1, serta prayascita, setelah tengah malam, dilakukan yoga samadi (renungan suci). Dan ada pula sesuguh kepada Panca mahabuta (lima unsur alam) yaitu :
Segehan berwarna, sesuai dengan neptu kelima arah, dan diselenggarakan di natar sanggah, dan disertai dengan segehan agung 1, (sebuah).
2. Tumpek Landep :
Juga pada wara Landep, yaitu hari Caniscara Kliwon, adalah puja wali Bhatara Çiwa, dan hari saat beryoganya Sang Hyang Pasupati Adapun untuk pujawali Bhatara Çiwa, ialah :
Tumpeng putih kuning satu pasang, ikannya ayam sebulu, grih terasi merah, pinang dan sirih, dan banten itu dihaturkan di Sanggah.
Adapun yoganya Sang Hyang Pasupati (Hyang Widhi dalam wujud Raja Alam semesta), ialah :
Sesayut jayeng perang, sesayut kusumayudha, suci, daksina peras, canang wangi-wangi, untuk memuja bertuahnya persenjataan.
Demikian juga menurut ajaran, dalam hubungannya dengan manusia ialah hal itu untuk menjadikan tajamnya pikiran ; karena hal yang demikian patut dilaksanakan dengan puja mantra sakti pasupati.
……………………..
3. Wuku Ukir :
Wuku Ukir, yakni pada Redite Umanis, adalah hari untuk melakukan pujaan kepada Bhatara Guru, adapun upakara bebantennya, ialah :
Pengambean, 1, sedah ingapon 25 ( sirih dikapuri ), kwangen 8 buah, bebanten mana semuanya itu dihaturkan si sanggar kemulan, namun dapat juga ditambahkan dengan pelaksanaan upakara sedemikian rupa menurut kemampuan ; demikianlah patutnya orang, dalam memuja Bhatara Guru, yang dipuja di sanggar kemulan.
4. Kulantir :
Uku Kulantir, yakni pada Anggara Keliwon adalah hari unuk memuja Bhatara mahadewa ; dengan Upakara serba berwarna kuning yakni :
Punjung kuning satu pangkon, ikannya ayam putih siungan di betutu, sedah woh (sirih dan pinag), yang berisi kapur, dan bebanten-bebanten itu dihaturkan disanggar.
5. Uku Wariga :
Uku wariga, yakni hari Saniscara keliwon, disebutlah hari Panguduh, suatu hari untuk memuja kepada Sang Hyang sangkara, sebab beliaulah yang menyebabkan menjadinya segala tumbuh-tumbuhan termasuk kayu-kayuan. Adapun upakaranya ialah :
Peras, tulung, sesayut, tumpeng bubur dan tumpeng Agung dengan ikan babi, atau itik diguling. Baik pula disertai dengan raka-raka, penyeneng, tetebus, dan sesayut cakragni. Adapun bebanten tersebut diatas, ialah mendoakan semoga atas rahmat Hyang Widhi maka segala tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur bersusun-susun dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dalam menentramkan hati, serta sejahteranya hubungan lahir bathin.
6. Warigadian :
Pada wuku warigadian, yakni pada hari coma pon, ialah hari untuk penghormatan kepada Bhatara Brahma, dengan mempergunakan bebanten sbb :
Sedah woh selengkapnya, dan menurut kemampuan, banten mana dihaturkan di Paibon, serta menghaturkan bunga harum, sebagai biasanya dilakukan.
7. Sungsang :
Uku Sungsang, yakni pada hari Wraspati wage, disebutlah hari Pararebon. Juga disebut hari Sugihan Jawa. Adapun hari tersebut, ialah untuk melaksanakan prayascita ( pensucian ), para Bhatara-Bhatara semuanya, yang disemayamkan di Prahyangan . Maka pada hari itu, dilakukanlah upacara pensucian Bhatara-Bhatara, kemudian dari pada itu dilanjutkan dengan upacara menghaturkan puspa harum. Lain dari pada itu, bagi orang yang membathinkan inti hakekat samadhi (meditasi), maka seyogyanyalah melaksanakan Yoga (renungan suci), sedangkan bagi para wiku (pedanda, Rsi, Empu, dsb), seyogyanya pula melakukan puja stuti, sebab pada hari itu para Bhatara turun kedunia disertai para Dewa pitara, untuk menikmati upacara pesucian, berlangsung sampai pada hari itu galungan. Oleh karena itu orang-ornag hendaknya melaksanakan upacara agama, dengan natab banten sesayut dan banten tutuan, yakni banten yang bersimbul penarik kebahagiaan lahir bathin, demikian patut dilaksanakan.
8. Dungulan :
a. Uku Dungulan, yakni pada hari Redite paing, disebutkan bahwa Sang Hyang Tiga Wisesa turun kedunia, dalam wujud kala, dan disebut Sang Bhuta Galungan, yang ingin memakan san minum didunia ini, oleh karena itu, orang-orang suci, demikian pula para sujana (bijaksana), hendaknya waspada serta mengekang / membatasi dirinya kemudian memusatkan pikirannya kearah kesucian, agar tiada kemasukan oleh sifat-sifat yang membahayakan dari pengaruh-pengaruh Sang Bhuta Galungan, dan hal yang demikian, disebutlah hari penyekeban.
b. Pada hari coma pon, adalah hari untuk melakukan yoga samadhi, dengan memusatkan pikiran untuk menunggalnya dengan para Bhatara-Bhatara. Itulah sebabnya, mengapa pada hari itu disebut :
Penyajaan oleh dunia ( Hindu ).
c. Pada hari Anggara Wage, disebutlah hari penampahan, Pada hari itulah waktunya Sang Bhuta Galungan memangan. Oleh karena itu, patutlah dilakukan penyelenggaraan hidangan oleh desa Adat, dengan korban caru kepada Bhuta –Bhuta, bertempat diperempatan Desa adat, adapun korban yang diberikan kepada Bhuta-Bhuta, bentuknya bermacam-macam, yakni dari bentuk yang sederhana, sedang, dan besar. Dan yang patut memuja, ialah para Sulinggih , unuk memohonkan kepada Hyang . Yang dimaksud Sulinggih, yakni : Pedanda Cwa Budha, karena beliaulah yang mempunyai wewenang dalam hal ini. (termasuk juga dalam golongan Sulinggih, yakni Pemangku).
Lain dari pada itu, segala senjata perang, patutlah semuanya itu diupacarai, dengan upacara pensucian oleh para Sulinggih. Tambahan pula bagi orang-orang kebanyakan ( Umat Hindu bersangkutan ), upacara-upacara tsb, bermanfaat untuk mendapat pahala kekuatan utama dalam perjuangan hidup yang patut disuguhkan di masing-masing pekarangan rumah ialah :
Segehan warna, 3. ditaburkan menurut neptu, yakni : putih, 5. hitam, 4. bang, 9. ikannya olahan babi, tetabuhan, disertai segehan Agung, 1. Adapun tempat melakukan caru, ialah di natah pekarangan rumah, di sanggah, dan dimuka pekarangan rumah, yang dihayat pada waktu menjalankan caru itu, ialah Sang Bhuta Galungan. Sedang yang patut dihayapkan oleh anggota keluarga, ialah banten pabyakala, prayascita, dan sesayut, untuk mendapat kesuksesan dalam perjuangan hidup, sekala niskala (lahir-batin).
d. Disebut Buda keliwon galungan, keterangannya, ialah, bahwa untuk memusatkan pikiran yang suci bersih, disertai dengan menghaturkan upacara persembahan kepada para Dewa-Dewa, di Sanggar parhyangan, tempat tidur, pekarangan, lumbung, dapur, dimuka karang perumahan, tugu, tumbal, pangulun Setra, pangulun Desa, pangulun sawah, hutan munduk, lautan, sampai pada perlengkapan rumah, semuanya itu diadakan persajian, dengan suguhan yang dilakukan di sanggar parhyangan, menurut besar kecilnya sbb :
Tumpeng payas, wangi-wangi, sesucen (pembersihan ), itulah yang disuguhkan di Sanggar. Adapun banten dibalai-balai, ialah : tumpeng pengambean, jerimpen, pajegan, sodaan, dan perlengkapannya. Sedangkan ikannya, ilah jejatah babi, serta asap dupa harum. Setelah selesai itu semuanya diupacarakan, maka biarkanlah semalam, banten itu semuanya jejerang, sampai besoknya pagi-pagi.
9. Kuningna :
a. Pada redite wage, disebut pemaridan guru, pada hakekatnya ialah saat kembalinya para Dewata-Dewata semuanya, menuju kahyangan, jelasnya, bahwa para Dewata-Dewata pergi, dengan meninggalkan kesejahteraan panjang umur. Maka upacaranya :
ialah :
Menghaturkan ketipat banjotan, canang raka-raka, wangi-wangi, serta menikmati tirtha pebersihan.
b. Pada coma keliwon, disebutlah Pamacekan Agung. Pada sore harinya, patut melakukan segehan Agung dimuka halaman karang perumahan, dan memakai sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada sang Bhuta Galungan dan para abdinya agar pergi.
c. Buda paing kuningan ialah hari pemujaan Bhatara Wisnu, maka upacaranya ialah:
Sirih dikapuri, putih, hijau, dan pinang, 26, disertai tumpeng hitam serta runtutannya. Menurut kemampuan, dan dihaturkan kepada Bhatara di paibon, dan disertai pula bunga-bunga harum sebagaimana mestinya.
d. Pada hari saniscara kliwon kuningan, turunlah lagi para Dewata sekalian, serta sang dewa pitara (leluhur) untuk melakukan pensucian, lalu menikmati upacara bebanten, yakni :
Sege dan selanggi, tebog, serta raka-raka selengkapnya, pebersihan, canang wangi-wangi dan runtutannya, dan menggantungkan sawen tamiang dan gegantungan caniga, sampai pada tempat / kandang segala binatang ternak. Janganlah menghaturkan bebanten setelah lewat tengah hari, melainkan seyogyanyalah pada hari masih pagi-pagi, sebab kalau pada tengah hari, Dewa-Dewa telah kembali ke sorga.
Lain dari pada itu, yang patut dipakai mendoakan manusia :
Sesayut prayascita luwih, yaitu segejenar, ikannya itik putih, panyeneng, tetebus, yang gunanya untuk mohon kesucian pikiran, yang suci bersih, dan tidak putus-putusnya melakukan semadhi, juga diletakkan pasegehan di natar, yakni segehan Agung, 1.
10. Pahang :
Pada Hari Buda keliwon, disebut pegatwakan dan penjelasannya adalah, bahwa pada hari itu titik selesainya memusatkan renungan ngekeb pikiran bersemadhi, dalam hubungannya, bahwa sang wiku dan para orang-orang sekalian patut membathinkan renungan suci, mempersatukan ciptannya untuk mendapatkan kesadaran, dari mana asalnya kita pada mulanya, renungn mana disertai dengan upakara serba suci :
Wangi-wangi dan sesayut dirghayusa, dihaturkan kehadapan Hyang widhi Tunggal, upakara mana dilengkapi dengan penyeneng dan tetebus.
11. Merakih :
Sukra Umanis, adalah hari pemujaan Bhatara Rambut Sedana, dan beliau juga disebut Sang Hyang Rambut Kaphala, adapun upacara bebantennya :
Suci, daksina, pras, penek, ajuman, sodha putih kuning, dihaturkan kepada Sang Hyang rambut Sedana, keterangannya, ialah memuja melalui pralingga beliau, yang berujud perak, mas, wang, namun ditujukan kepada Sang Hyang Kamajaya (manifestasi Hyang Widhi yang memberi kenikmatan hidup).
12. Uye :
Uku Uye, yakni pada hari Saniscara keliwon, disebut Tumpek Kandang, hari pelaksanaan upacara kepada binatang-binatang, seperti binatang sembelihan / ternak, kalau untuk sapi, kerbau, gajah, dan sebagainya, upacara yang diberikan, adalah sebagai berikut :
Tumpeng, tebasan, paresikan, panyeneng, dan jerimpen.
Kalau unuk bawi :
Tumpeng, penyeneng, canang raka, -
Kalau untuk bawi betina :
Ketipat bekok, belayag bersama dengan segaaon.
Kalau untuk sebangsa burung, ayam, itik, angsa, kwir, perkutut, dan sebangsanya :
Ketipat sesuai dengan bentuknya, kalau untuk burung, ketipat paksi, kalau untuk ayam ; ketipat ayam, disertai dengan panyeneng, tetebus dan bunga-bungaan.
Keterangannya, ialah bahwa upacara itu, seperti mengupacarai manusia, dengan mengambil bentuk utamanya pada binatang, seperti burung, ikan, karena badan itulah umpama binatang, sedangkan jiwanya adalah Sang Hyang Rareangon ( Çiwa ).
13. Wayang :
Secara keseluruhan pada hari itu, adalah saat bertemunya Sang Wayang dengan Sang Sinta. Disebutlah bahwa wuku itu cemar, sehingga tidak dibenarkan kalau melakukan pensucian, berhias-hias, demikian juga bersisir, terutama pada hari Sukranya, karena berakibat ternodanya nilai diri.
a. Pada hari Sukra Wage, dinamai hari kala paksa, ( Ala paksa), yakni waktu karogan namanya. Oleh karena itu orang-orang sewajarnyalah melakukan pembatasan, (secara simbolis), dengan menggoreskan kapur, tepat pada dadanya (tapak dara). Dan mesesuwuk (menempatkan suatu tanda) dengan daun pandan berduri, bertempat dibawah dipan tempat tidur, (juga diruangan pintu). Pada esok paginya, semua sesuwuk pandan tsb, dikumpulkan dan bertempat pada sebuha nyiru ( sidi ), disertai segehan lalu buanglah didengen, yakni dimuka halaman keluar pekarangan. Dalam pada itu, perlu disertai ucapan dalam pembuangannya dengan sesapa yang bermaksud membuang kecemaran-kecemaran.
b. Menjelang hari Saniscara keliwon, adalah hari pemujaan pada Dewa Iswara, dengan prantara mengupacarai segala kesenian (baik yang bersifat sakral,maupun yang bersifat propan), yaitu : gong, gender, dan segala unen-unen lainnya. Adapaun bebanten untuk itu, ialah :
Suci, pras, ajengan, ikannya itik putih, sedah woh. Canang raka, dan pasucen selengkapnya.
Sedangkan widhiwidhana untuk manusia yang diibaratkan sebagai wayangnya Hyang Suksma, perlu diadakan pangastiti terhadap diri pribadinya, yakni :
Sesayut tumpeng Agung, 1, dan penyeneng.
Sebab badan kita itu, juga ibarat wayang, dan Sang Hyang Iswara ibarat dalang. Adapun pelaksanaannya, itulah ibarat gerak gerik dalam lakonnya. Jadi tidaklah berkenan ia dijadikan pengantar yadnya (apabila) tiada dilakukan pemujaan. Maka janganlah hendaknya orang tidak mau melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Iswara atau Sang Hyang Triwiradnyana (yang menjadi sumber gerak, kata-kata, dan pikiran). Jika dilanggar nerakalah jiwanya.
14. Watugunung :
Saniscara Umanis, adalah hari pujawali Bhatara Saraswati adapun upacaranya :
Suci, peras, daksina palinggih, kembang payas, kembang cane dan kembang biasa, sesayut saraswati, prangkatan )rantasan) putih kuning, serta raka-raka tidak terkecuali dengan runtutannya, Sang Hyang pustaka (Lontar-lontar keagamaan), tempat menuliskan Aksara, itulah yang patut diatur yang sebaik-baiknya, dipuja, dan diupacarai dengan puspa wangi : inilah yang disebut memuja Sang Hyang Bayu (gerak, kata-kata dan pikiran).
Pada umumnya waktu keadaan yang demikian (dalam memuja dengan bebanten), tidak wajar menulis surat, tak wajar membaca buku-buku weda, dan kidung kekawin, melakukan kewajarannya ialah melakukan yoga.
Komentar :
Saat melakukan yoga samadhi, bayu, sabda idep dipusatkan semuanya secara meditasi, maka itu tidak melakukan bacaan-bacaan/menulis. Setelah saat-saat tsb, dalam rangka merayakan memeriahkan, pada nantinya tidak merupakan halangan mengadakan pembacaan-pembacaan dengan tujuan yang baik, antara lain memperdalam dan menghayati intisarinya.
15. SINTA
Pada hari Redite paing pagi-pagi, disebut Banyupinaruh, saat melakukan penyucian , yakni membersihkan diri kebeji (permandian), kemudian mensucikan diri dengan mempercikan air kumkuman. Kemudian lanjutkan dengan menghaturkan lelabaan pada Bhatara-Bhatara di Sanggar masing-masing yaitu:
Sege/punjung pradnyan jenar (gading), dan jejamu serba harum, yang dihayap oleh masing-masing.
16. PANCAWARA KLIWON
Dan pada hari Pancawara, yakni setiap datangnya hari Kliwon, adalah saat beryoganya Bhatara Çiwa, sepatutnya pada saat yang demikian, melakukan pensucian dengan menghaturkan wangi-wangi bertempat di Merajan, dan diatas tempat tidur, sedangkan yang patut disuguhkan dihalaman rumah, halaman Merajan dan pintu keluar masuk pekarangan rumah, ialah segehan kepel dua kepel menjadi satu tanding, dan setiap tempat tersebut diatas, disuguhkan tiga tanding yakni :
a. dihalaman Sanggar, kepada Sang Bhuta Bhucari
b. di Dengen, kepada Sang Durgha Bhucari
c. untuk dihalaman rumah, kepada Sang Kala Bhucari
adapun maksud memberikan laba setiap hari Kliwon, ialah untuk menjaga, agar pekarangan serta keluarga semuanya mendapat perlindungan dan menjadi sempurna.
17. BYAHTARA KLIWON :
Lain lagi, pada hari Kajeng Kliwon, pelaksanaan Widhi Widhananya, seperti halnya pada hari kliwon juga, hanya tambahannnya dengan segehan warna limang tanding. Yang disuguhkan pada samping kori sebelah atasnya, ialah :
Canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, dna yang dipuja ialah Hyang Durghadewi.
Yang disuguhkan dibawahnya (segehan seperti tersebut diatas), untuk Sang Dhurga Bhucari, Kala Bhucari, Bhuta Bhucari, yang maksudnya berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah. Sebab kalau tidak dilakukan demikian, maka Sang Kala Tiga Bhucari akan memohon lelugrahan kepada Bhatara Durgha Dewi, untuk merusak penghuni rumah, dengan jalan mengadakan gering/penyakit dan mengundang para blek megik (pengiwa-pengiwa), segala merana-merana, mengadakan pemalsuan-pemalsuan, yang merajalela dirumah-rumah, yang mana mengakibatkan perginya para Dewata semuanya, dan akan memberi kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sang Hyang Kala ber-sama-sama dengan abdi Bhatara Durgha. Demikianlah maka sadarlah, dan jangan menentang pada petunjuk kami.
18. SAPTAWARA + PANCAWARA
Adalah lain lagi, harapan kami kepada anda sekalian, maka perhatikanlah, Sahdan pada hari Anggara Kasih, keterangannya, adalah suatu saat untuk mewujudkan cinta kasih terhadap dirinya. Maka pada hari tersebut, sepatutnyalah untuk peleburan bencana, dan meraut dari diri segala kecemaran, terutama kecemaran pikiran yang melekat pada diri. Caranya, ialah dengan jalan renungan suci. Sebab dalam keadaan yang demikian, saat Hyang Ludra melakukan yoga, yang bertujuan memusnahkan kecemaran dunia. Maka pelaksanaan widiwidananya, ialah menghaturkan wangi-wangi, dupa astangi, dan lanjut matirtha pembersihan.
19. BUDHA KLIWON
Buda Klion, saat Pensucian Sang Hyang, yakni ngastuti Hyang Nirmala, Jati dan Widhiwidananya :
Canang yasa, dan wnagi-wangi, menghaturkan kembang payas pada atas tempat tidur, dan di sanggar.
Tata pelaksanaan itu, dengan memuja untuk keselamatan Trimandala, yakni : yang pertamanya ialah keselamatan badan sendiri, yang kedua ialah sanak keluarga seketurunan dan yang ketiga, ialah keselamatan Negara.
20. BUDHA WAGE
Budha Wage, Budha cemeng namanya, keterangannya ialah, mewujudkan inti hakekat kesucian pailiran, yakni putusnya sifat-sifat kenafsuan, itulah yoga dari Bhatari dari Manik galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara amrta ( inti hakekat kehidupan ), diluar ruang lingkup dunia skala.
Maka patut melakukakan widhiwidana dengan :
Wangi-wangi, memuja disanggar dan diatas tempat tidur serta menghaturkan kepada Sang Hyang Çri, lalu melakukan renungan suci pada malam harinya.
21. SANISCARA KLIWON :
Hari Saniscara Kliwon, disebutkan hari puncak rahmat yang diberikan kepada manusia, karenanya janganlah lupa memuja Sang Hyang maha Wisesa (Tuhan Yang Maha Esa), janganlah menjauhkan diri, terlebih-lebih janganlah memisahkan diri, sebab hari itu adalah turunnya sukreta dari Sang Hyang Anta Wisesa (Tuhan Yang dalam manifestasinya memberikan rahmat kehidupan terus menerus ) kepada dunia semuanya. Adapun cara memujanya, adalah sebagai biasa, yakni :
Pada malam hari, tidak pantas mengambil kerja (jasmaniah), melainkan berdiam dirilah, sambil mengheningkan cipta sesuci-sucinya, dan memusatkan perhatian kepada Sang Hyang Dharma, serta kesadaran jiwa menyeluruh, teringat adanya.
Janganlah orang yang telah menyadari falsafah ini tidak meyakini dan sampai-sampai menentang kebenaran ini, sebab menyebabkan tidak mencapai keselamatan dalam segala tindakannya. Mengapa demikian, ialah karena orang demikian, tidak melakukan kebenaran, sehingga dapat disamakan dengan binatang, hanya perbedaannya ( pada orang demikian ), memakan nasi, kalau orang-orang suci ( wiku ), tidak menuruti keyakinan itu, maka bukanlah wiku, sebagai titisan Sang Hyang Dharma.
22. CANDRA GRAHANA :
Disebutkan lagi, yakni pada saat datangnya bulan gerhana, cahaya bulan diterkam oleh Rawu, demikianlah ceritanya, karenanya disebutkan prawesa ( tenggelam ) karena bertemunya Sanghyang Surya. Dalam keadaan yang demikian, sepatutnyalah para rohaniawan semuanya melakukan pujaan seperlunya, yakni upacara bulan kepaangan, dengan maksud kesempurnaan kembali Sang Hyang Wulan, serta bebantennya :
Canang wangi-wangi dan raka-raka, dan bubur biaung serta penek putih kuning secukupnya dan puspa wangi.
Penjelasan pelaksanannya sbb :
Diluar orang-orang yang membathinkan kesucian, melakukan renugan suci dengan membacakan isi buku-buku keagamaan dan ceritra-ceritra suci, lain dari pada itu, bertempat di halaman rumah, patut dilakukan pujaan kepada Sang Hyang Surya Candra. Setelah itu sebulan lamanya, akibat terlibatnya Sang Hyang candra, maka tidak diberikan kepada mereka melakukan kerja agama angayu-ayu memuja para Dewa, Bhuta, Pitara, singkatnya segala karya tak boleh.
23. SURYA GRAHANA :
Pada waktu Surya Graha keterangannnya ialah Sang Hyang Surya berwujud mrtha, karenanya dipangan oleh Sang Kala Rawu, Oleh karenanya, Hyang Paramawisesa melibatkan dunia terkena pengaruh kecemaran, setahun lamanya tidak diperkenankan melakukan segala yadnya angayu-ayu.
Adapun tata cara pelaksanaannya sama juga dengan pelaksanaan Candra Graha. Demikianlah.
24. PURNAMA KAPAT :
Inilah lagi suatu ucapan dari Çundarigama, yang boleh dipakai oleh Catur Warna, yakni : Brahma, Ksatrya, Wesya, Sudra supaya dapat mencapai keselamatan seluruh kawitannya seperti sedia kala, sebagai berikut :
Pada waktu Purnama kapat, itulah saat beryoganya Sang Hyang Çiwa, dan para Dewata semuanya. Maka para pendeta patut melakukan pamujaan memasang / memakai busana kependitaan sebagai mana msetinya, serta melakukan tata cara Candra Sewana, demikian pula melakukan sembahyang dengan menghaturkan Tarpana kehadapan Kawitan, bebantennya :
Canang genten, lenge wangi, burat wangi, dan pebersihan sedapat-dapatnya.
Adapun kehadapan Sang Hyang Wulan, menghaturkan :
Tumpeng kuning, ikannya ayam putih siungan, dan prayascita lwih, lengkap dengan pebersihan.
Sedangkan para pelindung (pamong-pamong ), serta para cendakiawan semuanya, pada malam harinya, patutlah memohon kehadapan Hyang Widhi, untuk mana kita dianugrahi keselamatan, kepada Ratu Dalem, patut melakukan sembahan :
Canang lenge wangi dan canang genten.
Kepada Bhatara kawitan di Sanggar, menghaturkan bebanten sedapat-dapatnya, demikian juga diatas tempat tidur, yakni :
Banten dedari satu dulang, yang bertujuan untuk melebur segala kecemaran –kecemaran dan halangan-halangan pada diri.
25. TILEM KEWULU.
Pada Sasih Kewulu itulah dunia disebut kemasukan Bhuta Kala, karenanya orang yang melaksanakan Agama semuanya patut bersucikan pikiran, supaya dunia tidak kekosongan. Ketika tilem Kewulu itu, umat Agama (Hindu) semuanya memuja Sang Hyang, dengan bebanten :
Sesayut ketipat sirikan, menurut neptu hari, ikannya palem udang, sayur talas, daun cabai bun, dun gamongan, daun kencur, kacang ijo, semuanya diurab, serta daun / putik daun dap-dap, (delundung) juga menurut neptu hari, sambal gente, untu-untu juga disertai jagung, talas, tebu, semuanya direbus, raka-raka, woh-wohan, buni, sentul, salak, serta tetebus tadah pawitra.
BAB. III
RANGKUMAN.
Untuk memudahkan melihat hari-hari yang patut untuk melaksanakan Widhi Widhana sebagaimana yang diutarakan, dibawah ini dibuat rangkuman sesingkat mungkin sbb, :
1. PURNAMA KAPAT :
BEBANTEN 2
a). Kepada Bhatara kawitan : Tarpana sarwa pawitan.
b). Kepada Sang Hyang Wulan, dipelinggih di Sanggar :
penek kuning, ikannya ayam putih siungan, prayascita lwih, reresik.
c). Kepada Bhuta Kala, dinatar Sanggar, segehan agung sebuah.
d). Malam harinya melakukan renungan suci.
2. TILEM KAPAT :
Mugpug/memusnahkan kecemaran-kecemaran diri.
BEBANTEN 2
a). Kepada bhatara di parhyangan : wangi-wangi dan runtutannya.
b). Diatas tempat tidur kepada Hyang Widyadari : wangi-wangi dan sesayut widyadari.
3. PRAWANINING TILEM KEPITU PANAKLUK MRANA :
BEBANTEN 2.
a). Di tepi laut dan semacam itu :
4. TILEM KAWULU RESI GANA :
a). Di parhyangan wangi-wangi sesayut ketipat sirikan, ikannya palem udang, menurut neptu hari, sayur-sayuran dan buah-buahan, serta tetebus tadah pawitra.
5. SASIH KESANGA SESUCEN DEWATA KABEH :
A. Panglong ping 13 Melasti.
a). Kepada Hyang Baruna ditepi laut (dan semacamnya) : sodaan, rarapan, pasucian selengkapnya, dan samleh ayam hitam.
b). Pratima ditempatkan dipahyasan (bale agung) laksanakan banten datengan dan runtutannya.
B. Panglong ping 14 Ambhuta Yadnya.
a). Untuk rumah tangga, pekarangan, segehan manca warna 9 tanding, ikannya ayam brumbun yang diolah.
Segehan Agung sebuah, dan segehan sasah 108 tanding.
Tempat upacara, dimuka pintu pekarangan keluar masuk rumah. Yang dihayat : Bhuta raja, kala raja, bhuta Kala, Kala Bala. Senja hari mgerupuk, serana semburkan meswi dan obor.
b). untuk penghuni keluarga.
Sesayut pamyakala, sesayut lara malaradan, prayascita.
C. TILEM KESANGA.
Anyepi. Amati geni, renungan suci.
6. PURNAMA KEDASA :
Pujawali Hyang Sunia Amerta.
BEBANTEN 2.
a). Di Parhyangan.
Suci 1, daksina 1, ajuman adandanan, rayunan aparangkat 1, ikannya serba suci, wangi-wangi, reresik.
b). Dinatar / sor.
Segehan Agung 1, segehan sasah 6, ikannya bawang jahe.
c). Untuk manusia.
Prayascita lwih, panyeneng teenan.
7. SETIAP HARI TILEM HYANG SURYA BERYOGA/SETIAP HARI PURNAMA,
SANG HYANG CANDRA BERYOGA.
BEBANTEN 2.
a). Di Parhyangan.
Wangi-wangi, canang biasa.
b). untuk diri, mohon serta pensucian.
8. UKU SINTA.
A. COMA RIBEK. Sesucen Hyang Çriamrta.
BEBANTEN-BEBANTEN
a). Di Pulu, lumbung, dsb.
Nyah-nyah, geti-geti, grinsing, raka pisang mas, wangi-wangi.
13. SABUH MAS (SELASA), sesucen Hyang Mahadewa.
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Untuk harta benda dsb. : Suci 1, daksina 1, peras penyeneng, sesayut sari, canang lenga wangi, burat wangi, reresik.
b) Tempat di Piasan, setelah selesai menghayat, lalu diri masing-masing mohon tirtha.
C. PAGERWESI (BUDHA KLIWON) YOGAN HYANG PRAMESTI GURU
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Di Sanggah Kemulan : daksina, suci, pras, penyeneng, sesayut, pancalingga, penek ajunan, rake-rake, wangi-wangi.
b) Untuk diri : sesayut pageh urip, prayascita, dan pada malam harinya melakukan renungan suci
c) Untuk panca Bhuta : segehan warna, anut uripin panca desa, (lima arah) tempatnya di natar Sanggah, ditambah sebuah segehan Agung.
9. UKUN LANDEP SANISCARA KLIWON
Pujawali Bhatara Çiwa dan yoga dari Hyang Pasupati
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Hyang Çiwa : tumpeng putih kuning adandanan, ikannnya menurut kemampuan, grih trasi bang, sedan woh 28, tempatnya di Sanggar.
b) Kepada Hyang Pasupati : sesayut jayeng prang, sesayut kesuma yuda, suci, daksina, pras, canang wangi-wangi, reresik dihayatkan kepada senjata-senjata tajam, dan memuja Hyang Pasupati.
10. UKIR REDITE UMANIS
Pujawali Bhatara Guru
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Bhatara Guru, pengambean, sedah ingapon 25, kwangen 8, tempatnya di Sanggah Kemulan.
11. KULANTIR ANGARA KASIH
Pujawali Bhatara Mahadewa
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Bhatara Mahadewa : segehan kuning sepangkon, ikannya ayam putih siungan betutu, sedah woh 22, ingapon. Tempat di Sanggar.
12. WARIGA SANISCARA KLIWON
Pujawali Sang Hyang Sangkara
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Diayatkan untuk tumbuh-tumbuhan, pras, tulung, sesayut, tumpeng bubur, tumpeng agung, ikannya guling babi, (boleh itik), raka-raka, penyeneng, tetebus, sesayut cakragni.
13. WARIGADEAN COMA PAING
Pujawali Bhatara Brahma
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Untuk Hyang di Sanggar : sedah woh, selengkapnya, puspa wangi dan runtutannya. Tempat di Paibon.
14. SUNGSUNG WRASPATI WAGE
Patirtan Bhatara di Sanggah
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Kepada Bhatara-bhatara di Sanggar
Banten rerebon jangkep, reresik, wangi-wangi
b) Untuk keluarga : sesayut 1, dan tutwan
c) Bagi rohaniawan : malamnya mengadakan renungan suci
15. DUNGULAN
Pujawali Hyang Tiga Wisesa
BEBANTEN-BEBANTEN
a) Redite Paing : pangekeban, melakukan renungan suci
b) Coma pon : Penyajaan, melakukan renungan suci.
c) Anggara Wage : Penempahan caru dirumah tangga.
Dinatar = segehan warna tiga, berjejer, ikannya olah-olahan, segehan Agung 1,
Dinatar sanggar = segehan warna tiga, berjejer, ikannya olah-olahan, yang dihayat : Sang Bhuta Galungan.
d) Budha kliwon Galungan.
Bebanten disanggar. Tumpeng payas, wangi-wangi, sesucen.
Bebanten di balai-balai :
Tumpeng pengambian, jrimpen pajegan, sodan, ikannya jejatah babi gorengan.
Lain dari pada itu disemua bangun-bangunan, juga dilaksanakan penghayatan dengan bebanten seperlunya,
e) Wraspati Umanis Galungan.
Persiapan-persiapan : Pagi menÇri air kumkuman.
Banten di sanggar : wangi-wangi, asep, dupa, mohon tirta pakuluhnya ring Galungan.
Banten di natar Sanggah : segehan sekedarnya.
16. KUNINGAN
BEBANTEN 2,
a) Redite Wage / Pemaridan Guru.
Ketipat banjotan, canang raka, wangi-wangi, tirta pabersihan. Tempatnya Sanggah kemulan.
b) Budha Paing.
Pujawalin Bhatara Wisnu.
Sedah ingapon, putih hijau, pinang 26, tumpeng (nasi) hitam, dan runtutannya seberapa mampu membuat.
Tempat memuja di paibon.
c) Sukra Wage.
Hanya penting melakukan renuangan suci.
d) Saniscara kliwon.
Tumpek kuningan.
Di Sanggah : sega selanggi, tebog, raka-raka, pasucian. (tamyang, caniga, paa pembangunan).
Untuk manusia : sesayut prayascita lwih, punjung kuning, ikannnya itik putih, penyeneng, tetebus.
Untuk dinatar pekarangan : segehan Agung sebagai biasa. Menghayat hanya dilakukan sebelum Jam 12 siang.
17. PAANG PEGAT WAKAN.
BEBANTEN 2.
Wangi-wangi dan pasucen.
Tempatmnya di parhyangan-parhyangan.
18. MERAKIH PUJAWALIN BHATARA RAMBUT SEDANA.
BEBANTEN
a) Sukra Umanis : Suci, daksina, pras penek ajuman, soda putih kuning. Memuja Hyang kamajaya.
Tempatnya : dimana menyimpan harta kekayaan.
19. UYE / TUMPEK KANDANG.
Mengupakarai binatang ternak.
BEBANTEN 2.
Banten disanggar : suci, peras, daksina, panyeneng, canang lenga wangi,. Burat wangi, pasicen, yang dihayat Sanghyang Rareangon.
Banten untuk ternak jantan.
Tumpeng, sesayut 1, panyeneng, reresik, Jrimpen, canang raka.
Banten untuk ternak betina.
Seperti juga ternak jantan hanya ditambah ketipat belekok blayag, pesor.
Banten bagi ternak bangsa burung.
Ketipat paksi, ketipat sidha purna, bagia, penyeneng, tetebus kembang payas.
20. WAYANG.
BEBANTEN 2.
a) Sukra Wage, kalapasa : sasuwuk dengan daun pandan berisi kapur, segehan, asep, (api takep).
b) Saniscara Kliwon Tumpek Wayang : pujawalin Bhatara Iswara, untuk unen-unen. Suci, peras, ajengan, ikannya itik putih sedah woh, canang raka, pasucen.
Untuk manusia : sesayut tumpeng Agung 1, prayascita, panyeneng.
21. WATUGUNUNG.
BEBANTEN 2.
a) Saniscara Umanis Pujawalin Bhatara Saraswati.
Suci, peras, daksina, pelinggih, kembang payas, kembang cane, kembang biasa, sesayut saraswati, prangkatan putih kuning, raka-raka, wangi-wangi, tempat menghayat : Lontar-lontar dan lain-lain.
b) Redite paing Sinta : Banyu Pinaruh
Bebanten 2
Di Sanggar, sege (punjung nasi pradungan kuning), jejamu serba harum mohon tirtan pensucian.
22. PANCA WARA KLIWON YOGYANYA BHATARA ÇIWA
BEBANTEN 2.
a) Pada pelinggih di Merajan wangi wangi, asep dupa harum.
b) Pada natar Sanggah untuk Sang Bhuta Bhucari segehan kepel 2 kepel, menjadi satu tanding dihaturkan 3 tanding.
c) Pada natar pekarangan untuk Sang Kala Bhucari sama dengan dinatar Sanggah
d) De Dengen, antuk Sang Durga Bucari sama dengan di natar Sanggah dan pekarangan rumah.
23. KAJENG KLIWON.
BEBANTEN 2.
a) Sama dengan hari kliwon.
b) Yang di Dengen bertambah segehan warna lima tanding, dan tabuh.
c) Disamping lawang diatas, banten canang wangi, burat wangi, canang yasa, hayat Sang Hyang Dhurgadewi.

Waktu

Matahari memerah di ufuk timur
garang menyengat di ubun-ubun
redup memerah saga di barat

Cerah suasana langit Bali
Mendung tebal
Rintik hujan
atau banjir yang ganas

suasana jiwa
bergolak semangat membara
bahagia, tenang dan sukaria
Termangu, sedih dan berduka

mendapat anugrah berlimpah
atau kehilangan sebuah kesempatan
adakah yang bisa mengatur?
tidak kamu
tidak dia
tidak mereka
apalagi aku

karena waktu jadi ratu
karena waktu jadi baku
karena waktu jadi haru
karena waktu jadi satu

karena waktu ada padamu, dia, mereka dan aku


(Giriya Gunung Payangan, 31 Mei 2013)