Kamis, 28 Maret 2013

CARU CARU / TAWUR



CARU / TAWUR

TAWUR/CARU sebagai korban orang yang punya caru\, sebagai penebus hukuman orang yg berdosa ataupun pertanda buruk, malapetaka, dan isyarat yang kurang baik (Kala Tattwa)

Jenis-jenis caru :
1.       Caru Eka Sata
2.       Caru Panca Sata
3.       Caru Rsi Ghana
4.       Caru Penolak Mrana/ Gering Tempur
5.       Caru Panca Sanak Madurgha
6.       Caru Bhuta Yadnya Medana-dana/ Gempong Asu
7.       Caru Panca Sanak Agung
8.       Caru Panca Wali Krama
9.       Caru Panca Kelud
10.     Caru Walik Sumpah
11.      Caru Tawur Gentuh
12.     Caru Tawur Agung
13.     Tawur Eka Dasa Rudra





I. 
CARU EKA SATA

Jenis-jenis caru eka sata :

a.       Caru ayam brumbun/Pengruwak  (berwarna putih-merah-kuning-hitam)
b.      Caru Dengen ( menggunakan ayam putih nulus
c.       Caru Preta ( menggunakan ayam biying atau bulunya merah )
d.      Caru Ananta Kusuma ( menggunakan ayam putih siyungan atau bulunya putih namun paruh dan kakinya kekuning-kuningan
e.      Caru Bicaruka ( menggunakan ayam ireng mulus )

Penggunaannya :
1.       Menyertai Piodalan
2.       Perombakan suatu tempat/hutan
3.       Pembongkaran atau peletakan batu pertama untuk suatu bangunan suci
4.       Permulaan menggunakan suatu bangunan seperti rumah, bale, banjar, pura dll

Tetandingannya ;

Tahap 1. Mempersiapkan Olahan ayam

1.       Sebelum menyembelih binatang korban untuk caru/tawur, didahului dengan mantra :
“ Om pasu pasa ya wihmane sira ceda ya dimahi, tanne jiwah pracodaya”
Artinya, Om Hyang Widhi Wasa, hamba menyembelih hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.

2.       Hewan tersebut dikuliti (dalam keadaan kering/jangan diseduh dg air panas) sehingga kepala. Sayap, kaki dan ekornya masih melekat dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya ( dibuat blulang ayam/walung malayang-layang)

3.       Dagingnya diolah menjadi :
-          Urab-uraban antara lain : urab barak, urab putih, gegecok
-          Berbagai jenis sate, antaralain : lembat, asem, dan calon
Ketiga jenis sate dan urab-uraban disebut Trinayaka yaitu symbol jasmani binatang tersebut yang aksaranya Ang, Ung, Mang.

4.        Dari hasil urab-uraban dan sate tersebut diatur menjadi beberapa tetandingan, yaitu ;

a.       Karangan
Alasnya        :               sebuah taledan
Isinya  : urab barak, urab putih, sate lembat 2 buah, sate  asem 2 bh, sate calon 2 bh, lalu dilengkapi dengan nasi sokan, berisi lekesan.
Sampyan     :  sampyan nagasari


b.      Kawisan
Alasnya        :   sebuah taledan
Isinya          :   urab barak, urab putih, sate lembat 2 bh, sate asem 2 buah, sate calon 2 buah, lalu dilengkapi dengan nasi pangkonan (setengah bundar dg dialasi daun ), berisi lekesan.
Sampyan     :   canang genten



c.       Bayuhan
Alasnya          :  sebuah taledan
Isinya            :   urab-uraban, sate tiap jenis 1 bh, dibuat tetandingannya sejumlah  urip pangideran, nasinya menggunakan tumpeng danan 2 bh dengan  warna dan jumlah set tumpeng danannya  sesuai urip pengideran , dilengkapi garam dan sambal serta raka-raka.
Sampyan     :  sampyan metangga/peras

d.      Ketengan
Alas                :  taledan kecil berisi tangkih sejumlah urip pengiderannya
Isinya            :    nasi sasah sesuai dengan warna pengidernya dilengkapi dengan urab-uraban dan sate tiap jenis 1 bh.
Sampyan     :        canang genten

Tahap 2. Tetandingan banten tambahan :

a.              Segehan cacahan.

Sejumlah urip dan warna pengideran, dengan menggunakan alas taledan, dilengkapi ulam bawang jahe dan garam serta adeng, diatas nya dilengkapi canang genten.

b.              Cau danan

Bentuk jejahitannya seperti kapu-kapu, dibuat bergandengan sejumlah urip pengiderannya, masing-masing berisi nasi sesuai warna arah, dilengkapi dengan kacang-saur dengan sebuah sampyan plaus

c.              Tulung sangkur

Alasnya ceper  berisi tulung sangkur sejumlah urip pengiderannya, berisi nasi  warna sesuai arah, dilengkapi dengan kacang-sauh, dilengkapi sampyan plaus  


d.              Takep-takepan

Takep-takepan berisi tatukon (base tampelan,beras,benang,uang kepeng) sejumlah urip pengiderannya


e.              Kalakat

Anyaman bamboo berbentuk bujursangkar sebagi alas layang-layang hewan korban

f.        Daun talujungan
Ujung daun pisang yang digunakan pada sanggah cucuk, dan sebuah lagi diatas kelakat sebagai alas layang-layang

f.               Sebuah kwangen

Yang berisi uang kepeng sesuai dengan jumlah urip pengiderannya

g.              Sanggah pesaksi Sanggah Surya

Dihias dengan tikar, candiga, gantung-gantungan serta diisi beberapa banten

h.              Sanggah cucuk

Dihias dengan janur pada pinggirnya secara berkeliling, lalu lamak, daun talunjungan, gantung-gantungan

i.               Sengkwi

Dianyam sejumlah urip pengiderannya, dipakai sebagai alas caru

j.               Kain berwarna

Warnanya sesui dengan pengiderannya, diletakkan diatas sanggah cucuk

k.              Tetimpug

Terdiri atas 3 ruas bambu utuh lalu diikat menjadi satu, yang diletakkan nantinya diatas dapur darurat (3 bh bata tersusun) lalu dibakar agar mengeluarkan suara letusan 3 kali


l.               Sapu

Sebagai alat pembersih

m.            Tulud

Sebagai alat untuk mendorong-dorong sisa sampah


Tahap 3. Tata cara Pengaturan Susunan Caru

1. Pada arah timur laut ditancapkan sanggah pasaksi, dimana hulunya menghadap timur laut. Hias dengan tikar, candiga, gantung-gantungan
Letakkan didalam sanggah beberapa banten yaitu; Suci, pejati
Letakkan di bawah pada depan sanggah berupa banten Gelar sanga

2. Di sebelah barat Sanggah Pasaksi ditancapkan sanggah cucuk yang sudah dihias dan dilengkapi dengan tikar kecil. Pada bawah sanggah cucuk digantungkan sujang atau cambeng berisi tetabuhan seperti arak, berem, tuak dan toya. Letakkan banten didalam sanggah cucuk antara lain : tumpeng danan, tadah sukla, canang lengawangi

3. Dibawah sanggah cucuk, pada natar/natah dipasang sengkwi memakai anyaman 8 sebagai jumlah urip tengah, diatasnya berturut-turut disusuni karangan, kawisan, bayuhan, ketengan, segehan cacahan, cau dandan, takep-takepan, tulung sangkur, kalakat sudamala dengan alas daun talujungan, laying-layang ayam brumbun, sebuah kwangen berisi uang sesari 8 kepeng dilengkapi nasi wong-wongan berwarna brumbun.

4. Disebelah-menyebelah diletakkan banten tumpeng yaitu :

Tumpeng putih 5 buah di timur
Tumpeng merah 9 buah diselatan
Tumpeng kuning 7 buah di barat
Tumpeng hitam  4 buah di utara
Dengan dilengkapi dengan rerasmen, raka-raka dan sampyan tumpeng

5. Pada bagian hulunya layang-layang diletakkan banten suci, daksina, peras
Sedangkan banten caru lainnya yang menyertai diletakkan pada sekelilingnya berupa : penyeneng, sorohan, sasayut pengambeyan, pangulapan, ajuman, tipat kelanan, sanggahurip, segehan agung

6. Didepan pemimpin upacara diletakkan tebasan durmenggala, pabersihan, tabuh-tabuh, dupa, tirta caru, tirta pabyakalan. Byakala dan prayascita diletakkan agak terpisah didepan pemimpin upacara

7. Tetimpug diletakkan ditempat yang agak aman dekat tempat upacara diatas dapur darurat



II. 
CARU PANCA SATA

Kekuatan perlindungan dari caru Panca Sata sesuai dengan penjelasan Kala Tattwa yaitu selama satu tumpek (35 hari) Perlengkapannya sama dengan caru eka sata namun dibuat 5 tanding dasar caru dimana warna dan jumlah segehan dllnya sesuai dengan pengidernya

Tata cara pengaturannya :

1. Pada arah timur laut ditancapkan sanggah pasaksi, dimana hulunya menghadap timur laut. Hias dengan tikar, candiga, gantung-gantungan
Letakkan didalam sanggah beberapa banten yaitu; Suci, pejati Letakkan dibawah pada depan sanggah berupa banten Gelar sanga

2.  Di sebelah barat Sanggah Pasaksi ditancapkan 5 buah sanggah cucuk yang sudah dihias dan dilengkapi dengan tikar kecil. Pada bawah sanggah cucuk digantungkan sujang atau cambeng berisi tetabuhan seperti arak, berem, tuak dan toya anyar Letakkan banten didalam sanggah cucuk antara lain : banten peras, tulung sayut, ajuman/soda

3. Dibawah masing-masing sanggah cucuk, pada natar/natah dipasang sengkwi memakai anyaman sebagai jumlah urip pengidernya, diatasnya berturut-turut disusuni karangan, kawisan, bayuhan, ketengan, segehan cacahan, cau dandan, takep-takepan, tulung sangkur, kalakat sudamala dengan alas daun talujungan, laying-layang ayam (dengan warna sesuai pengider-ider), sebuah kwangen berisi uang sesari sejumlah kepengnya sesuai urip pengider-ider  dilengkapi banten tumpeng dimana jumlah dan warna tumpeng sesuai dengan pengider-ider.

4.  Pada bagian hulunya layang-layang diletakkan banten suci, daksina, peras Sedangkan banten caru lainnya yang menyertai diletakkan pada sekelilingnya berupa : penyeneng, sorohan, sasayut pengambeyan, pangulapan, ajuman, tipat kelanan, sanggahurip, segehan agung

5. Didepan pemimpin upacara diletakkan tebasan durmenggala, pabersihan, tabuh-tabuh, dupa, tirta caru, tirta pabyakalan. Byakala dan prayascita diletakkan agak terpisah didepan pemimpin upacara

6.Tetimpug diletakkan ditempat yang agak aman dekat tempat upacara diatas dapur darurat








III.  
CARU RSI GHANA


Terdiri atas :

1.       Rsi Ghana Alit dimana masa perlindungannya 6 bulan
2.       Rsi Ghana Agung dimana masa perlindungannya 6 tahun

Digunakan bila didalam satu pekarangan mengalami:

a.       Salah satu keluarga mengalami salah pati atau ngulah pati
b.      Salah satu bangunan disambar petir
c.       Kemasukan orang gila
d.      Bangunannya kejatuhan pohon besar hingga cacat
e.      Kebanjiran atau dihanyutkan banjir besar
f.        Menjadi tempat orang mengamuk, perang, berkelahi
g.       Kebakaran
h.      Kemasukan binatang besar
i.         Kemasukan bhuta kala
j.        Suasana keluarga memanas dan keruh


A. Rsi Ghana Alit

Tata cara :

1.     Nanceb sanggah tuttwan

Upakaranya terdiri dari : suci, rantasan, uang sesari 1700 Pada depan natar atau halamannya merajah Padma astadala sebagai tempat Caru Rsi Ghana
Di dahului dengan membuat lubang ditanah lalu ditaburi tepung untuk membuat rerajahan Padma Asta Dala

Pada arah timur aksara sucinya Sa =
Pada  arah selatan aksara sucinya Ba =
Pada arah barat aksara sucinya Ta =
Pada arah utara aksara sucinya A =
Pada arah tenggara aksara sucinya Na =
Pada arah barat daya aksara sucinya Ma =
Pada arah barat laut aksara sucinya Si =
Pada arah timur laut aksara sucinya Wa =
Di madya atau tengah-tengah aksara sucinya Ya =

2.     Tetandingan Rsi Ghana

a.       Alasnya menggunakan tamas agak besar berisi nasi pangkonan 9 buah dialasi plawa / daun nagasari yang masing-masing berisi rerajahan aksara suci, sebagai berikut :
-          Plawa di timur dirajah Ong =
-          Plawa di selatan dirajah Ang =
-          Plawa di barat dirajah Reng =
-          Plawa di utara dirajah Si =
-          Plawa di tenggara dirajah Ga =
-          Plawa di barat daya dirajah Na =
-          Plawa di barat laut dirajah Ba =
-          Plawa di  timur laut dirajah Wa =
-          Plawa di tengah dirajah Ma =

b.      Lalu pada masing-masing nasi pengkonan ditancapi setangkai bunga teratai dan diberi ulam seekor itik/bebek putih yang diolah selengkapnya tanpa memakai sate / jajatah.

c.       Caru pada halaman/natar memakai caru Panca Sata Malayang-layang dengan masing-masing dialasi kelabang maikuh sesuai dengan urip dan warna pengider-ider
Kelengkapan caru lainnya yaitu : sesayut pengambyan, pangulapan, prayascita luwih, tumpeng agung maulam guling itik putih, daksina, dan kelimanya memakai uang sasari 5555, sebuah pane anyar berisi nasi ketengan sesuai jumlah urip pancawara Nasi pujungan masing-masing 1 bh.

d. Khusus untuk caru yang ditengah, dilengkapi suci 1 soroh, sesayut durmenggala, panca kelud, peminyak kala, pemangguh pamali

e.  Di sanggah Kemulan terdiri atas : suci 1 soroh selengkapnya

f.  Untuk pemimpin upacara : suci 1 sorog, penglukatan, peras lis, tatimpug yang nantinya jika sudah selesai upavcara harus ditananm di natar/halaman merajan

g. Kepada yang ngerajah natar, upakaranya berupa daksina dengan sesari 125
Kepada yang negrajah daun plawa/nagasari diberi daksina dengan sesari 77


B. RSI GHANA MADYA

Kegunaannya untuk pamarisudhaning karang panas dan sanggar atau tempat suci seperti Pura Kahyangan Tiga, Panggulan / empelan, tegalan serta sawah

Tata cara pengaturan :

a.  Mendirikan sanggar tutwan memakai penjor tiying gading berisi 2 kober rerajahan Ghana membawa bajra dan satu lagi Ghana membawa Gada, dilengkapi dengan daun beringin satu cabang ditempatkan diarah timur laut serta daunnya yang merajah Cakra ditempatkan didepan sanggar tuttwan. Upakaranya : suci 2 soroh lengkap, tumpeng adanan, peras, daksina berisi sesari 1700, canang lengawangi buratwangi.

b.  Pada natar atau halaman merajah padma asta dala, aksara suci rerajahannya :

c. Selanjutnya diletakkan caru Rsi Ghana berupa sega atau nasi pangkonan 9 buah dialasi tamas yang besar. Pada masing-masing nasi pangkonan dialasi daun nagasari  marajah aksara suci : Pada nasi masing-masing ditancapi bunga tunjung dengan ulamnya memakai seekor itik diolah lengkap tanpa sate / jajatah.

d.  Carunya menggunakan Caru Panca Sata ayam melayang-layang winangun urip dialasi sengkwi. (sama dengan susunan caru panca sata seperti diterangkan diatas)Upakaranya terdiri dari : tumpeng adandanan ditengah daksina gede berisi sesari 500, masing-masing dilengkapi dengan bayuhan, peras, penyeneng, sesayut pengambean. Untuk sanggah cucuk yang ditengah disertai suci 1 soroh, gelar sanga, nasi segau, tepung tawar, lis bebuu, tebasan prayascita luwih, durmenggala, prayascita, sebuah pane anyar, kukusan, dangdang, sibuh pepek, tatimpug, sujang masing-masing 4 bh dan pada sanggah cucuk berisi tuak, arak, berem, toya anyar.

e. Upakara pada tempat pemujaan : 1 soroh suci lengkap, sarana penglukatan, daksina berisi sesari 1.100.

f. Daksina sang ngerajah natar, uang sesarinya 125
Daksina sang ngerajah daun nagasari, uang sesarinya 100


C.RSI GHANA AGENG

Tata cara pengaturannya :

a.      Sama dengan Rsi Ghana Madya, carunya menggunakan caru Panca Sata Ayam melayang-layang ditambahkan dengan Caru Asu Bang Bungkem yang diletakkan ditengah-tengah caru Panca Sata.  Khusus pada caru asu bang bungkem melayang-layang harus dialasi dengan sengkwi maikuh. Olahan dagingnya dibuatkan urab barak-urab putih, sate lembat, sate asem, sate calon agung, dan ulam karangan.

Pengaturan tetandingannya  :
Sate lembat, sate asem  masing-masing 33 biji dijadikan 33 bayuhan lalu dijadikan 3 sengkwi, dilengkapi dengan ulam karangan 1, calon agung sesuai dengan jumlah urip pengiderannya. Nasi/sega 33 dan takep-takepan, lis, sanggahurip masing-masing. Canang brakat manca desa, rantasan 5 warna , sekar / bunga 5 warna, jun pere berisi toya anyar manca desa, alas-alasan, pasucian, isuh-isuh, nasi segau, tepung tawar, benang tetetbus, rarakih masing-masing

b. Pada tempat pemujaan untuk pemuput upacara : suci 1 soroh, penglukatan, samsam, bija kuning, soda, peras, lis, bebuu, nasi segau, tepung tawar, sesarik, alas-alasan, benang tetebus 5 warna

c.  Upakara di sanggar tutwan : daksina berisi uang sesari 5500,
peras , sesayut, pengambyan, prayascita luwih, nasi segau, tepung tawar, sebuah pane anyar, kukusan, pangedangan, sebuah sibuh pepek.





IV. 
CARU PENOLAK MRANA
ATAU GERING TEMPUR

Digunakan bila terjadi :

1.       Tertimpa reruntuhan pohon yang besar
2.       Kemasukan orang mengamuk
3.       Kemasukan gelap
4.       Terjadi kebakaran
5.       Segala jenis kekotoran atau kadurmenggalaan

Tata cara pengaturan :
·       Mendirikan sanggar tutwan
Upakaranya :
- Suci 2 soroh lengkap
- Tumpeng adandanan, rantasan saperadeg
-Tubungan putih 7 buah, tubungan ijo 7 buah dialasi limas
- Bungkak nyuh gading makasturi
- Canang daksina berisi sesari 1700

·       Di sor sanggah Surya
Upakaranya : Gelar sanga
·       Pada laapan atau asagan ,
                         Upakaranya:  babangkit asoroh maguling babi
·       Pada natar/halaman :
Upakaranya : Sebagai dasar menggunakan caru panca sata ayam manca warna lengkap. Tambahan untuk caru yang ditengah : suci asoroh jangkep, prayascita luwih, tebasan durmenggala, sasayut panca kelud, paminyak kala, pamangguh pamali, lis, sanggahurip, dilengkapi canang berkat masing-masing pada kelima tempat itu, rantasan manca warna serta sega manca warna.

Pada caru asu bangbungkem seganya 33 lengkap dengan takep-takep dan jun pere berisi toya untuk kelima tempat, berisi alas-alasan, pasucian, isuh-isuh, nasi segau, tepung tawar, tetebus dan rarakih
·       Pada tempat pemujaan ,
upakaranya :
- Suci 1 soroh
- Soda, peras
- Penglukatan, samsam, wija kuning, lis bebuu, segau, tepung tawar, sasarik, tetebus panca warna






V. 
CARU PANCA SANAK MADURGHA ATAU
CARU PANCA SANAK TAWUR MADIA

Digunakan pada :

- Kahyangan
- Pengulun setra
- Pura Dalem
Tata cara pengaturannya :

a. Sebagai dasarnya menggunakan caru Panca Sata selengkapnya
b. Untuk caru di tengah / madya dilengkapi dengan Bawi butuhan/kucit butuhan/babi jantan.
c. Caru ini tidak menggunakan bebangkit walaupun akan ngusaba di sawah
d. Caru ini dapat digunakan tetapi nasi caru pada amanca desa/lima tempat memakai sega punjungan 33 sesuai dengan warna pengideran kendatipun dipakai pada Padudusan Alit
e. Bila caru ini akan digunakan di desa-desa , harus memohon tirta pamuput caru di pura Dalem, Kahyangan Pengulun setra dan bila digunakan di sawah maka wajib memohon tirta pamuput caru di Pura Bedugul Pangulun Sawah





………oo0oo……..
Selesai dikumpulkan  Tanggal 1 Mei 2012
Oleh :
Ida Bagus Bajra
Asrama di Giriya Gunung Payangan Gianyar Bali
No Telepon (0361) 8621075. 081353099558





Senin, 07 Januari 2013

BABAD KAYU SELEM

BABAD KAYU SELEM
Transkrip kedalam Hurup Latin

Awalnya ditulis dan disusun oleh
Dang Hyang /Mpu Dwijendra Sakti Wawu Rawuh,
Sewaktu bersama Dalem Samprangan,
Dan Babad ini berasal dari Desa Songan Kintamani,

1. b. Om Awighnamastu Nama Swaha. Pewngaksamaning Hulun de Bhatar Hyang mami, singgih ta sira hyang Bhatara Pasupati, alungguh pwa sira ri Sunya taya, jumeneng ri Giri jambudwipa, tabe- tabe pwang ngulun, ya olih de Bhatar Kabeh,sang genlar Ongkarem ratna mantram, redayam masuci nirmalayam, Yogiswarem, sira anugraham, anawa kapurwa sang wus lepas. Luptakna ri  tulah Pamidhi de hyang mami, mwang wigrahanng mala pataka tan katamanna upadrawa de hyang mami, wastu,wastu,wastu paripurna anewakena ayu katekeng kula sagotra mwang sentana namastu Jagatdithaya.Hana Wak ring purwkala, hana maya sakti tar parryyangan, krura kara asyung dangastra  lungid tiksna angamah amah kadi traning Danawa, loba moho murka de premadeng ngahayu.
2. a. cinacad sarwa tatwang atita, ya ta wicirna binuru huta kantep rinuput nikang kasmana, umantuk ta yeng Cwarga stana. Pira ta kunang kala nira, mwata sira tinuduh de hyang anadma sinungraha sok maharda naraswari  pwa sira, ri wkasan, matangnya sinuksma ring tata kalapa, pinuter dening pedang, wus pinalira bhinresihan de sang  pretapaning tolangkir tinuduh de hyang Phacupati malinggih maring Bali rajya, maka panguluing ngagantun, anganti pujastawa ri nira, jumneng Ratu ring Bali rajya, bhiniseka Cri haji masula masuli, ther winiwaha pwa sira ring sang ari, tan lingen pwa kreta nikang sanagara, sawijil ira nguni.
Pira ta kunang kala nira, amukti anganti pujastawa ganti gumanti, gnepwa ri yoganta pada muksa sira tka ring antrelaya, nahan ikang tatwa ring usana.,Apica sarinincinira padhuka Bhatara hyang Pacupati maring ghiri Mahameru. Ndya kunang kasihana tumening Bhumi bali lawan seleparang, duk hyang kumalencong ,lwir jo satata marayengan Bali lawan Selaparang inguni mimitaning ring Bali. Hana gunung Catur ng, ghunung lokaphala, ring wetan gunung Lempuhyang, nga, ring Kidul gunung Andakasa, nga, ring Kulwan gunung Watukaru, nga, sama mwang ghunung Baratan, kuneng ring Lor Ghiri Mangu, nga, parek lawan gunung  Tulukbiyu ya matangnya ingande hyang ari Bhawana. Sadakala ginggung tang Bumi Bali matangnya  hyang Pasupati umupak parwa nikang Ghiri mahameru tinurunaken maring Bali Rajya, tkeng selaparang,
3. a. Ki Badawang Nala kinwan maka bhungkahing Ukir, mwang sang Naga Bhasukih maka banda nikang Ghiri, sang Naga taksaka umuteraken ghiri, tangeh yen katakna poahing amuti Ghiri. kalanya diwo, ka, wre,ka, pretitinya jati, kresna panca dasi sudira, cirna ulan isakya 00, ika mimitaning ukatang Bhumi Bali, rah, 0, teng, 0. nahan ikang carita. Arawas rawas ing kala, prapta pwa yusa nikang rat, ri sadintenya, Ciwa kawya wara, utamaning Tolu, candra sira titi cuklapaksa, arjuna witangsu, rudira parwwata, cirna diwosakya, cunya pandita, warsaning jagadya, bruwang udan madres sinnung riyut, madulur keplug, saha kilattatit, genter pater lindu tang anda Bhwana, rwa ulan lawasnya udan.
3.b. wkasanmakeplug ghiri hyang Tolangkir, umijil tang salodaka mangkana katatwanya i nguni //0//. Pira ta kunang tang kala, prapta sadintenya, siwakuje wara prangbakat, caca dararetu, suklapaksa, rah, 3, mastake witangsu, teng , 1, wesakanya, ghni Bhudara, tgesnya, 310, warsaning rat, Mangka mwah makeplug parwateng Tolangkir, umijil Bhatara Putrajaya, tumut Bhatari Dewi Danuh, aparyangan ring Ulun Danu, ng, Tampurhyang, kunang Bhatara hyang Putrajaya maring Bhasukih, maka panguluing Gelgel.Pinasihanira tumut Bhatara Brahma, abhiseka Hyang Ghnijaya, aparryangan pwa maring Ghunung Lempuhyang, mangkana tatwanya ring kuna, nihan iki rengon pidartanya,
4.a.Uni duking adan Bhatara Tiga umiba mareing Bali Rajya, Pangutus Bhatara Jagat Karana, ling Bhatara, kamung anaku hyang tiga, mahadewa, Ni Danuh, Ghnijaya, mangke, nora waneh anaku tumurun wontening Bali maka lingganing Bhumi, Apan tistis asamun tang pulina Bali, maka panembahaning rat kabeh, katkeng Jmah, mangka wakya Bhatara Kasuhun, angastungkara Bhatara tiga sajna hyang mami, dudu saking anwal ajna Bhatara, ndya dumehnya, pan karrya rarenak Bhatara, tuhu tan wruhing marggaha, ling Bhatara, anaku yang Tigga, aja walang hati, hulun anugrahanaku, Aapan kita anak maniranto, nikan anugrahangku, tarimakna aja cawuh, angastungkara Bhatara Tiga Sakti, adulur pngalpika apan wus inimpening tatwa Jnana, tangeh yan warnanen wua winastwa bhatara tigga,
4.b.    Sinuksma ring tata kalapa nuh gading, apan sor ring arnawa, cet dateng  mareng parryangan Bhasukih, ya hetunyan akayangan maring Bhasukih, nahan wijil ira Bhatara ing usana//00//. Kunang sira Bhatari Dewi Danu, tumuli aparyangan maringn Ulun Danu, maka Tampurhyang, Sira Bhatara hyang Ghnijaya, maring Lempuhyang akahyangan mangkana katatwanya//00//.Hana pwa ya wuwusan muwah, sutanira sang hyang Pasupati, dinurunaken wontening Bali, maka sinembah akening praja, mangiring Bhatara Putrajaya, abhiseka bhatara Tumuwuh, aparyangan maring Ghiri Watukaru, nga, Mwah Bhatara hyang manikkumayang, aparyangan maring Ghiri Bratan,nga, mwah apuspata  hyang manik Galang, aparhyangan ring Pejeng, nga, mwah Bhatara Tugu, aparhyangan maring Ghiri Andakasa, sama ayoga sadhi, tan popamarenes parhyangan ira Bhatara sowang-sowang, mangka pidartanya Bhatara mareng Kahyangan Bali, haywa Predo,  wus sinurat de ira Dwijendra wawu dateng, duking samprangan.//0//.
5.a. Apica pirang lawas ikang kala, prapta sadintenya, ciwa kuja, julung merik, sasadara, marga utara, badrawadhe, titi, pratwada sukla, cwanita, nagha bhumi, piprajadma, nagha ulan, witangsu, udani jagaditaya, payoga nira Bhatara Ghnijaya, pepareng hyang Bhatara Mahadewa, mwah ginggung tang bhuwana, makeplug ghiri hyang ing tolangkir, awtu balabar Ghni, ya hetunyan hana inaran Lwah, Mbah Ghni, tinwaken mangke//0//.
5.b.       Kunang mwah payoganira hyang Ghnijaya, umijil saking Pancabayu astawa, tumuli mijil Suta, Laki-laki Listuayu parripurna, kunang sawijil ira, sama aklasa rwaning Gdang kaikik, kang Panwa apuspata sira Sang Brahmana Pandita, Kang Pemade, abhiseka Mpu Mahameru, mwah kang waruju apasajna sira Mpu Ghana, kunang sang ing wkas apuspata sira Mpu Kuturan, mwah sang ari akakasih sira Mpu Pradah., pinih alit, wiku sangkaning lare, sama angambeken kaparamartan, tlas uamntuking mahameru, anangunaken smadi draka, tangeh yan ucapakna, ning  kata sakareng, apan wus langgeng ing Yogha,//0//. Wasitakna mwah payoganira Bhatara Hyang Mahdewa ing parcwaning ghiri Tolangkir,umijil putra saking rwa Bhineda, 2, siki Jalwistri, kang laki abhiseka Bhatara Ghana, arinira stri akakasih Bhatari Manik Gheni, tan pengan paripurna ring ngahayu, kumon de Bhatara amantuking Ghiri Semeru, ayoga semadi ngstiti hyang Pramesti Guru.
6.a. pira kunang warsa nikang loka, wus putus yasanira maring semeru, irika Bhatari Hyang manik Ghni ingalap rabhi, de sang apanlah sang Brahmana Pandita, Ri sampuning atmu tangan, sang Brahmana Pandita lawan Bhatari Manik Ghni, nher ginanti kang puspata, mangko apuspata Mpu Ghnijaya,nga, memperbhiseka Bhatara kasuhun, mangka katatwanya ring usana.//0// Apica Bhatara Putrajaya mwang Bhatara Catur Purusa, i parwaning Tolangkir, nora waneh pwa pagonitanira sawetaning tistis asamun tang Bali pulina.
6.b.      tan hananing manusa loka, tan hananing sumungsunga kahyangane maring Bali, ya dumehnya Bhatara Putrajaya, pepareng bhatara hyang Ghnijaya, mwang Bhatar Catur Purusa kahyangan ing Bali, uamntuk mareng yawajambudwipa, umedek Bhatara hyang pacupati. Kalungang –lungan lampah ir, tan katakna sireng ngawam, cet prapta mareng Ghiri Yambudwipa, Laju pwa sira umdek Bhatara, ngadpada adlur pangalpika tuminggal sira paduka Bhatara Hyang Mahasuci, tinakwanaken ri sang kanya dateng, ling sang hyang, anakning hulun, kamung putarjaya, mwang Ghnijaya, lawan sanakta sadaya, ndya marmanta, kaya pranagata angugah kahananing hulun mareangke lwir asmu rudita, yan pindaning yogya pidinen sira manira, umatur bhatara kahyangan ing bali, adulur panjayajaya mwang pangalpika.
7.a.    Ling ira, sajna paduka Bhatara, nimitaning ranak paduka bhatara pramecwara, dateng umdek jeng Bhatara tan waneh pwa wetning dahating tistis asamun wontening bali bangsul, norahaning manusa loka sumungsunga ranakda Bhatara, singgih yen pindaning oneng, maka nguni sinanmata bahtara, agya paduka bahatar anugraha aagwya manusa didinya hana sumungsungakena punang kahyangan ing Bali, mangkana ngasembahningpwang hulun sadaya, sumawur paduka Bhatara Pacupati, adulur pasnjaya-jaya, wakhyang Cunyajna tirtam, sanmata stute paranam, dharmacca para crayanta, sidrastu namostute. Anakning hulun yan mangkana aja walang hati, bapanta tan tumangetekang,nihan
anugrahahing hulun tarima, wastu, 3, tan pariwastu sidi ajnana, pareng lan sanakta, ludra, tatwa brahma, icwara, wisnu, mahadewa, nging antekna ramanta  rumuhun, agya wontening bali, angastungkara bhatara putrajaya, papareng bhatara hyang ghnijaya, mwang bhatara catur purusa, angaturaken santi panjayajaya, adulur pangalpika, humung lwir sadpadha angisep sari, mangka yan pangopama. nher tumuli amwit umantukeng bali, tebe yan wuwus, tan katakneng hawan, cet prapta maring bali, apan padha mahawan hyum, tumurun pwa mareng bhasakih, tan lingeng suka ning ajnananira. apan wus kasinanmathan, sidaning don, umantuk padha bhatara maring kahyanganira sowang sowang, nenghakna ring bali kamantyan //0// paramecwaran wasita, umaran madhya balya. :
8.a. ngan, dharppe dewacca paranam bhacwaram maha pawitram. Uwusan tumurun ira bhatara hyang pramesti ghuru, maring bali rajya, tunut sang watek dewathe kabeh, mwang resi ghana, dewasangga, sahananing maring cwargga, tias umiring bhatara maring bhali, kunang bhatara pamecwara tansah alunggwing padma manikanglayang, sahapayung amarapit, mwang tunggul umbul umbul, humung cwara ning genta, mwang panjayajaya, saha.puspa warsa, ring digantara, rengreng ring di kwidhik, adulur klepung, kunang bhatara waneh padha adudwaduwa tungganganira, apan padha dharppa humiring bhatara, munggwing tawang, tangeh yan wuwusan, cet prapta maring tolangkir, sinungsung de bhatara putrajaya, mwang bhatara ghnijaya, nguniweh bhatara catur purusa saha dulur pangalpika, pangastungkara, jayajaya ganda krtam, sinawu
8.b.raning wus pawartha, sampun apupul maring kahyangan tolangkir, ling ira bhatara hyang pramesti ghuru, anaku kamung hyang dewa dewatha kabeh, mangko den preyoggakna, di dinyan agya sida angaji manusa sinukama tkeng hulun kabeh, sawur manuk sang watek dewa dewatha kabeh, amiring ajna bhatara, pada sinuksma prelina sumusup ring ciwa gharbha, ling bhatara, kamung anaku icwara kita mungguhing kulit, hyang brahma munggwing otot, yhang wisnu mungguhing daging, hyang mahadewa mungguhing sumsum kunang sira kalih, sangkara ludra, mungguh i pa bwahan, wkasa sampun sama   ayogga, draka, angarep anakira, ghni sakunda, lwirnya nimitaning dadi jadma, nora waneh sira ning hyang bhacundari,
9. a. Yamadipati, asarira sona ireng, tan maryya angirang irang ipayoggan batara, prapta anadukara umatur, ling ira nihan, singgih yang bhatara, mangke padhuka bhatara hyum angaji manusa, den lemeh iku, nga, mangke hulun pramasa sah, masa adadi manusa, yan tuhu iku dadi manusa, hulun sumanggupaken amangan purisyaning manusa, sumawar bhatara, mapa lingan bargawa tka precampah, agung sanggupta, tkeng aku, mangke hingwang abasa malam kita, yan dadi ikang manusa, dhudhu ngwang dewa ninga dewa, wnang lebokakna ring aweci, tangeh ten carita padha akedwakedhwan ujan, irika nher padhuka hyang pramesti guru, rumegepaken sandining ajnana, dhumilah punang kunda, awor kukus, wkasan sampun pwa angeka muka, tandwa punggel tang manusa reka, irika :
9. b. macakal tekang asu, acwara kongkong, mwah bhatara ayogga, mwah punggel tang manusa reka, manih tang sona anakal, swaranya kongkongkong, mwah bhatara ayogga, mwah punggel tang     reka, tan marya tang sona anakal, swaranya kingking, tngeranya anitir, awyatara bhatara ngeka manusa, ping, 5, tinher punggel punang jadma reka, tandwa kaherang herang bhtara sirang ajnana, apan alah denikang asu, nher bhatara mwah angtokaken sidi ajnana rumawak ikang triloka, dumilah tang kundeghni, ginggung tang pretiwi mandala, umijil sang hyang amrtta siwamba, bhyakta waluya dadi manusa, irika kawagan punang sona, awngis tumoning manusa, ling bhatara hyang pramesti ghuru, mengke bhyakta alah kita wagrah, kengetaken ujarta
10. a. nguni, wastu, 3, tan pari wastu, katkeng dlaha, punang sona amangan purisyaning manusa, mingista erang erang punang sambuka, nedaksamakna, tan tinanggapan, ya hotuyan amwit malih, tansah asuweng tangis, anesel pula kreti, ndah waluya mwah sahyang yamadipati, tan warneng hawan, prapta yamandiloka, irika hyang yama mojer, ring sawateking cikrabala makabehan, maka muka ring kang ngaran i bhuta kalika, apa ling ira, udhuhkamu kalika, mwang kita kingkarabala, sadaya, kita kinon aku, turun ring madhyaloka, sumendi ingsun, amangan puri syaning manusa, urun tumurun, katkeng wartamana jugga, ndya dumahnyan mangka, apan i ngulun alah atohtohan, lawan bhatara acintya suci, ya matanggyyanora wa :........... bersambung